Rumah pasutri penderita tuna netra, Kunda dan Sukriani warga Desa Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.[/caption]
Diceritakan Kunda, perkenalan dengan Sukriani yang dipersuntingnya menjadi istri terjadi pada tahun 2014 lalu. Keduanya dipertemukan dalam kegiatan Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia).
“Ketemuanya saat ada kegiatan pertuni, saya sampaikan niat (untuk menikahi), dia (Sukriani) menjawab setuju kalau saya memang serius dan betul-betul menyayanginya,”imbuhnya sembari tersenyum.
Sementara itu, sang istri Sukriani mengungkapkan, pernikahan dengan Kunda akhirnya digelar setelah sebulan berkenalan. Meski begitu, hubungan keduanya sempat tidak mendapat restu keluarga.
“Keluarga sempat tidak merestui, mereka meragukan cari kami menjalani hidup bersama, dengan kondisi seperti sekarang ini,”tutur Sukriani menambahkan.
Berbekal cinta yang tulus serta keyakinan kepada Tuhan, Sukriani mengaku nekat mengabaikan nasehat keluarganya, hingga akhirnya menerima pinangan kunda Kunda sebagai pendamping hidupnya.
“Saya yakin Tuhan pasti memberi jalan, meski kondisi kami tidak sempurna seperti orang lain,”ujarnya meyakinkan.
Seiring berjalannya waktu, keduanya berupaya saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lainnya. Meski tidak dapat saling melihat, benih cinta dan rasa sayang keduanya terus tumbuh, menjadi penyemangat dan penerang jalan bagi keduanya, menjalani beratnya cobaan kehidupan dalam keterbatasan.
Diakui Sukriani, harapan mendapat keturunan pernah dirasakan saat usia pernikahannya memasuki satu tahun. Malang, anak dalam kandungannya meninggal saat usianya telah memasuki sembilan bulan.
“Beberapa tahun kemudian, saya kembali mengandung, namun lagi-lagi anaknya meninggal sebelum dilahirkan,”imbuh Sukriani lirih.
Meski harus menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan, Kunda dan Sukriani tidak pernah mengeluh apalagi berkecil hati. Dalam keterbatasan, keduanya tetap berupaya bekerja mencari nafkah sesuai kemampuan, agar dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus berharap belas kasih orang lain. Termasuk memelihara ayam yang kerap dijual demi mendapatkan sedikit rupiah.
“Pokoknya kerja apa saja yang penting halal, biasa saya bantu-bantu tetangga sebisanya, suami juga begitu, bahkan suami kerap mendapat panggilan untuk bernyanyi, walau upahnya tidak seberapa, paling tidak kami tetap berupaya,”ucap Sukriani meyakinkan.
Sukriani mengaku bersyukur, lantaran kerap mendapat perhatian tetangga. Bantuan sosial dari pemerintah diakui jarang diterima dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Walaupun bantuan dari pemerintah sangat sering tidak cukup, tapi syukur Alhamdulillah karena masih ada tetangga yang baik hati dan kerap membantu. Harapannya kelak bisa punya uang sebagai modal usaha,”pungkasnya. (Thaya) Cerita Pasutri Penderita ‘Tuna Netra’ di Polman Setia Jalani Hidup dalam Keterbatasan
Penulis / Redaksi:
admin
Senin, 26 September 2022 13:51 WITA
646 tayangan
4 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Pasangan pria dan wanita tampak sangat berhati-hati saat melangkahkan kaki. Seolah saling menjaga, keduanya terus bergandengan tangan melewati jalan kampung yang berkelok dan berbukit. Sang pria yang berada di depan, memegang sebuah tongkat, menjadi penuntun setiap langkah.
Pasangan ini bernama Kunda (57 tahun) dan Sukriani (39 tahun), warga Desa Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Keduanya merupakan pasangan suami istri (pasutri) berkebutuhan khusus, karena menderita kebutaan pada kedua mata alias tuna netra.
Sehari-hari, pasutri penyandang disabilitas ini tinggal di rumah panggung berukuran sekira 3 x 5 meter. Rumah berbahan semi permanen tersebut, dibangun secara swadaya warga setempat, dan berdiri di atas lahan milik orang lain.
“Awalnya tidak tinggal di sini, tapi karena yang punya tanah (lokasi rumah sebelumnya) meminta kami pindah, akhirnya ke sini, menempati lahan milik saudara,”kata Kunda kepada wartawan, Minggu (25/9/2022).
Menurut Kunda, kebutaan pada kedua matanya telah berlangsung lama dan tidak pernah mendapat pengobatan. Dirinya mengaku tidak mengingat, penyebab kedua matanya mengalami kebutaan.
“Saya tidak ingat kenapa bisa buta, soalnya sudah sangat lama, tapi orang tua pernah bilang, kalau waktu kecil saya bisa melihat, karena tidak ada biaya, kebutaan pada kedua mata saya tidak pernah diobati,”ungkapnya.
Kunda juga menyebut, sang istri Sukriani, pernah menjalani operasi. Meski begitu, penglihatan Sukriani belum berfungsi secara normal, lantaran operasi kedua urung dilanjutkan akibat ketiadaan biaya.
“Dulu dia (Sukriani) pernah menjalani operasi, sebelum menikah, dianjurkan jalani operasi kedua, tapi karena tidak ada biaya, operasi lanjutan tidak dilakukan, makanya sampai sekarang juga belum bisa melihat secara sempurna, seperti bayangan saja,”terangnya.
[caption id="attachment_19687" align="alignnone" width="640"]
Rumah pasutri penderita tuna netra, Kunda dan Sukriani warga Desa Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.[/caption]
Diceritakan Kunda, perkenalan dengan Sukriani yang dipersuntingnya menjadi istri terjadi pada tahun 2014 lalu. Keduanya dipertemukan dalam kegiatan Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia).
“Ketemuanya saat ada kegiatan pertuni, saya sampaikan niat (untuk menikahi), dia (Sukriani) menjawab setuju kalau saya memang serius dan betul-betul menyayanginya,”imbuhnya sembari tersenyum.
Sementara itu, sang istri Sukriani mengungkapkan, pernikahan dengan Kunda akhirnya digelar setelah sebulan berkenalan. Meski begitu, hubungan keduanya sempat tidak mendapat restu keluarga.
“Keluarga sempat tidak merestui, mereka meragukan cari kami menjalani hidup bersama, dengan kondisi seperti sekarang ini,”tutur Sukriani menambahkan.
Berbekal cinta yang tulus serta keyakinan kepada Tuhan, Sukriani mengaku nekat mengabaikan nasehat keluarganya, hingga akhirnya menerima pinangan kunda Kunda sebagai pendamping hidupnya.
“Saya yakin Tuhan pasti memberi jalan, meski kondisi kami tidak sempurna seperti orang lain,”ujarnya meyakinkan.
Seiring berjalannya waktu, keduanya berupaya saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lainnya. Meski tidak dapat saling melihat, benih cinta dan rasa sayang keduanya terus tumbuh, menjadi penyemangat dan penerang jalan bagi keduanya, menjalani beratnya cobaan kehidupan dalam keterbatasan.
Diakui Sukriani, harapan mendapat keturunan pernah dirasakan saat usia pernikahannya memasuki satu tahun. Malang, anak dalam kandungannya meninggal saat usianya telah memasuki sembilan bulan.
“Beberapa tahun kemudian, saya kembali mengandung, namun lagi-lagi anaknya meninggal sebelum dilahirkan,”imbuh Sukriani lirih.
Meski harus menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan, Kunda dan Sukriani tidak pernah mengeluh apalagi berkecil hati. Dalam keterbatasan, keduanya tetap berupaya bekerja mencari nafkah sesuai kemampuan, agar dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus berharap belas kasih orang lain. Termasuk memelihara ayam yang kerap dijual demi mendapatkan sedikit rupiah.
“Pokoknya kerja apa saja yang penting halal, biasa saya bantu-bantu tetangga sebisanya, suami juga begitu, bahkan suami kerap mendapat panggilan untuk bernyanyi, walau upahnya tidak seberapa, paling tidak kami tetap berupaya,”ucap Sukriani meyakinkan.
Sukriani mengaku bersyukur, lantaran kerap mendapat perhatian tetangga. Bantuan sosial dari pemerintah diakui jarang diterima dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Walaupun bantuan dari pemerintah sangat sering tidak cukup, tapi syukur Alhamdulillah karena masih ada tetangga yang baik hati dan kerap membantu. Harapannya kelak bisa punya uang sebagai modal usaha,”pungkasnya. (Thaya)
Rumah pasutri penderita tuna netra, Kunda dan Sukriani warga Desa Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.[/caption]
Diceritakan Kunda, perkenalan dengan Sukriani yang dipersuntingnya menjadi istri terjadi pada tahun 2014 lalu. Keduanya dipertemukan dalam kegiatan Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia).
“Ketemuanya saat ada kegiatan pertuni, saya sampaikan niat (untuk menikahi), dia (Sukriani) menjawab setuju kalau saya memang serius dan betul-betul menyayanginya,”imbuhnya sembari tersenyum.
Sementara itu, sang istri Sukriani mengungkapkan, pernikahan dengan Kunda akhirnya digelar setelah sebulan berkenalan. Meski begitu, hubungan keduanya sempat tidak mendapat restu keluarga.
“Keluarga sempat tidak merestui, mereka meragukan cari kami menjalani hidup bersama, dengan kondisi seperti sekarang ini,”tutur Sukriani menambahkan.
Berbekal cinta yang tulus serta keyakinan kepada Tuhan, Sukriani mengaku nekat mengabaikan nasehat keluarganya, hingga akhirnya menerima pinangan kunda Kunda sebagai pendamping hidupnya.
“Saya yakin Tuhan pasti memberi jalan, meski kondisi kami tidak sempurna seperti orang lain,”ujarnya meyakinkan.
Seiring berjalannya waktu, keduanya berupaya saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lainnya. Meski tidak dapat saling melihat, benih cinta dan rasa sayang keduanya terus tumbuh, menjadi penyemangat dan penerang jalan bagi keduanya, menjalani beratnya cobaan kehidupan dalam keterbatasan.
Diakui Sukriani, harapan mendapat keturunan pernah dirasakan saat usia pernikahannya memasuki satu tahun. Malang, anak dalam kandungannya meninggal saat usianya telah memasuki sembilan bulan.
“Beberapa tahun kemudian, saya kembali mengandung, namun lagi-lagi anaknya meninggal sebelum dilahirkan,”imbuh Sukriani lirih.
Meski harus menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan, Kunda dan Sukriani tidak pernah mengeluh apalagi berkecil hati. Dalam keterbatasan, keduanya tetap berupaya bekerja mencari nafkah sesuai kemampuan, agar dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus berharap belas kasih orang lain. Termasuk memelihara ayam yang kerap dijual demi mendapatkan sedikit rupiah.
“Pokoknya kerja apa saja yang penting halal, biasa saya bantu-bantu tetangga sebisanya, suami juga begitu, bahkan suami kerap mendapat panggilan untuk bernyanyi, walau upahnya tidak seberapa, paling tidak kami tetap berupaya,”ucap Sukriani meyakinkan.
Sukriani mengaku bersyukur, lantaran kerap mendapat perhatian tetangga. Bantuan sosial dari pemerintah diakui jarang diterima dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Walaupun bantuan dari pemerintah sangat sering tidak cukup, tapi syukur Alhamdulillah karena masih ada tetangga yang baik hati dan kerap membantu. Harapannya kelak bisa punya uang sebagai modal usaha,”pungkasnya. (Thaya) admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.