Bencana Lagi
Gambar Ilustrasi, sumber internet

Bencana Lagi

Oleh, M Danial

Trauma gempa belum hilang. Getaran 5,8 magnitudo yang menggoyang Mamuju dan Majene, Rabu 8 Juni siang, seolah masih terasa. Tidak sedikit warga masih memilih tidur bertenda di luar rumah pada malam hari. Mereka masih dihantui gempa susulan.  Gempa 6,2 magnitudo 15 Januari 2021 masih hangat juga dalam ingatan mereka. Belum sampai empat hari pemulihan akibat gempa Rabu 8 Juni siang. Hujan deras berlangsung berjam-jam di berbagai tempat. Warga dilanda kepanikan. Intensitas hujan terus meningkat, genangan air meninggi dimana-mana. Banjir mengepung. Bencana lagi.

Diketahui, bahwa Sulawesi Barat merupakan provinsi yang tergolong rawan bencana. Karena kondisi alam dengan topografi wilayah yang bervariasi. Indeks risiko bencana BNPB (Badan Penanggulangan Bencana Nasional) menyebut provinsi ke-33 ini urutan kedua rawan bencana di Indonesia. Indeks risiko bencana yang disusun BNPB berdasarkan beberapa elemen. Yaitu, sebagian besar masyarakat tidak peduli mengenai kebencanaan. Dan pemerintah di semua tingkatan dinilai tidak tanggap terhadap bencana secara baik. Elemen lainnya, adalah gabungan ketidaktersediaan sumber daya manusia dan infrastruktur penyelamatan.

Soal gempa bumi di Sulbar, data BMKG (Badan Meteorologi, Klimatlogi dan Geofisika) memperlihatkan Sulawesi (termasuk Sulbar) termasuk wilayah rawan gempa dan tsunami. Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan Sulawesi adalah kawasan seismik yang aktif.

“Di sini adalah kawasan seismik yang aktif, baik itu di pantai barat Sulbar maupun sampai di Mandar ini semua adalah kawasan yang sangat aktif gempanya,” kata Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, dikutip dari suara.com 1  Februari 2021.

Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Mamuju, Ahad 12 Juni sore. Terjadi longsor di beberapa tempat. Permukiman terendam. Ratusan warga mengungsi. Distribusi bantuan untuk para korban terhambat. Akses jalan terputus. Tertimbun longsor. Tergenang banjir.

Pesan leluhur: Jangan pernah terjatuh dua kali di tempat yang sama. Pesan tersebut tetap relevan situasi terkini. Tapi hanya menjadi imbauan yang bersifat slogan. Sebatas jargon yang seketika hilang ditiup angin. Mudah terlupakan. Jargon politik dan iklan produk komersil lebih mudah diingat.

Terlihat saat bencana terjadi lagi. Penyebab bencana belum menjadi perhatian serius. Pikiran kita dodominasi banyak teori. Tanpa tindakan yang disertai kesungguhan. Nyatanya, mitigasi bencana belum terlihat menjadi prioritas. Sosialisasi dan edukasi kebencanaan masih sebatas formalitas. Penanganan korban bencana selalu mendulang berbagai persoalan. Malah memunculkan permasalahan baru. Termasuk mengenai pendataan. Diperlukan pelibatkn banyak pihak untuk pendataan korban. Termasuk masyarakat sipil. Organisasi atau lembaga-lembaga nonpemerintah yang kredibel.

Belajar pada pengalaman. Sangat diperlukan keseriusan dan dijadikan prioritas. Mengenai sosioalisasi dan edukasi kebencanaan kepada semua elemen masyarakat. Bukan sekedar formalitas. Yang melibatkan hanya segelintir warga masyarakat. Yang belakangan gagal paham untuk melakukan transfer pengetahuan kepada warga masyarakat lainnya. Yang butuh pencerahan. Bukan yang bertanya kembali tata cara penanganan dan lokasi evakuasi. Ketika bencana terjadi lagi. Diharapkan memberi solusi penyelamatan. Bukan saling menyalahkan. (*)

__Terbit pada
13/06/2022
__Kategori
Opini