
Percaya Diri
Oleh, M Danial
Saya mendapat kiriman sebuah buku dari teman. Buku terbitan tahun 2014. LEIDEN ! Tidak terlalu tebal, berisi cerita tentang kepemimpinan para tokoh nasional dan dunia. Bacaan ringan tapi amat dalam maknanya sebagai pencerahan yang sangat relevan dengan kondisi kekinian.
Saya harus berulang-ulang membuka Google untuk menerjemahkan bahasa asing yang saya tidak pahami dalam buku tersebut. Rasanya baru menyesal mengabaikan pelajaran bahasa Inggris semasa sekolah dulu.
Buku LEIDEN! Saya mencoba menyimak bab 13: Pernik Kepemimpinan dengan sub judul “Self Confident, Not Arrogant” (percaya diri, tidak sombong). Penulis buku Dea Tantyo, mengawali sub judul itu bahwa dalam kepemimpinan, seorang leader atau pemimpin harus paham adanya invisible factor atau faktor tak terlihat untuk meraih keberhasilan demi keberhasilan. Dalam setiap proses memimpin, percaya diri adalah faktor penting. Tapi, tidak boleh berlebihan, karena akan membuat sang pemimpin menjadi arogan.
“Orang menjadi sesat, jika terlalu percaya pada diri sendiri,” kata almarhum Buya Hamka dalam sebuah tulisan mengenai percaya diri. Maknanya, mangingatkan bahwa manusia berencana, Tuhan yang menentukan.
Dea Tantyo menulis, bahwa seorang pemimpin jangan juga minder dan merasa lemah. Pemimpin yang menyebarkan keraguan, akan merusak orang-orang yang dipimpinnya. Sedangkan pemimpin yang percaya diri adalah gambaran awal bahwa ia bisa diandalkan. Ia harus selalu tersenyum menebar optimisme, yakin pula pada kemampuan yang dimiliki. Tapi tidak menegasikan peranan anggota yang dipimpinnya. Kepercayaan diri diperlukan untuk meraih kemenangan.
Sekitar 2000 tahun yang lalu, kepercayaan diri hadir pada kisah Hannibal di Perang Punic Kedua. Ia sangat meyakini kemampuannya memimpin pasukannya. Yang terdiri 60.000 orang beserta puluhan gajah dan kuda untuk menerobos badai salju yang ganas. Yakin juga akan mampu melewati pegunungan Alpen untuk menyerang Roma.
Kepercayaan diri membuat Hannibal berhasil menginvasi Italia dan mengalahkan banyak region di Romawi. Kisahnya tercatat sebagai salah satu kisah penyerbuan paling berani dalam sejarah manusia. Menjadi salah satu catatan sejarah perang yang paling dikagumi para pemimpin militer dan sejarawan selama berabad-abad.
Pada dacin yang lain, kisah Naopleon Bonaparte di Perang Koalisi VI bisa menjadi pelajaran penting. Kepercayaan diri berlebihan bisa menjadi petaka. Siapa yang tak mengenal Napoleon, Kaisar Perancis yang merupakan salah satu pemimpin perang terbaik dunia. Namun, kemenangan demi kemenangan yang diraih justru membuat pasukannya lemah.
Pada 24 Juni 1812, Napoleon bernafsu menaklukan musuh-musuhnya. Penyerbuan yang dilakukan ke Rusia berakhir naas. Setelah mengepung dan membakar habis kota Moskow, pasukan Napoleon yang berjumlah besar mati kelaparan dan kedinginan lantaran musim dingin yang mengerikan.
Peristiwa tersebut, tidak terlepas dari sikap arogan dan kepercayaan diri berlebihan seorang Napoleon. Pada perang di Jerman tahun 1813, Napoleon selaku pemimpin pasukan menolak melakukan gencatan senjata yang disarankan Austria. Akibatnya, Napoleon dikalahkan di Lepiz oleh koalisi bangsa-bangsa.
Pesan dari sub judul buku tersebut, bahwa percaya diri salah satu keharusan bagi seorang pemimpin. Merupakan aset bagi seorang leader untuk memimpin orang. Catatan penting: percaya diri (jangan berlebihan) yang akan menjadi keangkuhan.
Begitulah idealnya seseorang pemimpin atau leader. Harus memiliki kemampuan yang unik: memupuk kepercayaan diri dan menyiraminya dengan sikap rendah hati dan menghargai orang lain. Menjaga diri dari keangkuhan, menghilangkan perasaan paling tahu segalanya, menganggap orang lain selalu salah dan tidak bisa berbuat. Di balik percaya diri berlebihan, kerap disertai pencitraan yang berlebihan pula.
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di atas bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS Lukman 18). (*)







