
Penyambutan Siswa SMAN 2 Campalagian setiap pagi, Tradisi Pendidikan Karakter “Siasayanni”
Oleh, M Danial
PARA siswa berseragam putih abu-abu mulai berdatangan. Satu-persatu peserta didik itu memasuki halaman sekolah sambil menyalami dan mencium tangan kepala sekolah dan para guru yang berjejer dekat gerbang sekolah. Para tenaga pendidik itu menyambut siswanya dengan senyum ramah disertai sapaan hangat yang menjadi penyemangat bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran.
Suasana seperti itu berlangsung setiap hari di SMAN 2 Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Penyambutan siswa oleh para guru tidak hanya sebagai rutinitas. Melainkan merupakan tradisi sebelum pelaksanaan proses belajar di ruang kelas. Sebagai upaya penanaman pendidikan karakter kepada para siswa untuk merawat kebersamaan seluruh warga sekolah yang dilandasi prinsip ‘Siasayanni’ atau saling menyayangi.
Kepala SMAN 2 Campalagian, Sabri Maulana mengatakan tradisi penjemputan siswa dijadikan sebagai ciri sekolah tersebut. Penyambutan peserta didik oleh para tenaga pendidik di gerbang sekolah dengan senyum hangat disertai sapaan yang akrab dan mengawali interaksi sebagai warga sekolah, secara psikologis akan menjadi spirit bagi para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.
“Penjemputan siswa oleh para guru di gerbang sekolah sudah rutin kami laksanakan sebagai tradisi sekaligus menjadi ciri sekolah ini. Keberadaan guru menjemput siswa dengan senyuman yang hangat dan sapaan yang akrab mengawali interaksi sebagai warga sekolah. Interaksi awal itu secara psikologis akan menjadi spirit bagi peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran,” papar Sabri, di sekolahnya, Kamis siang.
SMAN 2 Campalagian berlokasi di Desa Katumbangan, sekira tujuh kilometer dari ibukota Kecamatan Campalagian. Tak heran sekolah yang berdiri 2016 dikenal pula dengan sebutan SMAN Katumbangan. “Alhamdulillah sekolah kami sudah akreditasi B sejak 2023,” ungkap Sabri, mengenai sekolahnya yang berlokasi di desa.
Penyambutan siswa setiap pagi merupakan juga kesempatan bagi para guru untuk memantau langsung kedisiplinan siswa hadir tepat waktu, memastikan siswa yang hadir dan yang tidak hadir atau absen. Secara langsung pula melihat kerapian siswa berpakaian sesuai ketentuan. Siswa yang terlambat diarahkan untuk membaca ayat-ayat Alquran oleh guru piket.
Awalnya tradisi penyambutan siswa dirasakan sebagai tantangan oleh para guru, karena mereka harus hadir lebih dahulu sebelum siswa datang. Tantangan itu secara berubah menjadi penyemangat untuk terbiasa hadir lebih awal di sekolah. Dengan begitu, para guru secara langsung menjadi teladan kepada siswa soal kedisiplinan.
“Para guru hadir lebih awal setiap pagi menjemput siswa sekaligus menjadi contoh kedisiplinan (kepada siswa). Pembiasaan disiplin waktu merupakan bentuk pendidikan karakter kepada anak-anak, memulai dari yang sederhana seperti hadir di sekolah tepat waktu,” tutur Sabri, yang dikenal juga sebagai penceramah agama alias ustaz.
SMAN 2 Campalagian terletak di Desa Katumbangan, tujuh kilometer dari ibukota Kecamatan Campalagian. Sekolah yang berdiri 2016 itu dikenal pula dengan nama SMAN Katumbangan. “Alhamdulillah sekolah kami sudah akreditasi B sejak 2023, walau sekolah kami berada di desa,” ungkap Sabri.
Tahun pelajaran 2024/2025 ini memiliki 279 siswa, 132 laki-laki dan 147 perempuan, sepuluh rombongan belajar atau rombel dengan 39 orang guru.
Sabri mengatakan dari tahun ke tahun jumlah siswanya stabil, tidak mengalami peningkatan atau penurunan yang signifikan. Pembiayaan semua kegiatan sekolah seperti operasional setiap hari maupun yang terkait peningkatan mutu, semua mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Termasuk pelaksanaan kurikulum merdeka belajar yang sudah berjalan dua tahun di sekolah tersebut.
Jumlah dana BOS yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan. Karena itulah, jelas Sabri, pihaknya berusaha memanfaatkan secara efektif dana yang ada sebagai satu-satunya sumber pembiayaan kebutuhan sekolah.
Sabri menyadari tantangan yang dihadapi dalam menata sekolahnya. Terutama karena sarana dan prasarana yang dimiliki sangat terbatas untuk menunjang kelancaran berbagai kegiatan proses pembelajaran. Karena itulah, jajaran sekolah terus berupaya untuk berinovasi untuk menarik minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SMAN Katumbangan.
Tradiri penjemputan siswa yang dilandasi falsafah ‘Siasayanni’ sebagai ciri sekolah, merupakan salah satu bentuk inovasi untuk menjaga kearifan lokal yang diharap menjadi daya tarik bagi masyarakat. Inovasi lainnya adalah penggunaan bahasa Mandar dalam komunikasi di lingkungan sekolah setiap hari Sabtu.
Dilaksanakan juga kegiatan safari khutbah jumat dan tarwih keliling para guru bersama siswa pada bulan ramadhan. Selain itu, baksos dan pelayanan sosial keagamaan, dan shalat dhuhur siswa berjamaah setiap hari. Kegiatan shalat dhuhur berjamaah setiap hari tidak sulit bagi warga SMAN Katumbangan karena sekolahnya berhadapan dengan masjid desa setempat.
“Untuk memberi pemahaman dan pengalaman berdemokrasi kepada siswa sebagai pemilih pemula, kami melaksanakan pemilihan ketua OSIS atau Pilketos mencontoh tatacara Pilkada. Pilketos ala Pilkada dilaksanakan pekan lalu,” pungkas Sabri. (*)







