Jumat, 6 November 2026 • 00:00:00 WITA
BREAKING NEWS
PACEKO.com
Menu Navigasi

Cerita Pasutri Perantau di Polman, Hidup Memprihatinkan Karena Tak ber-KTP

Penulis / Redaksi: admin
Selasa, 21 Desember 2021 21:42 WITA 512 tayangan 3 menit baca
Cerita Pasutri Perantau di Polman, Hidup Memprihatinkan Karena Tak ber-KTP
Foto ilustrasi / Dokumentasi Sosial - PACEKO.com PACEKO
Bagikan: Disalin!
POLEWALI,- Pasangan suami istri di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hidup memprihatinkan lantaran tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Keduanya merupakan perantau, dan telah puluhan tahun mengadu nasib di daerah ini. Kisah ini dijalani Agus Muliono (53 tahun) dan istrinya Natuti (42 tahun). Sejak lima tahun terakhir, Agus bersama istri dan anaknya bernama Yunita yang baru berusia dua tahun, tinggal pada salah satu kontrakan di Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo. Sehari-hari, Agus bersama istrinya bekerja sebagai pemulung rongsokan di sekitar wilayah Wonomulyo. Aktivitas memulung dilakukan bermodalkan sebuah gerobak usang. Tidak jarang, aktivitas memulung dilakukan sejak pagi hingga malam hari, dengan berjalan kaki menyusuri jalan sejauh belasan kilometer. Sang suami Agus bertugas mendorong gerobak sambil mengumpulkan rongsokan yang ditemukan di pinggir jalan, sementara Natuti bertugas menggendong Yunita karena enggan terpisah dari ayahnya. “Sudah lima tahun tinggal di Wonomulyo. Awalnya di Manding selama 16 tahun,”ungkap Agus kepada wartawan, yang dijumpai ketika beristirahat di pinggir jalan, Selasa siang (21/12/2021). Diakui Agus, awalnya ia bekerja sebagai penjual bakso keliling di daerah Manding, Kecamatan Polewali. Usaha bakso tersebut bangkrut, Agus memutuskan memboyong istrinya mencari peruntungan lain di Kecamatan Wonomulyo. “Karena bangkrut akhirnya saya pindah ke Wonomulyo. Namun karena ada corona, usaha bakso yang saya rintis di Wonomulyo, juga ikut bangkrut,”tutur Agus menceritakan kisahnya. Kesulitan hidup hidup yang dirasakan Agus bersama istri dan anaknya terasa semakin berat, lantaran bertahun-tahun tidak memiliki KTP. Kondisi tersebut membuat Agus kesulitan mendapatkan bantuan dari pemerintah, apalagi di tengah pandemi virus seperti sekarang. Agus mengaku, sejak merantau ke Polewali Mandar bersama istrinya, masih bertatus warga Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. KTP miliknya hilang ketika berpindah tempat tinggal dari Manding ke Wonomulyo. Kendati telah pernah mencoba mengajukan KTP baru sebagai warga Kabupaten Polewali Mandar, Agus mengaku terganjal persoalan administrasi. “Saya sudah pernah ke kantor Desa, tanyakan prosedur untuk mendapatkan KTP. Pak desanya sudah mau bantu, tapi katanya katanya saya harus cabut berkas dulu di dearah asal, makanya susah,”ujarnya. Agus mengaku tidak dapat berbuat banyak agar dapat pulang kampung untuk mengurus KTP miliknya yang hilang. Apalagi, penghasilannya sebagai pemulung sangat pas-pasan, bahkan terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Apalagi kalau harus beli ticket untuk pulang kampung agar dapat mengurus berkas perpindahan penduduk, itu sangat susah, saya tidak punya biaya untuk kembali ke kampung,”ucap Agus lirih. Senada dengan suaminya, sang istri Natuti mengaku, ketiadaan KTP sebagai salah satu syarat untuk menerima bantuan resmi dari pemerintah, membuat kondisi ekonomi keluarganya serba kesulitan. Diakui Natuti, tidak jarang harus menahan lapar karena ketiadaan beras. “Betul-betul pahit saya rasakan, terkadang tidak makan, popok anak habis ngutang juga tidak bisa, terpaksa dikasih popok kain,”kenang Natuti. Bahkan menurut Natuti, terkadang ia harus menjual apapun barang miliknya yang bernilai, asalkan bisa mendapat sedikit uang. “Terkadang kalau ada tabung di dapur itu yang saya jual. Kalau tabung sudah tidak ada, saya berusaha berbuat apa saja, yang penting halal dan bisa buat makan,”imbuhnya. Meski demikian, baik Agus maupun Natuti mengaku bersyukur, lantaran masih diberi kekuatan untuk bekerja walau sebata memulung. Terlebih, keduanya biasa mendapat perhatian dari warga yang peduli dengan kondisinya. “Bersyukur karena biasa ada yang kasih bantuan kalau lagi di jalan. Pokoknya yang terpenting saya tidak meminta-minta,”pungkas Natuti. Pasutri Agus dan Natuti berharap, mendapat jalan keluar atas kesulitan hidup yang mereka jalani karena tidak memiliki KTP. Apalagi keduanya mengaku, sudah merasa nyaman tinggal dan mencari nafkah di daerha ini, walau dengan penghasilan yang tidak seberapa. (Thaya)    
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
Telkomsel 5G Sulbar - Jaringan Internet Super Cepat & Kuota Melimpah
admin

Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.

Iklan Sponsor728 × 90 px (After-Article)
Pesona Wisata Mandar - Eksplorasi Budaya & Keindahan Bahari Polman