Belum Punya Penanda, Taman Budaya Buttu Ciping di Tinambung Kian Diminati
Penulis / Redaksi:
admin
Selasa, 3 Mei 2022 23:59 WITA
1,329 tayangan
3 menit baca
TINAMBUNG,- Bangunan berasitektur tradisional yang dikenal dengan Taman Budaya Buttu Ciping di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, makin diminati warga sebagai destinasi wisata baru. Meski hingga kini bangunan berbentuk rumah panggung itu belum memiliki penanda sebagai taman budaya, berbagai kalangan terus berdatangan, sekedar berkunjung dan berswafoto, sambil menyaksikan matahari terbenam di sore hari.
Taman Budaya Buttu Ciping (TBBC), yang berada di Desa Batulaya, Kecamatan Tinambung, tampak ramai pengunjung pada Selasa sore (05/03). Hari kedua pasca lebaran Idul Fitri 1443 H, rombongan pengunjung terus berdatangan, didominasi emak-emak dan remaja putri, serta pasangan muda-mudi.
Pengunjung bukan hanya warga Polman. Ada juga yang dari Mamuju, bahkan dari luar Sulbar seperti Pinrang, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Mereka sengaja berkunjung, setelah mengetahui tentang taman Buttu Ciping dari medsos, atau informasi dari yang sebelumnya berkunjung ke lokasi tersebut.
Mereka menyatakan senang karena bisa berswafoto dengan latar belakang berbagai sisi bangunan yang menarik.
"Tempat ini bagus, kita bisa foto-foto atau ambil gambar menarik di beberapa sisi sebagai back round,"kata salah satu pengunjung, Irna kepada wartawan, Selasa (03/05/2022). Pengunjung yang mengaku dari Mamuju itu, datang ke Buttu Ciping bersama dua temannya, setelah silatutahmi lebaran idul fitri dengan kerabatnya di Wonomulyo.
Pengunjung lain, Hasbi, warga Madatte, Polewali mengatakan sudah sering mendengar tentang Taman Budaya Buttu Ciping. Namun, baru punya kesempatan berkunjung bersama keluarga. Sebagaimana pengunjung lain, Hasbi menyebut tempat itu menarik untuk berswafoto bersama keluarga. Lebih menarik pada sore menjelang malam. Bisa menyaksikan matahari terbenam.
"Saya barusan ke sini, rupanya memang bagus untuk tempat toto-foto bersama keluarga. Kita bisa juga melihat matahari terbenam, sampai hilang di balik gunung pada sore hari," ujarnya.
Sementara pengunjung lain, Syamsuddin menyatakan pentingnya sistem yang jelas terkait pengawasan dan perawatan bangunan berciri khas lokal yang memiliki 114 tiang dari batang kelapa itu. Tanpa pengawasan, prasarana yang ada tidak akan bertahan lama. Kebersihan dan ketertiban pengunjung, harus jelas prosedurnya.
"Pengelolaan bangunan ini harus jelas, jangan berlarut-larut tidak jelas prosedurnya. Semua orang bisa berkunjung ke sini, tapi diperlukan aturan untuk ketertiban, untuk kebersihan, untuk pemeliharaan. Pengawasannya harus jelas juga," tutur pengunjung yang mengaku berasal dari Kecamatan Wonomulyo itu. Ia, mengapresiasi Pemprov Sulbar membangun taman budaya tersebut.
Hingga kini, bangunan Taman Budaya Sulbar itu bebas didatangi pengunjung tanpa dpungut biaya alias gratis. Meski di depan tangga bangunan terpasang imbauan membuka alas kaki, namun tidak banyak pengunjung yang peduli. Belum terlihat juga tanda, berupa papan nama atau bentuk lain, semacam land mark sebagai penanda bangunan itu adalah Taman Budaya Sulawesi Barat. (emd/thaya)
admin
Jurnalis dan kontributor redaksi PACEKO.com, berkomitmen menyajikan liputan mendalam, akurat, dan berimbang demi kemajuan Sulawesi Barat dan Indonesia.