Kisah Gadis Cilik di Polman Hidup Tanpa Tangan dan Kaki
Fitriani, gadis cilik tanpa tangan dan kaki, asal Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar.

Kisah Gadis Cilik di Polman Hidup Tanpa Tangan dan Kaki

POLEWALI,- Seorang gadis cilik bernama Fitriani (8 tahun), asal Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harus jalani hidup dengan kondisi memprihatinkan. Sebabnya, ia terlahir tanpa kedua tangan dan kaki.

Fitriani yang akrab disapa Fitri, merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Aco dan Ida, warga Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar.

Kendati harus menjalani hidup dengan kondisi yang tidak sempurna, di usianya saat ini, sehari-hari gadis cilik yang lahir pada tahun 2013 silam ini, berupaya tegar menjalani hidup tanpa bantuan orang lain.

“Mandi, pakaian dan makan sudah bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan, terkadang (Fitri) ikut membantu ibunya mencuci piring,” kata sang ayah, Aco kepada wartawan, Senin siang (20/12/2021).

Saat ini, Fitriani telah duduk di bangku kelas I Sekolah Dasar, berjarak sekira 150 meter dari rumahnya. Karena tidak memiliki kedua kaki, untuk ke sekolah Fitriani harus diantar ibunya.

Aco mengaku bersyukur, lantaran Fitriani tidak pernah merasa malu dan semangat bersekolah. Apalagi, teman-teman di sekolah juga memberikan dukungan dan kerap membantu Fitriani di saat susah.

“Bahkan terkadang teman-temannya yang mengantar Fitriani pulang ke rumah, jika ibunya tidak sempat menjemput ke sekolah,”ungkap sang ayah lirih.

Kendati prihatin, Aco mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk meringankan kesulitan hidup Fitriani, khususnya untuk memberi sepasang kaki palsu.  Pasanya, untuk menafkahi keluarga kecilnya, Aco mengandalkan pendapatan dari profesi sebagai buruh tani.

“Yang saat ini sangat dibutuhkan adalah kaki palsu, saya sangat berharap ada yang bisa membantu memberikan sepasang kaki palsu untuk Fitriani,”pinta Aco sembari menyeka air matanya.

Walau terlahir dengan kondisi tidak sempurna, tidak lantas membuat Fitriani berkecil hati. Ia berusaha tegar dan tetap semangat menjalani hari-harinya, layaknya anak-anak seusianya.

Ketika wartawan berkunjung ke rumahnya, Fitriani langsung menyambut dengan senyuman manis menampakkan lesung pipinya. Ia seolah tidak merasa canggung apalagi malu kepada kami yang baru pertama kali dijumpainya.

“Saya lagi mewarnai om, saya senang menggambar dan mewarnai,” aku Fitriani sembari menunjukkan beberapa gambar yang telah diberi warna.

“Selain menggambar dan mewarnai, saya juga sudah pintar menulis,” sambung gadis cilik yang bercita-cita menjadi seorang guru ini.

Untuk menulis ataupun sekedar memegang sesuatu, Fitriani menggunakan kedua ujung lengannya, yang tidak memiliki tangan.

Pun demikian, ketika Fitriani hendak berpindah tempat. Terkadang ia harus melompat mengandalkan salah satu pergelangan kakinya, yang hanya sebatas mata kaki. Tidak jarang pula, ia menekuk salah satu pergelangan kakinya, hingga sejajar dengan pergelangan kaki lainnya yang sebatas lutut.

Sebenarnya, Fitriani telah memiliki dua pasang tongkat, sumbangan warga yang peduli terhadapnya. Namun kedua tongkat tersebut sulit digunakan, selain karena memiliki beban yang cukup berat, ukurannya juga belum sebanding dengan postur tubuh Fitri saat ini.

Fitriani sangat berharap mendapat bantuan, setidaknya sepasang kaki palsu yang diakui akan memudahkannya untuk beraktivitas dengan kondisi yang dialaminya sekarang ini.

“Semoga ada yang bisa membantu Fitri, memberikan bantuan kaki palsu,”pungkas Fitri disertai senyuman. (Thaya)

__Terbit pada
20/12/2021
__Kategori
Sosial