BWSS V Mamuju Turunkan 6 Mesin Pompa Selamatkan 794 Ha Sawah Kekeringan di Polman
Penulis / Redaksi:
admin
Kamis, 1 Oktober 2026 18:32 WITA
137 tayangan
3 menit baca
POLEWALI MANDAR,- Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) V Mamuju menurunkan enam mesin pompa air di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), untuk menyelamatkan 794 hektare (Ha) areal persawahan yang terdampak kekeringan. Langkah taktis tersebut dilakukan menyusul penurunan debit air akibat kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di daerah ini.
“Mesin poma ini kami turunkan untuk menyelamatkan areal persawahan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang,” kata Satker OP SDA BWSS V Mamuju, Dr. Ir. H. Muhammad, SE, ST, MT dalam keterangannya, Kamis (01/10/2026).
Areal persawahan yang terdampak kekeringan tersebut tersebar di sejumlah desa di Kabupaten Polman. Luasan lahan terdampak paling besar berada di Desa Dakka dengan luas mencapai 239 hektare.
Selanjutnya lahan di Desa Rappang Barat, dengan luas sawah terdampak kekeringan mencapai 189 hektare.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BWSS V mengerahkan enam unit mesin pompa dengan kapasitas berbeda. Masing-masing terdiri dari empat unit berkapasitas 3 inci, satu unit berkapasitas 6 inci, dan satu unit berkapasitas 8 inci.
“Upaya pompanisasi ini diharapkan dapat menyelamatkan sawah warga di daerah ini yang terdampak kekeringan,” ungkapnya.
Muhammad menjelaskan, pompanisasi difokuskan pada areal persawahan yang telah ditanami padi dengan usia tanaman sekitar 40 hari setelah tanam (HST) dan memiliki sumber air di sekitar lokasi yang memungkinkan untuk dipompa.
"Penanganan dengan cara pompanisasi difokuskan pada sawah yang usia tanaman padinya d atas 40 HST serta memiliki sumber pengambilan air di sekitarnya,” ucapnya.
Menurutnya, areal persawahan tadah hujan menjadi salah satu lokasi yang sulit ditangani melalui pompanisasi karena tidak memiliki sumber air di sekitar lahan. Sebagai alternatif, BWSS V mengupayakan pembangunan jaringan irigasi air tanah melalui sumur bor di wilayah tersebut.
“Untuk sawah tadah hujan, penanganan menggunakan pompanisasi sulit dilakukan karena di sekitar wilayah tersebut tidak tersedia sumber pengambilan air. Wilayah itu ke depannya kita usulkan penangananya menggunakan sumur bor,” jelasnya.
Muhammad menyebut, sejumlah lahan yang terdampak kekeringan telah selesai mendapatkan penanganan. Lokasi tersebut berada di Desa Dakka, Kecamatan Tapango, Desa Tonro Lima, Kecamatan Matakali, serta Kelurahan Lantora, Kecamatan Polewali.
"Sementara yang masih proses penanganan di Desa Palatta, Kecamatan Tapango, di Desa Batetangnga Kecamatan Binuang, serta di Desa Barumbung Kecamatan Matakali," tandasnya.
Sementara Ketua UPI Koordinator Satgas Wilayah Polman, Ir. Fadly Adriansyah, SP, mengatakan penanganan sawah terdampak kekeringan melalui pompanisasi telah berlangsung selama dua bulan terakhir.
"Kegiatan ini sudah berjalan dua bulan," ucapnya.
Dia mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan untuk memastikan penanganan sawah terdampak kekeringan melalui pompanisasi berjalan secara maksimal. Bahkan menurutnya, sebagian sawah terdampak kekeringan yang ditangani dengan cara pompanisasi telah panen.
"Pemantauan dan update laporan harian terus kami lakukan untuk memastikan proses penanganan berjalan sebagaimana mestinya. Dari 794 sawah terdampak kekeringan, 70 persen berhasil panen setelah dibantu pompanisasi," pungkas Fadly. (thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.