Kisah Sinar, Perempuan Tangguh Penjual Bale-bale di Polman
Sinar saat berjalan sambil memikul bale-bale di pundaknya, Rabu (08/11/2023).

Kisah Sinar, Perempuan Tangguh Penjual Bale-bale di Polman

POLEWALI MANDAR, – Perempuan bernama Sinar (70 tahun) berjuang menyambung hidup dengan berjualan bale-bale bambu di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Setiap pekan Sinar berjalan kaki menyusuri jalan sejauh belasan kilometer (km) untuk menawarkan bale-bale yang dipikulnya.

“Kira-kira sudah lebih mi 10 tahun saya kerja begini (jual bale-bale bambu),” kata Sinar kepada wartawan, Rabu (08/11/2023).

Sinar merupakan warga Desa Samasundu, Kecamatan Limboro. Saat dijumpai wartawan, Rabu pagi (08/11), Sinar sedang menyusuri jalan sambil memikul bale-bale di pundaknya. Bale-bale berukuran panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter itu memiliki berat tidak kurang dari 10 kilogram.

Sinar tampak berupaya tegar dan kuat melangkahkan kakinya di sepanjang jalan yang ramai kendaraan. Meski usianya tidak lagi muda, ibu lima anak itu tidak menggunakan alat bantu untuk meringankan beban bale-bale bambu yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.

Seolah berkejaran dengan waktu, Sinar nyaris tidak pernah berhenti berjalan, meski sekedar untuk beristirahat sembari mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal.

“Harus terus jalan, biar bisa segera dapat pembeli. Karena kalau sudah semakin tinggi matahari kita gampang capek,” tuturnya meyakinkan.

Sambil terus berjalan, Sinar terlihat berulang kali memindahkan tumpuan bale-bale di pundaknya, dari sebelah kiri ke kanan maupun sebaliknya untuk mengurangi rasa pegal  yang dirasakannya. Salah satu tangannya juga tetap berupaya memegangi bagian bale-bale yang lain agar keseimbangannya tetap terjaga sehingga tidak terjatuh.

Sesekali Sinar menarik kain sarung usang di lehernya untuk menyeka bulir-bulir keringat yang perlahan bercucuran wajahnya. Dia tidak membawa bekal meski sebotol air untuk membasahi kerongkongannya.

“Awalnya memang terasa berat, tapi karena sudah sering jadi terbiasa bekerja seperti ini,” ungkap Sinar sambil tersenyum.

Diakui Sinar, aktivitas berjualan bale-bale yang kerap harus dipikul sejauh belasan kilometer ini dilakukan untuk meringankan beban suaminya yang mulai sulit mencari nafkah karena kerap sakit-sakitan.  Sinar mengaku, sepetak lahan kebun milik orang lain yang digarap suaminya terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mau bagaimana, kita tidak punya kebun sendiri, hanya ada sedikit milik orang lain yang kita garap, hasilnya juga tidak seberapa apalagi sejak kemarau,” ujarnya.

Sinar menuturkan, aktivitas menjual bale-bale bambu yang oleh warga setempat dikenal dengan nama barung-barung dimulai saat dini hari. Saat sebagian warga masih tertidur lelap, dia sudah turun dari rumah lalu menyusuri jalan sembari berharap ada warga yang mau membeli bale-bale di pundaknya.

“Sekitar jam empat (dini hari) sudah tinggalkan rumah. Biasa jalan kaki sampai ke Pambusuang. Kalau ada yang langsung beli bisa cepat pulang, tapi kalau tidak ada saya terus jalan sampai dapat pembeli,” tuturnya lirih.

Menurut Sinar, bale-bale bambu yang dipikul adalah buatan suaminya. Proses pembuatannya membutuhkan waktu dua hingga lima hari.

“Suami yang buat. Kalau lagi kuat prosesnya bisa dua hari, kadang juga sampai lima hari kalau (suami) sakit-sakit lagi,” ungkapnya.

Bambu yang menjadi bahan utama untuk membuat bale-bale diperoleh dari kebun warga dan dibeli seharga 10 ribu rupiah per batang. Untuk membuat satu bale-bale bambu dibutuhkan sedikitnya 4 batang bambu serta seutas tali rotan yang juga dibeli seharga 10 ribu rupiah per ikat.

Proses mengambil bambu dilakukan Sinar bersama sang suami tercinta. Setiap batang bambu yang diambil dari kebun warga dipikul sejauh tiga kilometer menuju rumahnya. Sebelum dibuat menjadi bale-bale, bambu terlebih dahulu harus dikeringkan.

“Tempatnya mengambil bambu sudah jauh, biasa sampai tiga kilo, harus dipikul sampai ke rumah. Tidak bisa langsung dibuat (bale-bale), harus dikeringkan dulu biar kuat dan ringan saat dipikul,” terangnya.

Sinar mengatakan untuk satu buah bale-bale dijual seharga 170 ribu rupiah. Selain untuk membeli kebutuhan sehari-hari, sebagian uang hasil berjualan harus disisihkan untuk membeli bambu dan tali rotan sebagai bahan membuat bale-bale.

“Harganya 170 ribu, uang hasil penjualan dipakai beli barang kebutuhan, sebagian disisihkan untuk beli bambu dan rotan,” katanya.

Lebih lanjut Sinar mengungkapkan jika sebelumnya dia bekerja sebagai penenun kain sarung. Karena merasa sudah tidak mampu menekuni profesi sebagai penenun, dia memilih berhenti dan bekerja sebagai penjual bale-bale.

“Dulu saya menenun, tapi sudah tidak mampu, karena ini mata sudah tidak bisa teliti. Daripada saya tinggal saja di rumah, lebih baik terus bekerja untuk membantu keluarga,” jelasnya.

Walau penghasilan yang diperoleh dari hasil berjualan bale-bale tidak seberapa, Sinar mengaku bersyukur karena masih dapat bekerja. Dia tidak ingin berpangku tangan di rumahnya apalagi berharap belas kasih dari warga.

Dia juga mengaku enggan merepotkan anak-anaknya yang diakui pernah melarang dirinya bekerja sebagai penjual bale-bale bambu seperti sekarang.

“Anak-anak pernah melarang, tapi saya tidak mau merepotkan mereka. Apalagi mereka juga sudah punya keluarga dan kondisinya pas-pasan,” terang Sinar.

Meski mengaku kerap bersedih karena kondisi yang dijalaninya saat ini, Sinar enggan berkecil hati. Dalam setiap langkahnya teriring doa kepada Tuhan agar selalu memberi kesehatan dan kekuatan, sehingga dirinya dapat terus bekerja untuk membantu menopang ekonomi keluarga yang dicintainya.

“Ya kadang sedih, tapi syukur alhamdulillah karena Tuhan masih memberi kekuatan serta kesehatan, jadi kita masih bisa terus bekerja,” tutup Sinar bersemangat. (thaya)

__Terbit pada
09/11/2023
__Kategori
Featured, Inspirasi