Kamis, 5 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Jenderal Hoegeng, Polisi Sederhana dan Anti Sogok

Penulis / Redaksi: admin
Minggu, 13 November 2022 17:36 WITA 258 tayangan 3 menit baca
Jenderal Hoegeng, Polisi Sederhana dan Anti Sogok
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosok - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
Gaya hidup mewah yang dipertontonkan oknum anggota Polri mendapat banyak sorotan belakangan ini. Karena itulah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyerukan jajarannya untuk hidup sederhana. Sosok mantan Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso adalah contoh polisi yang sederhana, jujur, dan anti sogok. Jenderal Hoegeng terkenal sebagai polisi yang berani dan paling jujur di Indonesia. Ia menduduki jabatan sebagai Kapolri dari tahun 1968 sampai 1971, saat banyak pejabat Indonesia memanfatkan kesempatan memperkaya diri dengan jalan korupsi. Namun Jenderal Hoegeng tidak terpengaruh sedikitpun. Kesederhaan dan kejujuran merupakan jati dirinya. Keberanian dan ketegasannya tanpa pandang bulu memberantas korupsi dan praktik suap terhadap pejabat, membuatnya sangat disegani. Namun merupakan juga salah satu Kapolri yang paling singkat menduduki jabatan tersebut. Dipensiunkan lebih awal. Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memuji kejujuran Jenderal Hoegeng. Gus Dur pernah dengan nada guyon tapi serius mengatakan bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Yaitu polisi patung, polisi tidur, dan polisi Hoegeng. Jenderal Hoegeng diangkat menjadi Kapolri pada 5 Mei 1968. Dikutip dari berbagai sumber, selama masa jabatannya sebagai orang pertama di Kepolisian RI, pria kelahiran 14 Oktober 1921 itu membuat banyak terobosan. Selain pembenahan organisasi Kepolisian RI, juga membongkar sejumlah kasus besar yang melibatkan "orang besar" pada masa itu. Jenderal Hoegeng tidak pernah merasa gentar sedikitpun pada siapapun yang berada di belakang kasus-kasus besar yang ditangani. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. "Kita tidak usah gentar menghadapi orang-orang gede siapapun, kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun keluarga sendiri, kalau salah harus ditindak sesuai ketentuan hukum yang harus kita tegakan," katanya. Kasus besar dan menggemparkan yang ditangani, antara lain pemerkosaan seorang penjual telur bernama Sumarijem yang diduga pelakunya anak-anak petinggi di Yogyakarta. Ironisnya, korban pemerkosaan dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Nuansa rekayasa dalam kasus tersebut, terbaca karena persidangannya digelar tertutup. Bahkan, wartawan yang menulis berita yang dikenal dengan Kasus Sum Kuning harus berurusan dengan tentara Kodim 096 Yogyakarta. Jenderal Hoegeng pun bertindak membongkar kasus tersebut. Kasus lainnya, penyelundupan puluhan mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh pengusaha Robby Tjahyadi. Pengusaha tersebut merasa "kuat" karena mendapat jaminan dari pejabat dan pihak tertentu sampai kasusnya dihentikan oleh Kejaksaan. Ketika Jenderal Hoegeng bertindak, Robby Tjahyadi tak berkutik. Pejabat yang terbukti menerima sogokan ditahan. Rumor yang berkembang, Jenderal Hoegeng dipensiunkan dari Jabatan Kapolri pada 2 Oktober 1971 saat usianya baru 49 tahun. Rumor yang berkembang, Jenderal Hoegeng dipensiunkan karena membongkar kasus yang diketahui melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI (saat itu). Presiden Soeharto menawarkan jabatan kepada Hoegeng menjadi Duta Besar di negara Eropa. Hoegeng menolak dengan alasan ia seorang polisi. Bukan politisi. Karena kesederhanaan, kejujuran dan anti sogok, Jenderal Hoegeng sampai pensiun tidak memiliki rumah pribadi, kendaraan atau barang mewah. Rumah tempat tinggalnya setelah pensiun adalah pemberian dari Kapolri yang menggantikannya sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Hoegeng menempati rumah itu bersama keluarganya, setelah seluruh barang inventaris di dalamnya dikeluarkan dan dikembalikan kepada negara. Sebuah mobil Kingswood yang menjadi tunggangan satu-satunya milik Hoegeng, merupakan hasil patungan beberapa Kapolda. Pensiun dengan pangkat Jenderal Polisi, Hoegeng tidak bisa berharap banyak dari uang pensiun (kala itu) hanya Rp10.000 perbulan. Itupun, hanya Rp7.500 yang diterima. Hoegeng pun kembali menekuni kegemaran melukis sejak masih muda, dan menjual hasil lukisannya untuk menutupi biaya hidup bersama keluarganya. (emdanial)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman