IRT di Polman Resah, Harga Cabai Rawit ikut Melonjak
Penulis / Redaksi:
admin
Rabu, 9 Februari 2022 15:17 WITA
474 tayangan
2 menit baca
WONOMULYO,- Para ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat diliputi keresahan. Pasalnya harga cabai rawit ikut meroket, disaat harga minyak goreng kemasan masih mahal dan sulit didapatkan.
“Harga cabai rawit naik. Kemarin tiga puluh ribu (per kilogram), sekarang naik jadi empat puluh lima sampai lima puluh ribu rupiah,”ungkap salah satu IRT, Martuti saat dijumpai wartawan di Kompleks Pasar Induk Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Rabu siang (09/02/2022).
Martuti mengaku, kenaikan harga cabai rawit tersebut membuatnya bingung mengatur biaya kebutuhan rumah tangga. Karena terjadi, saat harga minyak goreng kemasan juga masih mahal dan sulit didapatkan.
“Sekarang ibu-ibu banyak susahnya, soalnya harga pada naik. Minyak goreng yang katanya harganya sudah turun, tapi susah didapat, bahkan kadang masih mahal,”tandasnya sambil tertawa.
Salah satu pedagang di pasar ini, Hajja Hasrianti menyebut kenaikan harga cabai rawit disebabkan cuaca buruk, sehingga pasokan dari petani menjadi berkurang.
“Penyebabnya, karena tidak ada pasokan dari atas (petani). Biasanya pasokan tiga kali dalam seminggu, ini sudah seminggu tidak ada yang masuk. Makanya naik,”bebernya.
Terkait harga minyak goreng kemasan yang masih tinggi, Hasrianti mengakui jika kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang di daerah ini memilih gulung tikar. Sebabnya, banyak pedagang yang tidak sanggup melayani permintaan konsumen untuk menjual minyak goreng, seusai harga baru yang telah ditetapkan pemerintah.
“Warga selalu anggap murah minyak. Mereka tidak mau beli begini (karena mahal), akhirnya banyak yang berhenti jual minyak, karena harga modal tidak dapat sesuai permintaan warga,”pungkas Hasrianti.
Berdasarkan pantauan wartawan, minyak goreng kemasan di pasar ini masih dijual seharga dua puluh dua ribu rupiah per liter. Hampir semua pedagang tidak lagi menjual minyak goreng kemasan yang diakui sulit didapatkan. Para pedagang hanya menawarkan minyak goreng curah, yang dijual seharga 30 ribu rupiah per botol untuk ukuran 1,5 liter.
Baik pedagang maupun warga berharap agar pemerintah lebih serius mengawasi distribusi barang kebutuhan. Khususnya minyak goreng kemasan yang semakin langka di pasaran. Jangan sampai, niat pemerintah menurunkan harga minyak untuk meringankan beban warga, justru menimbulkan gejolak yang menguntungkan pihak tertentu. (Thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.