Pilu Wanita Hendak Bersalin Ditandu 9 Km Gegara Jalan Rusak di Polman, Bayi Dilahirkan Meninggal   
Foto Istimewa : Sejumlah warga menandu seorang ibu hamil yang hendak bersalin di Desa Ratte, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polman, Sabtu (16/05/2026).

Pilu Wanita Hendak Bersalin Ditandu 9 Km Gegara Jalan Rusak di Polman, Bayi Dilahirkan Meninggal  

POLEWALI MANDAR,- Potret pilu akibat buruknya buruknya infrastruktur jalan kembali terlihat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Wanita bernama Masni (27) yang hendak bersalin terpaksa ditandu sejauh 9 kilometer (Km) menuju rumah sakit gegara jalan rusak parah tidak dapat dilalui kendaraan.

Perjuangan warga menandu pasien yang terekam kamera dan viral di media sosial itu berlangsung di wilayah Kecamatan Tutar, Sabtu (16/05). Pasien ditandu dari kampung halamannya di Desa Ratte menuju Desa Taramanu Tua.

Sesampainya di Desa Taramanu Tua, pasien melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju Rumah Sakit (RS) Pratama di Kecamatan Wonomulyo.

Namun malang, perjuangan berat yang dilalui warga bersama pasien berakhir duka. Bayi yang dilahirkan pasien melalui operasi sesar meninggal dunia.

“Sempat sampai di rumah sakit pasien, dioperasi (sesar). Anaknya tidak tertolong,” kata Kepala Desa Ratte, Habri kepada wartawan melalui sambungan telepon, Senin (18/05/2026).

Menurut Habri, ketuban pasien sudah pecah saat ditandu warga sejauh 9 Km untuk mendapat penanganan di RS. Sebelum dievakuasi, pasien sempat mendapat penanganan dari Bidan di Posyandu setempat.

“Karena memang sudah pecah ketuban sebelum ke sini (RS),” ungkapnya.

“Sempat bermalam di rumah singgah di Ratte dekat Poskesdes, karena rumahnya ini pasien dengan Poskesdes agak berjarak. Sempat di situ beberapa malam dan sudah disampaikan agar segera dirujuk ke fasilitas lebih memadai, tapi tidak langsung disetujui dari yang bersangkutan,” sambung Habri.

Lanjut Habri mengatakan, akses yang dilalui warga sat menandu pasien merupakan jalan pintas yang ditempuh selama lebih kurang 4 jam. Akses itu melewati kawasan hutan dan sejumlah anak sungai berbatu.

Diakui Habri, akses jalan utama jaraknya mencapai 20 Km. Kondisinya semakin rusak parah saat musim penghujan seperti sekarang hingga sulit dilalui kendaraan baik roda empat maupun roda dua.

“Itu memang jalan alternatif dari Ratte ke Taramanu kurang lebih 9 kilometer, melewati kawasan hutan dan beberapa sungai besar. Kalau lewat jalan utama di piriang sekira 20 kilometer itu saat ini lagi parah-parahnya karena musim hujan, lebih jauh dan tidak bisa ditembus motor apalagi mobil,” tuturnya.

Habri menjelaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar telah menjanjikan perbaikan jalan tersebut pada tahun mendatang. Menurutnya, upaya perbaikan akses jalan alternatif itu selama ini terkendala statusnya masuk kawasan hutan.

“Alhamdulillah setelah saya masuk sudah ada upaya untuk mengurus pembebasan jalan itu, dan alhamdulillah sudah selesai semua dokumennya, sudah keluar rekomendasi dari kehutanan untuk pinjam pakai jalan. Informasi dari pemerintah provinsi paling lambat tahun depan bisa dikerjakan,” terangnya.

Sementara salah satu warga, Aco Yaqub mengungkap aksi menandu pasien akibat jalan rusak parah baru pertama kali dilakukan warga daerah ini. Dia berharap pemerintah serius memberi perhatian untuk ringankan kesulitan yang dirasakan warga Desa Ratte akibat ketimpangan pembangunan.

“Sudah puluhan kali warga harus menandu pasien di jalur ini. Kami berharap pemerintah serius memberikan perhatian, perbaiki jalan kami sebagaimana di daerah lain, sehingga kesulitan yang dirasakan warga akibat jalan rusak teratasi,” pungkasnya.

Dalam potongan video pendek yang dilihat wartawan, tampak warga bergotong royong memikul tandu yang membawa pasien. Tandu tersebut terbuat dari kain sarung yang diberi bambu.

Warga harus berjalan kaki melewati jalan setapak di tengah hutan hingga harus menyeberangi sejumlah sungai berbatu besar. Sesekali warga berhenti di tengah hutan. Selain beristirahat juga untuk memeriksa kondisi pasien dalam tandu.

Terlihat juga seorang pemuda yang mencoba menggambarkan kondisi yang harus mereka jalani akibat buruknya infrastruktur jalan. Dia meminta pemerintah segera memperbaiki akses jalan di Desa Ratte.

“Saat ini kami berada dalam perjalanan menyusuri jalan setapak,.menandu seorang warga, ibu hamil yang mengalami kendala dalam melahirkan, sehingga ibu tersebut harus diantarkan oleh warga keluar kampung dengan ditandu, tidak ada ambulans, tidak ada mobil, yang ada hanya alat seadanya berupa bambu lalu sarung yang ditandu gotong royong oleh warga. Tentunya harapan ini kami sampaikan kepada bapak presiden Prabowo Subianto, bapak gubernur Sulawesi Barat bapak Suhardi Duka, dan bapak bupati Polewali Mandar, kiranya kami bisa diperhatikan jalannya, sebagaimana daerah-daerah yang lain sehingga hal seperti ini tidak terus-terus terjadi dialami oleh warga, karena kami pun adalah warga negara Indonesia yang berhak merasakan kemerdekaan yang sebenar-benarnya,” ujar pemuda dalam video tersebut. (thaya)

__Terbit pada
19/05/2026
__Kategori
Pemerintahan, Sosial