30 Ha Tanaman Bawang di Bala Polman Diserang Ulat, Petani Meradang
POLEWALI MANDAR,- Sedikitnya 30 hektar (Ha) tanaman bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) diserang hama ulat membuat petani meradang. Sebagian petani terpaksa melakukan panen lebih awal untuk meminimalisir kerugian.
“Sekarang salah satu langkah petani dia seleksi ini, yang sudah terserang dipanen untuk menyelamatkan. Kita panen ini di usia dini, istilahnya belum sampai umurnya, kalau kita manusia istilahnya prematur,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman, Muhammad Yunus kepada wartawan, Kamis (16/04/2026).
Areal perkebunan bawang yang terdampak paling parah akibat serangan hama ulat berada di Desa Bala, Kecamatan Balanipa. Serangan hama membuat tanaman bawang warga rusak dengan tingkatan berbeda-beda.
“Kalau yang berdampak dalam satu hamparan ini di Bala ada sekitar 30 hektar. Tetapi dampaknya itu ada tingkatan, rata-rata umur 50 sampai 60 (hari) masih bisa diselamatkan, ada juga beberapa hektar memang yang umur belum cukup satu bulan sama sekali tidak layak lagi tumbuh. Penyebabnya itu serangan hama ulat,” beber Yunus.
Menurut Yunus, serangan hama pada tanaman bawang dapat disebabkan beberapa hal. Selain pola tanam juga karena faktor cuaca yang mempengaruhi ketersedian air. Agar serangan hama tidak semakin meluas, Yunus mengaku telah melakukan gerakan pengendalian (gerdal) bersama para petani.
“Langkah penanganan, kemarin kita sudah melakukan gerdal. Kami kemarin bersama pengamat hama dari provinsi kita melakukan gerdal, pengendalian hama, khusus wilayah sini kemarin mungkin ada sekitaran 12 hektar. Itu salah satu langkah pengendalian yang kita lakukan,” tuturnya.
Yunus juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi V di Mamuju yang diharapkan dapat membangun fasilitas penyedia air di sekitar areal perkebunan warga.
“Setelah kunjungan pak Bupati kemarin, kami sudah berkoordinasi dengan pihak balai dan respon cepatnya langsung berkunjung, kita mencoba mengusahakan agar ada sarana untuk menyuplai kebutuhan air petani bawang di sini untuk menekan serangan hama agar produksi lebih baik,” jelasnya.
Sementara salah satu petani bawang bernama Mansur mengungkap, serangan hama berlangsung sejak setengah bulan terakhir. Kondisi cuaca yang tidak menentu diakui menjadi salah satu penyebabnya.
“Sudah ada ini setengah bulan serangannya hama ulat. Penyebabnya itu kalau gerimis langsung naik itu hama, langsung jadi,” ucapnya.
Menurut Mansur, serangan hama membuat tanaman bawang menjadi kering hingga mati. Penyemprotan menggunakan pestisida tidak banyak membantu lantaran sebagian besar hama berkembang biak di dalam daun.
“Mati tanaman, daunnya kering. Kita semprot pakai obat tidak banyak juga efeknya karena banyak hama yang berkembang biak di dalam daun,” tuturnya meyakinkan.
Diakui Mansur, serangan hama ini membuat para petani di daerah ini menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah. Sebab, rata-rata untuk setiap hektar lahan petani membutuhkan 6 kuintal dengan harga Rp 5,5 juta perkuintal.
“Kalau kerugiannya banyak, bibit saja kita sudah habis puluhan juta. Sementara untuk satu kuintal bibit itu kalau panen hasilnya bisa mencapai 1,5 ton bawang, sekarang hasilnya sudah tidak seberapa” pungkasnya. (thaya)







