
Unik Tradisi Warga Polman ‘Kavling’ Shaf di Masjid Sambut Ramadhan
POLEWALI MANDAR,- Warga di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, memiliki kebiasaan unik bernama Mattandai Oroang. Kebiasaan yang seolah sudah menjadi tradisi ini dilakukan warga menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini ditandai aktivitas warga ‘mengkavling’ shaf, dengan memasang tanda dari kain agar mereka tetap mendapatkan tempat untuk beribadah di masjid selama bulan suci ramadhan.
Terlihat pada jajaran shaf wanita baik yang berada di dalam masjid maupun di pelataran, dipenuhi kain penanda. Agar tidak terlepas, kain penanda berupa sajadah hingga mukenah sengaja dilakban ke lantai masjid.
“Kan biasanya kita tidak mendapat tempat di dalam (masjid) kalau terlambat datang, jadi kita pasang memang tanda,”kata salah satu jamaah, Sukria kepada wartawan, Senin (20/03/2023).
Mattandai oroang dilakukan jamaah Masjid Sultanul Aulia di Desa Bala, Kecamatan Balanipa. Tradisi ini hanya dilakukan kaum wanita saja baik tua maupun muda.
“Semua pasang tanda, kecuali laki-laki,”ungkap Sukria.
Untuk diketahui, kain penanda milik para jamaah akan terus dibiarkan terpasang di lantai masjid hingga usai hari raya Idul Fitri nanti. Tradisi ini juga dilakukan warga setempat jelang hari raya Idul Adha.
Salah satu pengurus Masjid Sultanul Aulia, Israil mengungkapkan jika tradisi manttandai oroang ini telah dilakukan warga sejak beberapa tahun terakhir. Biasanya, aktivitas memasang tanda seolah ‘mengkavling’ tempat di masjid ini, dilakukan warga sepekan sebelum bulan suci ramadhan.
“Sudah tiga tahunan seperti ini, biasanya sekitar satu minggu ini sudah mulai pasang tanda, biar dapat shaf. Kalau sudah ada yang pasang tanda, tempatnya tidak boleh diganggu warga lain, kecuali yang pasang tanda berhalangan hadir,”tuturnya.

Menurut Israil, tradisi manttandai oroang ini pada hakikatnya untuk memastikan jamaah mendapat tempat di masjid. Agar warga bisa mendengar ceramah ramadhan dengan tenang serta melaksanakan ibadah shalat tarawih di masjid.
“Sudah beberapa tahun berlangsung seperti ini, supaya punya tempat yang jelas untuk shalat tarawih dan mendengar ceramah ramadhan dengan tenang, karena takutnya jamaah tidak mendapat tempat kalau tidak pasang tanda lebih awal,”ujarnya.
“Memang cuman jamaah wanita yang sepert ini, karena kalau jamaah laki-laki kehabisan tempat di dalam masjid, mereka biasanya mencari tempat di luar masjid,”jelas Israil.
Wujud Bahagia Warga Sambut Bulan Suci Ramadhan
Penggiat Wisata dan Budaya Mandar Adil Tambono memaknai tradisi mattandai oroang, sebagai wujud suka cita dan kebahagiaan warga menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
“Ini adalah salah satu kebiasaan masyarakat pesisir, salah satu bentuk penyambutan bulan ramadhan. Bentuk kegembiraan, dimana mereka berbondong-bondong memperebutkan shaf di masjid untuk ditempati beribadah,”ujar Adil yang dikonfirmasi wartawan, Senin (20/3/2023).
Selain itu, Adil juga menyebut dampak tradisi mattandai oroang diakui dapat mempererat tali silaturahmi antar warga. Diakui, keakraban antar sesama jamaah dapat lebih terjalin jika mereka selalu berdekatan antara satu sama lainnya
“Dari sudut pandang budaya, dengan adanya seperti ini (tradisi mattandai oroang), di sini adalah salah satu bentuk bagaimana mendekatkan antara satu manusia dengan manusia yang lain,”tuturnya.
“Karena tidak tertutup kemungkinan, bahwa yang sudah mengkavling antar shaf ini, tidak tertutup kemungkinan mereka tidak saling mengenal meski tinggal satu dusun . Dengan adanya ini, mereka berpotensi ketemu di masjid, mereka akan berdampingan beribadah, sehingga akan saling mengenal dan melahirkan keakraban di antara mereka,”pungkas Adil. (emd/thaya)







