19 DETIK

19 DETIK

19 DETIK

Penulis: Muhammad Akzal Ramadhan
*Mahasiswa Aqidah Filsafat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Andai saja saya bisa tabayyun langsung kepada Tuhan, hal pertama yang akan saya tanyakan kenapa 19 DETIK?

Saya pertegas kembali, kenapa 19 DETIK? Angka ini adalah karya dari sebuah bencana bernama gempa bumi magnitudo 6,2 berpusat di Malunda, Kabupaten Majene, dan memporak poranda Mamuju, Jumat dinihari, 15 Januari 2021 silam.

Hanya dalam hitungan tak sampai setengah menit, Kota Mamuju menjulur ke selatan hingga Majene bagian utara, disasar dan hancur lebur sekali hentak dalam hitungan angka 19 DETIK.

Sejumlah bangunan ambruk, bahkan berlantai lima sekalipun rata dengan tanah. Jalan-jalan retak dan terkelupas, sedikit menganga. Tiang listrik tumbang, lampu padam, gelap gulita. Sahutan kendaraan berseliwer lantaran panik. Warga mengungsi mencari perlindungan. Mereka berlarian menemukan tempat untuk mengamankan diri.

Pengungsian besar besaran terjadi. Hidup manusia dinihari itu seperti akan berakhir. Mungkin kita tidak boleh menyebutnya kiamat, tapi itu bagian terkecilnya. Manusia hanya tahu cerita dan kabar tentang kiamat dari Tuhan melalui kitab suci. Kabar itu tak usai dikisahkan para ulama dengan nukilan fasih dari hadis shahih yang tak diragukan kebenarannya.

Kabar tentang kiamat bukanlah cerita fiksi atau imajinasi para ulama dan cerdik pandai belaka. Kiamat adalah nyata, sama nyata dan pastinya bencana alam dengan berbagai bentuk dan varian. Kita harus percaya bahwa kiamat itu bukan berita untuk sekadar menakuti manusia, sama seperti peristiwa gempa magnitudo 6,2 Majene-Mamuju. Gempa itu menakutkan dan mencekam, meluluhlantak kehidupan dengan ratusan nyawa melayang. Hanya dalam hitungan 19 DETIK. Sesingkat itu pemilik “kun fayakun” berkehendak.

***

Saya mencoba lagi, dengan risau tak beralasan, mempertegas kembali: sekiranya saya bisa bertabayyun langsung kepada Allah, lagi-lagi saya akan bertanya, kenapa 19 DETIK? Adakah isyarat dalam angka ini yang manusia abai menggali maknanya? Atau, sekeramat apa bilangan 19 ini sebetulnya? Argumentasi saya menjadi kian tumpul, meski akal saya tetap dirunut pada rasa penasaran untuk menggali pesan di angka 19 ini.

Surah yaasiin memberi sinyal sangat kuat. Saya mencoba langsung klik Yaasiin:19. Ya, ayat 19…subhanallah! Pesan itu gamblang, bulu kuduk saya menukik dan tegak lurus. Tuhan telah memberitahu manusia, melalui utusan terakhir yang menjadi kekasih-Nya. Sang teladan alam dan segala isinya, Sayyidina Muhammad Saw. Bahkan, Yaasiin menjadi nama alias dirinya. Ya, ayat 19 surah Yaasiin.

Qālụ ṭā`irukum ma’akum, a in dżukkirtum, bal antum qaumum musrifụn. (Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”).

Untuk tidak menafsir liar ayat 19 tersebut, saya rilis beberapa lembaga mufassir (ahli tafsir). Seperti, Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia), Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh di bawah pengawasan Syaikh Dr Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah, Markaz Ta’dzim Al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof Dr Imar Zuhair Hafidz, professor Fakultas Al-Qur’an Universitas Islam Madinah, Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir (Syaikh Dr Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Mandinah), Tafsir Al-Wajiz (Syaikh Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili, Pakar Fiqih dan Tafsir Negeri Suriah), An-Nafahat Al-Makkiyah (Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi) dan Tafsir as-Sa’di (Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Pakar Tafsir abad 14 H).

Hampir semua mufassir yang saya nukil di atas memiliki penafsiran yang sama. Jika pun berbeda, paling sebatas redaksional dan diksi yang mereka gunakan. Bahwa, karena kekafiranmu, perbuatan syirikmu dan karena maksiatmu yang menghendaki datangnya sesuatu yang tak diinginkan. Siksa dan tercerabutnya hal yang dicintai dan kenikmatan.

Kemaksiatan menjadi sumber siksaan Allah bagi manusia, bagi kita semua. Ya, di semua penjuru aktifitas manusia, entah ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan manifestasi dan cara kita beragama. Boleh jadi murka Allah menjadi peringatan misalnya, lantaran tatanan berpolitik yang tidak lagi peduli nilai-nilai agama dalam bersiasah (berpolitik). Membeli suara, calon pemimpin dan rakyat bertransaksi suap-menyuap hanya untuk ‘dipilih dan memilih’. Padahal Tuhan menolak prilaku itu tanpa tawar menawar. Bahwa, suap-menyuap adalah ‘haram’.

Dalam tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah ditegaskan, bahwa kesialan kalian karena kalian sendiri yang selalu menyertai kalian akibat mendustakan kami, sehingga sebab kesialan itu adalah kalian, bukan kami.

Sadar atau tidak, bahwa kemanusiaan kita telah mengkhianati penghambaan kita sendiri. “Qālụ ṭā`irukum ma’akum: “kemalangan kamu karena kamu sendiri”. Di sini karakter sombong dan jumawa menjadikan kita alpa, sehingga agama atau Tuhan hanya jadi tameng. Bisa menjadi seakan-akan agama dipolitisasi, menjadi jualan murah dalam berpolitik.

“a in dżukkirtum”: Apakah kamu diberi peringatan kamu bernasib malang? Apakah akibat kamu diingatkan dengan Allah, kemudian kalian menganggap kami sebagai kesialan bagi kalian?

“bal antum qaumum musrifun”: Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. Yakni, sangat keterlaluan melawan kebenaran.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar di bawah pengawasan Imam Masjidil Haram, menyebutnya seperti ini: “Paras rasul menjawab dengan penuh peringatan: Kesialan kalian tidak akan lepas dari diri kalian, karena amal perbuatan kalianlah yang akan menyeret kalian kepada kebinasaan. Apakah seperti ini kalian membalas nasehat dan peringatan? Sungguh kalian adalah kaum yang tenggelam dalam kemewahan, dan melawab setiap orang yang akan menghalangi kalian dari hawa nafsu”.

Wallahu a’lam bissawab.

__Terbit pada
04/02/2021
__Kategori
Opini