Respon IPPMN Terkait Pasien Meninggal Diduga Telat Ditangani Medis di Puskesmas Nosu Mamasa
Logo IPPMN Makassar. (dok)

Respon IPPMN Terkait Pasien Meninggal Diduga Telat Ditangani Medis di Puskesmas Nosu Mamasa

MAMASA,- Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Nosu (IPPMN) Makassar angkat bicara terkait kematian pasien bernama Lina Limbong (45) diduga gegara terlambat mendapat penanganan petugas medis di Puskesmas Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). IPPMN menilai Dinas Kesehatan (Dinkes) Mamasa harus ikut bertanggungjawab atas persoalan itu.

“Maka dari insiden tersebut dan klarifikasi dari Puskesmas Nosu, IPPMN Makassar menegaskan dinas kesehatan kabupaten lebih bertanggungjawab atas Puskesmas Nosu,” terang Humas & Advokasi IPPMN Makassar, Marcelius Barra kepada wartawan, Senin (04/08/2025).

Dalam keterangannya itu, IPPMN mengungkap beberapa poin klarifikasi terhadap Kepala Puskesmas Mamasa, Adolfina, terkait kematian Lina Limbong diduga karena terlambat mendapat penanganan medis.

Salah satunya, karena perawat PNS di Puskesmas Nosu hanya berjumlah 5 orang saja dan 1 diantaranya sedang cuti bersalin. Bahkan Puskesmas Nosu juga tidak memiliki dokter.

Padahal dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014, jelas disebutkan bahwa setiap Puskesmas di Indonesia harus memiliki Dokter dan Perawat sebagai bagian dari standar ketenagaan.

Idealnya Puskesmas Nosu sebagai Puskesmas Rawat Inap memiliki 2 orang dokter dan minimal memiliki 8 orang perawat.

“Dinas Kesehatan harus lebih memperhatikan tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Puskesmas, secara khusus pembinaan dan pengawasan Puskesmas Nosu,” terang Marcelius.

Sebagai lembaga yang berasal dari Kecamatan Nosu, IPPMN memastikan akan terus mengawal persoalan ini. IPPMN siap turun aksi jika pemerintah setempat tidak segera memperbaiki layanan kesehatan di daerah ini.

“IPPMN akan terus memantau situasi dan jika tidak ada tindakan dalam waktu tertentu, maka IPPMN Makassar akan mengambil langkah lanjutan untuk turun aksi terkait persoalan tersebut,” pungkas Marcelius.

Diberitakan sebelumnya, viral di media sosial seorang pasien wanita meninggal diduga karena telat mendapat penanganan petugas medis di Puskesmas Nosu, Kecamatran Nosu, Kabupaten Mamasa, Jumat (01/08). Dinas terkait sedang menginvestigasi masalah ini.

“Kami sudah diinstruksikan sama Pak Bupati untuk turun lapangan melakukan investigasi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Mamasa, dr Ratna Dewi Sari kepada wartawan, Sabtu (02/08).

Berdasarkan hasil investigasi tersebut, Bupati Mamasa Welem Sambolangi lalu memutuskan mencopot Kepala Puskesmas Nosu, Adofina.

“Saya telah menandatangani surat pemberhentiannya (Kepala Puskesmas Nosu),” kata Welem dalam keterangannya, Senin (04/08).

Welem menyebut Adolfina bertanggung jawab atas insiden tersebut. Pihak puskesmas diduga lalai sehingga tidak memberikan penanganan kepada pasien.

“Ini menyangkut nyawa manusia dan sebagai pimpinan konsekuensinya harus dicopot. Pihak puskesmas seharusnya memastikan kesiapan tenaga medis di UGD, baik saat merujuk pasien ke tempat lain maupun saat jam dinas berakhir,” tegasnya. (rls/thaya)

__Terbit pada
04/08/2025
__Kategori
Peristiwa, Sosial