Mengenal Kurrak, Desa Penghasil Kopi di Polman

TAPANGO,- Sepuluh tahun belakang, menyeruput secangkir kopi tidak lagi menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi sudah menjadi gaya hidup, yang digemari semua kalangan baik pria maupun wanita, tua maupun muda,

Tingginya kebutuhan akan kopi, mendorong banyak warga maupun pelaku usaha, berlomba menanam bibit kopi berkualitas, untuk memenuhi kebutuhan pasar, demi peningkatan kesejahteraan.

Seperti yang dilakukan Haris. S.Ag, Kepala Desa Kurrak, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, yang menyulap desanya sebagai sentra penghasil kopi berkualitas.

“ Dulu Desa Kurrak pernah terkenal sebagai penghasil Kopi, namun sempat hilang karena masyarakat kurang memahami cara dan trik mengelola dan memasarkan kopi secara baik dan benar, kami berupaya, bagaimana Desa ini kembali jaya sebagai penghasil kopi berkualitas, tentunya dengan sentuhan pengelolaan yang lebih profesional “ ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Untuk mewujudkan ambisinya, sejak setahun belakang Haris mengajak seluruh warganya untuk kembali menggalakkan perkebunan kopi di daerah ini, “ Sekarang ini, ada sekitar 100 hektar areal perkebunan di Desa Kurrak yang sudah kembali berproduksi, untuk sekali panen, bisa menghasilkan 5 hingga 10 ton biji kopi “ beber Haris.

Desa Kurrak, berada pada daerah geografis dengan ketinggian di atas 800 MDPL, menawarkan panorama alam indah dengan udara pegunungan yang sejuk, dianggap cocok untuk pengembangan tanaman kopi, baik jenis robusta maupun arabika, “ Itu sebabnya, kami berupaya terus berbenah, selain menjadikan Desa Kurrak, sebagai sentra penghasil kopi berkualitas, kami juga berupaya menjadikan desa ini sebagai objek wisata kopi, melengkapi objek wisata alam lainnya di desa ini “ harap Haris.

Selain itu, Haris menyebut, areal perkebunan kopi warga di desa ini dijadikan program Inovasi Desa yang dikembangkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), “ Melalui dana desa, kami juga telah menganggarkan dana untuk pengadaan puluhan ribu bibit kopi berkualitas, yang kami sebar kepada seluruh warga yang berkebun kopi di desa ini “.

Haris juga mengatakan, dirinya terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, selain untuk mendapatkan informasi terkait budidaya tanaman kopi, juga untuk mempelajari pengolahan biji kopi agar lebih bernilai tinggi, “ Selain berkunjung ke pusat penelitian kopi dan kakao indonesia, mempelajari tata cara berkebun kopi, kami juga berhasil menjalin komunikasi dengan pemerintah Selandia Baru, yang mengirimkan bantuan, seperangkat alat pengolahan biji kopi bernilai ratusan juta rupiah “ ungkap Haris.

Keberadaan alat tersebut, diakui Haris, mampu menyerap tenaga kerja baru di desa ini, “ Jadi dengan adanya alat ini, kami memberdayakan warga, khususnya ibu-ibu yang sealama ini menghabiskan waktu di rumah, kini terlibat aktif dalam proses pengolahan biji kopi, menjadi produk olahan berkualitas dan bernilai tinggi “, papar Haris.

Haris bersukur , upayanya mengembangkan perkebunan dan pusat pariwisata tanaman kopi, dengan harapan meningkatkan taraf perekonimian warga di desanya, mendapat apresiasi dari pemerintah, “ Bahkan pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah menunjuk desa kami, untuk menyiapkan bibit kopi berkualitas, yang akan disebar pada seluruh kabupaten di sulawesi barat “ terang Haris.

Kendati mengaku telah memasarkan produk kopi olahan warga desa kurrak, pada berbagai daerah, Haris mengaku masih terkendala menjawab tantangan pasar, lantaran usaha pengolahan kopi di desanya, belum mendapat ijin resmi dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) setempat, “ Oleh karena itu, kami berharap dinas terkait yang membidangi masalah ini, segera menindaklanjuti permohonan kami, untuk menerbitkan surat izin, agar mendapatkan ijin dari BPOM, sehingga nantinya dapat meningkatkan upaya warga Kurrak yang berwirausaha, membuat Kopi Kurrak bubuk yang telah dikemas dalam sachet, demi peningkatan taraf perekonomian warga di desa ini “ pinta Haris. (Thaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.