Kisah Marianus, Warga Polman yang 'Akrab' dengan Kamar Jenazah
Penulis / Redaksi:
admin
Kamis, 26 Mei 2022 07:21 WITA
717 tayangan
3 menit baca
BEKERJA sebagai petugas kamar jenazah atau pulasaran tidak semua orang bisa menjalaninya. Apalagi, sewaktu-waktu harus bertugas pula memandikan, mengkafani sampai penguburan jenazah yang tidak jelas keluarganya. Salah satu yang melakoni pekerjaan itu adalah Marianus, petugas kamar jenazah RSUD Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.
Pekerjaan mengurus jenazah dijalani Marianus sejak menjadi tenaga sukarela RSUD sebagai petugas kamar jenazah sejak sepuluh bulan lalu. Walau gajinya hanya Rp1,5 Juta perbulan, ia sudah akrab dengan kamar jenazah sebagai fokus pekerjaannya dan melaksanakan tugas dengan baik. Termasuk memperlakukan jenazah sesuai prosedur, dan "menemani" jenazah selama masih berada dalam ruang pemulasaran. Pria 54 tahun itu, sebelumnya bekerja sebagai tukang becak.
"Selama bertugas di sini, saya berusaha akrab dengan tempat bekerja (kamar jenazah) untuk mengerjakan tugas dengan baik (sebagai petugas kamar jenazah). Meperlakukan jenazah sesuai aturan, termasuk dijaga selama berada dalam kamar pemulasaran," tuturnya, disela kesibukannya di gedung pemulasaran jenazah RSUD Polewali, beberapa hari lalu.
Warga Lingkungan Koppe, Kelurahan Madatte itu mengaku selalu berupaya memperlakukan jenazah dengan baik. Ia menyadari semua orang akan mati dan berharap diperlakukan dengan baik saat meninggal.
"Bagi saya sebagai petugas kamar jenazah, sudah merupakan prinsip untuk memperlakukan dengan baik semua jenazah. Tidak melihat atau membedakan jenazahnya siapa, karena kita harus mengingat pada akhirnya akan mati. Semua berharap diperlakukan dengan baik," tutur pria yang hingga kini masih jomblo.
Marianus bertugas sebagai penjaga kamar jenazah RSUD Polewali bersama lima temannya. Tiga orang PNS, dua orang lainnya berstatus tenaga sukarela juga. Mereka bekerja secara bergiliran (sistem shif) tiga kali dalam 24 jam. Satu orang bertugas mulai pukul 07:00 pagi sampai 14:00 siang, digantikan yang bertugas dari pukul 14:00 - 21:00 malam. Dilanjutkan penggantinya mulai pukul 21:00 sampai pagi.
Selama bertugas sebagai penjaga kamar jenazah, tamatan SMEA Negeri Polewali itu mengatakan biasa-biasa saja. Tidak pernah dihinggapi rasa takut dan semacamnya, atau membayangkan yang aneh-aneh. Apalagi melihat atau merasakan sesuatu, seperti yang kerap menjadi cerita masyarakat dan membuat merinding bulu roma. Pun saat sendirian dalam kamar jenazah pada malam hari.
Tapi, menurut Marianus, ada temannya beberapa kali merasakan hal aneh atau kelainan saat berada dalam kamar jenazah, pada malam hari maupun siang. Kerap juga terjadi saat kamar jenazah sedang kosong, tapi seolah ada orang lain berjalan mondar-mandir di sekitarnya, padahal ia hanya sendiri dalam kamar. Atau seperti mendengar suara orang menangis, meraung-raung, menahan rasa sakit. Mendengar cerita tersebut, bulu roma seketika merinding.
"Kalau saya sendiri biasa saja, tidak pernah ada aneh-aneh. Jadi tidak pernah merasa takut atau bagaimana. Tapi teman di sini biasa cerita ada yang aneh-aneh dilihat atau dirasakan saat jaga malam," ungkap Marianus. Tapi, katanya, semua sudah terbiasa dengan yang aneh-aneh.
Mengenai pekerjaannya, sebagai petugas kamar jenazah tidak hanya mengurus jenazah pasien yang meninggal wajar. Mengurus jenazah orang yang meninggal tidak wajar juga, seperti korban kecelakaan lalu lintas atau kasus kriminal yang mengalami luka parah dan meninggal tidak lama setelah tiba di RS. Sehingga langsung dibawa ke kamar jenazah.
Pernah juga menangani jenazah korban yang hanyut di sungai dan ditemukan setelah pencarian berhari-hari. Tiba di RS, kondisinya hampir tinggal tulang dan tengkorak. Belum lagi mayat orang yang tidak dikenal, ditangani di kamar jenazah sesuai prosedur. Dimandikan, dikafani, disholati oleh ustaz dan petugas RS, selanjutnya dikuburkan kerjasama Dinas Sosial dan Kepolisian.
Menghubungi ambulans juga diurusi Marianus dan kawan-kawan setiap menerima pemberi tahuan ada pasien meninggal, baik di kamar perawatan atau yang masih di IGD. Intinya, setiap ada pasien meninggal, Marianus dan kawan-kawan sebagai petugas kamar jenazah harus sigap mengerjakan tugas yang berkaitan dengan jenazah.
Khusus jenazah nonmuslim, misalnya Nasrani, Marianus sendiri yang memandikan, menyintikan formalin, sampai memasangkan pakaian sebelum diambil keluarganya untuk dimakamkan. (m danial)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.
