"Ada ungkapan bahwa setiap zaman ada generasinya dan setiap generasi ada zamannya. Namun menurut saya, ungkapan itu tidak sepenuhnya berlaku dalam perjalanan telekomunikasi Indonesia," kata Mustari dalam keterangannya, Sabtu (27/06/2026).
Pameran komik karya Muhammad Misrad atau yang dikenal sebagai Mice Cartoon itu dibuka di Teras Rumede, Jalan Ratulangi, Kecamatan Polewali, Jumat malam (26/6). Acara pembukaan dilakukan oleh Asisten III Setda Polman I Nengah Tri Sumadana.
Pameran yang berlangsung hingga 6 Juli 2026 ini menyajikan perjalanan sejarah telekomunikasi Indonesia melalui media komik yang komunikatif, edukatif, dan menghibur. Kegiatan tersebut juga dihadiri berbagai kalangan, mulai dari komunitas seni, literasi, pemuda, seniman rupa, kartunis, fotografer, hingga pemerhati budaya.
Mustari menilai pameran ini mampu menjadi jembatan antargenerasi. Generasi X, kata dia, dapat bernostalgia dengan pengalaman menggunakan telepon rumah, telepon umum, hingga wartel, sekaligus melihat bagaimana perkembangan teknologi membawa masyarakat memasuki era gawai pintar, internet, dan media sosial yang akrab dengan Generasi Z.
"Hingga hari ini Generasi X masih dapat mengenang pengalaman menggunakan telepon rumah, telepon koin, hingga wartel. Pada saat yang sama mereka juga mampu beradaptasi dengan gawai pintar, internet, dan media sosial yang menjadi ciri Generasi Z," ujarnya.
Menurut Mustari, pameran semacam ini memiliki nilai edukasi yang tinggi, terutama bagi generasi muda yang tidak mengalami secara langsung keterbatasan akses komunikasi pada masa lalu."Generasi Z dapat memahami bahwa dahulu berkomunikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, perangkat yang terbatas, bahkan harus datang ke wartel atau menggunakan telepon umum. Kini, berkat perkembangan teknologi satelit dan digital, komunikasi menjadi sangat cepat, mudah, dan tanpa batas," jelasnya.
Di balik kemajuan tersebut, Mustari mengingatkan pentingnya menjaga kualitas hubungan antarmanusia. Dia menilai perkembangan teknologi komunikasi tidak boleh mengurangi interaksi sosial di lingkungan keluarga maupun masyarakat."Teknologi memang mendekatkan yang jauh, tetapi jangan sampai menjauhkan yang dekat. Kita sering melihat dalam satu rumah, setiap anggota keluarga sibuk berkomunikasi melalui media sosial dengan teman-temannya masing-masing, tetapi lupa menyapa orang yang berada di sampingnya. Karena itu saya sangat sepakat dengan pesan pameran ini tentang pentingnya tetap terhubung sekaligus tersambung secara emosional dengan orang-orang terdekat," tuturnya.
Dia pun berharap pameran komik tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi sarana literasi yang memperkaya pemahaman masyarakat mengenai sejarah perkembangan telekomunikasi serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya transformasi digital.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog yang menghadirkan Muhammad Ridwan Alimuddin, Muhammad Misrad (Mice Cartoon), dan Adi Arwan Alimin, dengan moderator Irwan Ayamsir. Diskusi tersebut mengulas sejarah perkembangan telekomunikasi di Indonesia, proses kreatif pembuatan komik, serta peran seni visual sebagai media edukasi dan literasi bagi masyarakat. (rls)
