Produsen Kerupuk di Polman Terpaksa Rumahkan Karyawan Imbas Lonjakan Harga Minyak – Plastik Kemasan
Foto : Produsen kerupuk bernama Supardi warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman, Selasa (12/05/2026).

Produsen Kerupuk di Polman Terpaksa Rumahkan Karyawan Imbas Lonjakan Harga Minyak – Plastik Kemasan

POLEWALI MANDAR,- Sejumlah produsen kerupuk di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), meradang imbas lonjakan harga minyak goreng dan plastik kemasan. Mereka terpaksa merumahkan sejumlah karyawan untuk mengurangi biaya agar produksi tetap berjalan.

Seperti diungkapkan Supardi (45), produsen kerupuk asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Wonomulyo. Diakui, pilihan merumahkan sejumlah karyawan merupakan pilihan berat yang tak dapat dihindari.

“Ya terpaksa harus dikurangi (rumahkan karyawan), karena beban biaya produksi semakin tinggi. Dulu pakai lima belas karyawan, sekarang tinggal delapan,” kata Supardi kepada wartawan, Selasa (12/05/2026).

Menurut Supardi, lonjakan harga minyak goreng dan plastik kemasan membuatnya kebingungan serta harus memutar otak agar usaha kerupuk yang dirintis sejak tahun 2011 itu tetap bertahan.

“Harga minyak goreng dan plastik semakin mahal. Sangat memberatkan kami pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Diakui, minyak goreng curah yang sebelumnya dihargai Rp 11 ribu/liter naik menjadi Rp 19 ribu/liter. Sedangkan plastik kemasan yang dulunya seharga Rp 28 ribu/kilogram meroket menjadi Rp 45/kilogram.

Padahal, untuk menunjang usaha kerupuk miliknya, dalam sebulan Supriadi menghabiskan 1200 liter minyak curah dan 20 kilogram plastik kemasan.

Tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan akibat lonjakan kedua bahan tersebut, mengakibatkan usaha kerupuk Supriadi tertekan.

Dia juga terpaksa mengurangi jumlah kerupuk dalam setiap kemasan yang ditawarkan kepada konsumen agar usahanya dapat bertahan.

“Kalau harga eceran tetap, tapi isi kami ambil sedikitlah, misal kalau isinya lima jadi empat, diperkecil,” tuturnya meyakinkan.

Meski harga yang ditawarkan tetap sama, namun kondisi tersebut dikeluhkan konsumen. Akibatnya, omset yang diperoleh Supardi dari hasil menjual kerupuk ikut merosot.

“Banyak keluhannya, tapi maklumlah. Omset berdampak, kalau sebelumnya bisa mencapai 7 sampai 8 juta sebulan sekarang jadi 5 juta. Turun sekali omset, terdampak minyak sama plastik yang harganya semakin mahal,” jelasnya.

Supardi berharap pemerintah melakukan upaya agar harga minyak goreng dan plastik kemasan normal kembali. Agar kesulitan yang saat ini dirasakan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dapat teratasi.

“Harapan kami kepada pemerintah, stabilkanlah harga. Agar kami para pelaku UMKM dapat bernafas,” pungkasnya. (thaya)

__Terbit pada
12/05/2026
__Kategori
Pemerintahan, Sosial