Minim Peralatan, Penjaga Bendung Sekka-Sekka Bertaruh Nyawa Agar Air Lancar Mengalir
Penulis / Redaksi:
admin
Rabu, 1 Mei 2019 22:53 WITA
2,423 tayangan
3 menit baca
MAPILLI,- Bendung merupakan bangunan yang dibangun di dalam air, berfungsi menampung air sungai kemudian dialirkan melalui jaringan sesuai peruntukannya. Keberhasilan bendung dalam menjalankan fungsinya, tidak terlepas dari keberadaan para penjaga bendung yang disebut Petugas Operasional Bendung (POB).
Walau terlihat sederhana, tidak jarang pekerjaan para penjaga bendung ini harus dilakukan dengan bertaruh nyawa. Seperti yang terlihat di Bendung Sekka-Sekka, Desa Kurma, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Rabu pagi (01/05/19).
Bagaimana tidak, tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan, sejumlah pria terlihat bekerja keras menyingkiran kayu berukuran besar, yang terbawa arus dari hulu sungai hingga akhirnya terkumpul dan menumpuk di depan pintu air.
Bermodalkan seutas tali tambang sebagai tempat untuk berpegangan untuk mengokohkan pijakan kaki di atas kayu, mereka yang berstatus tenaga kontrak ini seolah bersabung nyawa melaksanakan tugas dan tanggung jawab, agar keberadaan tumpukan kayu di depan pintu, tidak merusak dan mengganggu kelancaran distribusi air pada jaringan yang telah ada.
Sejumlah pria bertubuh kekar ini harus bekerja sangat hati-hati agar tidak terjatuh, karena lengah sedikit mereka bisa terjerembab ke dalam bendung yang memiliki kedalaman belasan meter, atau terjepit diantara kayu yang terbawa aliran air berarus deras, yang rawan merenggut nyawa mereka masing-masing.
“ Mau bagaimana lagi, peralatan yang ada cuman tali, kita tidak turun salah karena sudah tanggung jawab, yah, kita hati-hati saja “ keluh salah satu petugas Fadly Ardiansyah, Sp, kepada wartawan.
Pria yang biasa disapa Andy ini megaku, dalam menjalankan tugas, para penjaga bendung ini memerlukan peralatan yang lebih memadai, apalagi tidak jarang saat masuk ke dalam air untuk membersihkan tumpukan kayu di depan pintu air, mereka kerap berhadapan dengan binatang berbahaya seperti ular dan buaya, hingga bangkai sapi dan kambing, “ Itu sebabanya, kenapa kami sangat mengharapkan diberikan fasilitas yang lebih memadai untuk menjalankan tugas, karena pekerjaan yang kami lakukan ini sangat beresiko dan tanpa asuransi “ sambungnya menjelaskan.
Bersama petugas lainnya, Andy mengaku telah berulangkali mengajukan usulan agar dilengkapi peralatan lebih kerja yang lebih memadai serta menunjang keselamatan, namun nyatanya sampai sekarang tak satupun usulan tersebut yang terealisasi, “ Kemarin kami minta perahu karet, hadrnest, helm, carbiner, dan lain-lain, tapi sampai sekarang satupun belum ada yang dipenuhi, padahal ini penting “ beber pria yang hobby bermotor trail ini.
Andy bersama 11 orang petugas lainnya sangat berharap, harapan mereka untuk mendapat perlengkapan kerja yang lebih aman untuk keselamatan, mendapat perhatian dari pemerintah, apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini, hampir setiap hari mereka harus masuk ke dalam bendung, membersihkan tumpukan kayu yang menumpuk di depan pintu air. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
