Pilu Wanita Miskin di Mamasa Derita Tumor Besar di Mulut
Saharia, penderita tumor butuh perhatian di Kabupaten Mamasa.

Pilu Wanita Miskin di Mamasa Derita Tumor Besar di Mulut

MAMASA,- Perempuan bernama Saharia (59 tahun) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan karena menderita tumor di mulut hingga menyebabkan benjolan yang terus membesar. Belitan kemiskinan membuat penyakit yang dideritanya tidak pernah mendapat pengobatan.

“Sudah lama seperti ini, sekira empat tahun,” kata Saharia saat dijumpai wartawan, Kamis (20/9/2023).

Saharia merupakan warga Desa Sikamase, Kecamatan Bambang. Diakui, benjolan di depan mulutnya itu berasal dari langit-langit dalam mulut yang awalnya hanya seukuran biji jagung.

“Dulunya kecil, seperti biji jagung. Tetapi semakin membesar seperti sekarang,” ungkapnya.

Menurut Saharia, benjolan di mulutnya itu juga kerap terasa sakit. Keberadaan benjolan itu   membuatnya kesulitan mengkonsumsi makanan atau pun minuman.

“Biasa sakit. Sangat mengganggu juga karena buat saya sulit makan dan minum,” ujarnya lirih.

Saharia mengungkapkan, benjolan besar di mulutnya itu tidak pernah mendapat pemeriksaan medis karena  tidak memiliki biaya berobat.

“Belum pernah diperiksakan ke dokter. Tidak ada biaya juga,” tuturnya pasrah.

Meski harus menjalani hidup dengan kondisi memprihatinkan seperti sekarang, Saharia masih harus bekerja sebagai pekebun.

Sejak ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, dirinya harus mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan juga anak wanitanya yang setia menemani.

Dia sebenarnya memiliki seorang anak pria. Namun sudah lama pergi meninggalkan kampung halaman.

“Kerja berkebun, untuk kebutuhan hari-hari. Suami juga sudah lama meninggal,” tandasnya.

Terkadang saat berada di kebun, Saharia harus menahan sakit karena benjolan di mulutnya terluka terkena ranting atau pun rumput berduri.

“Biasa luka, tapi mau bagaimana, kita tetap harus kerja agar dapat uang,” imbuhnya.

Saharia sangat berharap mendapat perhatian sehingga  benjolan di mulutnya dapat dihilangkan.

“Saya sangat ingin sembuh. Tapi mau bagaimana, untuk makan sehari-hari saja susah apalagi mau berobat. Semoga ada yang peduli,” tutup Saharia dengan mata berkaca-kaca. (thaya)

__Terbit pada
22/09/2023
__Kategori
kesehatan, Sosial