VAKSIN

VAKSIN

Oleh M Danial

SEJAK virus Corona masuk ke Indonesia. Terus merajalela dan dinyatakan sebagai pandemi. Melaksanakan protokol kesehatan, terutama saat berada di luar rumah atau di tempat umum menjadi sangat penting. Disiplin memakai masker, mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, dan menghindari kerumunan menjadi keharusan. Masker sempat menjadi barang langka.

Pada awal-awal masa pandemi. Seruan mencegah penularan corona, gencar di seluruh penjuru. Larangan berkerumun dan menjaga jarak harus dipatuhi. Pembatasan menyasar semua tempat kerumunan. Anjuran social distancing lalu physical distancing harus dipatuhi. Sistem kerja di kantor-kantor dengan WFH (work from home). Masjid dan musolah sepi di bulan ramadhan. Sholat id terpaksa di rumah. Yang pengetahuan agamanya terbatas, sholat tarawih dan sholat Id seadanya bersama keluarga. Betapa repotnya yang hanya terbiasa menjadi makmum. Silakan bayangkan sendiri.

Banyak kerumunan, seperti pesta pernikahan menjadi sasaran petugas Satgas Covid. Dibubarkan. Pengunjung pasar-pasar trandisional menjadi incaran razia masker. Walau tidak sedikit juga kerumunan yang luput dari operasi Satgas. Tidak heran menyeruak anggapan diskriminasi. Apalagi, tidak sedikit juga acara yang dihadiri “orang penting”, luput dari label kerumunan.
Seiring waktu, situasi pandemi Covid-19 kian menghawatirkan. Lebaran Idul Fitri sudah dua kali berlalu tanpa tradisi mudik. Pemerintah beranggapan mudik memicu penularan corona. Karena terjadi kerumunan yang tak terkendali. Keputusan mengenai hari libur dan cuti bersama pun ditinjau ulang. Hari “pakansi” dianggap sebagai pemicu klaster baru corona.

Pembatasan terus diperketat dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Terbaru, PPKM Darurat di wilayah Jawa dan Bali mulai 3 sampai 20 Juli ini. “Yang mengherankan kita, WNA (warga negara asing) diberi kelonggaran terus berdatangan. Mereka, kan, belum tentu tidak membawa virus,” komentar seorang teman, mengenai pengetatan untuk para penumpang semua moda transportasi. Teman saya itu seorang nitizen. Ia rutin mengikuti perkembangan di Tanah Air melalui medsos.

Lonjakan kasus positif Covid-19 terus terjadi. Kompas.com (4/7) memberitakan total pasien Covid-19 di Indonesia berjumlah 2.284.084 orang. Tersebar di 510 kabupaten / kota pada 34 provinsi. Dari jumlah kasus positif, tercatat 1.928.274 dinyatakan sembuh. Berdasarkan data NAR (new all record) Sulawesi Barat (5/7), terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 6065 kasus. Telah dinyatakan sembuh 5542, dan meninggal dunia 124 orang. Media memberitakan pernyataan para pejabat. Bahwa lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir. Dipicu penularan virus Delta dari India.

Kasus Covid-19 di Sulawesi Barat pernah melandai. Disebut tidak terlalu terpengaruh kerumunan yang terjadi pasca gempa mengguncang Majene-Mamuju, pertangahan Januari lalu. Sulbar sempat mendapat pujian.Dianggap berhasil mengendalikan Covid-19 di tengah situasi gempa. Pujian itu menggembirakan. Tapi, menggelikan juga. Tidak heran, tapi heran juga. Seorang pejabat bertanya keberhasilan dilihat dari sisi mana. “Kita bersyukur dianggap berhasil. Tapi, dari sisi mana kira-kira penilaian itu ?,” katanya, sambil tersenyum. Senyuman sang pejabat itu penuh arti. Namun sulit diterjemahkan.

Vaksinasi Covid-19 digencarkan pemerintah sejak beberapa bulan terakhir. Dikeluarkan aturan yang “memaksa” setiap warga menjalani vaksin. Namun, tidak disertai sosialisasi yang memadai mengenai vaksin. Supaya masyarakat dengan sukarela datang sendiri ke tempat pelayanan vaksinasi. Tidak perlu dimobilisasi untuk target jumlah pelayanan. Masyarakat perlu diberi sosialisasi mengenai vaksin. Untuk menjaga diri sendiri dan orang lain dari penularan covid-19. Untuk menguatkan ketahanan terhadap penularan virus corona.

Sosialisasi sangat penting, karena tidak sedikit orang yang mengabaikan protokol kesehatan. Masyarakat dihantui juga kondisi psikologis. Bahkan kepanikan. Lantaran banyak yang telah divaksin mengalami kondisi yang tidak diharapkan. Banyak informasi yang mungkin hoax. Namun, sangat berpengaruh pada upaya membangun optimisme menghadapi pandemi. Terutama mereka yang sejak awal mengabaikan persoalan Covid-19. Yang beranggapan Covid-19 adalah sesuatu yang diada-adakan. Diblow up untuk kepentingan tertentu. Teman saya bilang: Bukan tidak percaya (ada) Covid. Tapi, katanya, jangan terlalu selalu dibincang memicu ketakutan. Karena itulah, diperlukan penanaman kesadaran untuk vaksin tanpa kesan intimidasi. Apalagi ancaman tak diberi pelayanan kalau tidak vaksin. (*)

__Terbit pada
05/07/2021
__Kategori
kesehatan, Opini