Melihat Perjuangan Puluhan Lansia di Sekka-Sekka, Memeras Keringat Pecahkan Batu

Melihat Perjuangan Puluhan Lansia di Sekka-Sekka, Memeras Keringat Pecahkan Batu

LUYO,- Hidup diusia yang tidak lagi muda, tidak menjadi alasan bagi puluhan warga berusia lanjut (lansia), asal Lingkungan Sekka-Sekka, Kelurahan Batupanga, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar untuk berhenti bekerja, apalagi dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Setiap hari mereka bekerja keras, memeras keringat di bawah teriknya matahari, untuk mengumpulkan rupiah dengan memecah batu.

Fatiah (75 tahun), salah satunya. Wanita tiga anak yang sudah lama hidup sendiri, mengaku sudah puluhan tahun menggeluti profesi sebagai pemecah batu. Berbekal sepotong besi yang difungsikan sebagai linggis, sebuah ember dan palu usang, sejak pagi hingga sore hari, Fatiah menapaki kawasan perbukitan di dekat rumahnya, untuk mengumpulkan batu seukuran genggaman orang dewasa, kemudian dipecahkan menjadi kerikil di bawah tenda usang yang dibuat seadanya.

Tidak jarang Fatiah harus menahan rasa sakit, lantaran ayunan palu justru mengenai tangannya yang sudah keriput. Fatiah sadar akan resiko yang dihadapi, lantaran matanya sudah tidak seawas dulu lagi.

“ Sudah lama nak, saya tidak ingat yang jelas sudah lama, saya juga pernah di sana, hasilnya tidak cukup untuk hari-hari, saya tidak tau orang lain, saya ini asal bekerja demi hidup, saya tidak pernah menghitung jumlahnya, apalagi ember yang saya pakai berukuran kecil, mungkin tidak cukup sepuluh ember dalam sehari, apalagi saya biasa sendiri di sini “ ungkap Fatiah dalam bahasa daerah, sembari menyeka keringat yang menetes di wajahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Noer (75 tahun), yang mengaku sudah puluhan tahun menggantungkan hidup, dengan bekerja sebagai pemecah batu, di kawasan bukit gersang yang berada di lingkungan Sekka-Sekka, Kelurahan Batupanga, dekat rumahnya, “ Di sini saya sudah puluhan tahun “ katanya kepada wartawan, Minggu (16/02/20).

Setidaknya dalam sehari, sebanyak 20 ember batu seukuran genggaman orang dewasa, mampu dipecahkan Noer menjadi batu kerikil, “ Kalau 20 ember batu dibeli seharga 20 ribu, kalau sudah jadi kerikil dijual seharga 330 ribu rupiah per empat kubik, lama dikumpulkan, sekitar 10 hari kalau sendiri, kalau berkelompok bisa lebih cepat “ ungkap Noer.

Menurut Noer, batu seukuran genggaman orang dewasa yang berserakan di daerah ini, tidak boleh dikumpulkan secara sembarangan. Hal ini dikarenakan, banyaknya jumlah warga di daerah ini, yang menggantungkan hidup dari hasil memecah batu, dan telah menandai lokasi mereka, sebagai tempat mencari batu untuk dipecahkan.

Tidak jarang setiap pemecah batu, harus menapaki tanah miring, hingga menggali gundukan tanah becek, mencari batu yang bisa dipecahkan.

Walau memecah batu bukan lagi pekerjaan gampang untuk usia yang tidak lagi muda, para lansia di daerah ini tidak dapat berbuat banyak. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan kondisi ekonomi yang semakin berat, memaksa mereka untuk terus bekerja sebagai pemecah batu, demi mengumpulkan rupiah agar dapat bertahan hidup. (Thaya)

__Terbit pada
16/02/2020
__Kategori
Sosial