Kamis, 30 Mei 2019 22:53 WITA
850 tayangan
3 menit baca
POLEWALI,- Matahari siang ini bersinar cerah, tak sedikitpun terasa hembusan angin saat empat bocah terlihat berjalan menyusuri trotoar di samping Kantor Bupati Polewali Mandar, di Kelurahan Wattang, Kecamatan Polewali, Kamis siang (29/05/19).
Sesekali mereka berhenti sembari duduk di pinggir trotoar, namun adapula yang mencari dan mengumpulkan sampah gelas plastik pada sekitar jalan yang mereka lalui, kemudian dimasukkan ke dalam karung yang mereka pikul.
Seakan tidak merasakan lelah, kaki kecil mereka terus menapaki berkilo-kilo jalan kendati di bawah teriknya matahari, hanya untuk mengais dan mengumpulkan gelas platik bekas air mineral yang kadang menjadi sampah di jalanan. Terkadang mereka terlihat merebahkan tubuh di atas trotoar, sekedar untuk merenggangkan otot akibat memikul beban di pundak.

Saat saya hampiri, keempat bocah ini terlihat malu-malu, bahkan beberapa diantaranya bergegas beranjak pergi, namun akhirnya kembali dan duduk di samping saya, “ lagi memulung om, memang tiap hari kerjanya seperti ini “ jawab salah seorang anak bernama Rahmat, saat saya tanyakan apa yang sedang mereka lakukan.
Rahmat (11 tahun), yang kini tengah duduk di bangku kelas V sekolah dasar, mengaku menjadi pemulung sejak duduk di bangku kelas I sekolah dasar, “ Biasanya saya memulung setelah pulang sekolah sampai sore “ ungkapnya sambil menyeka keringat yang menetes di dahinya.
Kendati kedua orang tua bernama Makmur dan Ramlah Wati, kerap melarangnya untuk memulung, Rahmat mengaku bahagia, lantaran bisa menghasilkan sedikit uang yang dapat digunakan meringankan beban sang ayah yang hanya berprofesi sebagai pengayuh becak, sementara sang ibu hanya di rumah mengurus adiknya yang baru berusia beberapa bulan, “ Lumayan kalau kebetulan lagi dapat banyak, sebagian uangnya ditabung untuk beli perlengkapan sekolah, sebagian lagi saya berikan untuk mama “ ujar Rahmat sembari tertawa.
Berbekal semangat untuk meringankan beban ekonomi keluarga, membuat sang adik bernama Mardi (9 Tahun) yang kini duduk dibangku kelas III sekolah dasar, seolah tidak mau kalah untuk ikut memulung bersama sang kakak.
Sehari-hari keduanya menyusuri jalan kota Polewali hanya untuk mengumpulkan gelas plastic yang nantinya akan ditukarkan dengan sejumlah rupiah. Walau uang yang didapatkan dari hasil memulung gelas plastic ini tidak banyak, Rahmat dan Mardi, tetapi bersyukur dan merasa bahagia lantaran masih dapat berbuat, selain untuk diri sendiri tetapi untuk keluarga yang dicintainya, “ Biasanya satu karung gelas plastik dijual seharga 1.500 rupiah, dalam seminggu bisa jual 5-6 karung gelas plastik, tapi kadang juga jumlahnya tidak sebanyak itu “ jelas Rahmat sembari memperbaiki posisi topi yang menutup kepalanya.

Bahkan semangat kakak beradik ini untuk memulung agar mendapatkan uang untuk membeli keperluan bersekolah dan membantu orang tua, tidak pernah surut kendati harus berpeluh keringat menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini.
Keduanya selalu ceria, mengabaikan waktu bermaian demi memeras keringat diantara debu dan deru asap kendaraan di jalanan, hanya untuk mengais tumpukan sampah untuk secercah harapan mendapatkan sesuatu yang bernilai rupiah.
Kisah Rahmat dan Mardi hanyalah sebagian kecil dari cerita anak di negeri ini yang harus berjuang untuk menyambung hidup. Walau hanya sebagai pemulung, semangat mereka untuk membantu kedua orang tua agar dapat menggapai cita-cita, harusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa banyak yang dapat dilakukan untuk menjalani hidup daripada hanya duduk diam dan berharap belas kasih orang lain. (Thaya)
Iklan Sponsor728 × 90 px (In-Article)
