Menu

Hari AIDS se Dunia

Oleh M Danial

“Kita perlu satu hari seperti Hari Thanksgiving !” seru James W. Bunn kepada rekannya, Thomas Netter tiba-tiba melonjak dari kursinya. Bunn dan Netter adalah pejabat informasi untuk progran AIDS Global WHO di Jenewa, Swiss.

Berawal dari perbincangan dua  pejabat informasi WHO (World Healt Organisation), Bunn dan Netter tentang AIDS. Yang menghebohkan sejak teridentifikasi pada 1984 sebagai virus yang mematikan. Mereka membaca kutipan pidato Direktur Jenderal WHO saat itu, mengenai perlunya mobilisasi global untuk menyikapi fenomena AIDS dengan langkah yang paling efektif. 

Di kepala Bunn muncul gagasan. Perlu ada “hari khusus” yang diperingati setiap tahun tentang AIDS. Seperti halnya Thanksgiving dan banyak momen lainnya. Itulah solusi yang diperlukan untuk menyebarkan edukasi tentang AIDS ke seluruh dunia. Netter, rekan Bunn, sepakat. Keduanya sumringah.

Bunn, adalah seorang mantan jurnalis. Ia sangat percaya bahwa pengetahuan tentang HIV / AIDS akan sangat membantu orang-orang melindungi diri mereka sendiri. Namun, bisa berpotensi bahaya, jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Maka, perlu diadakan semacam “hari khusus”, sebagai bentuk edukasi untuk mengingatkan masyarakat dunia tentang AIDS.

Bunn dan Netter lalu menyampaikan gagasan tentang peringatan Hari AIDS kepada Direktur Program AIDS Global, Dr. Jonathan Mann. Sang direktur menyukai ide Bunn. Ia menyetujui untuk dilaksanakan peringatan Hari AIDS se dunia. Sejak itulah, tanggal 1 Desember 1988 ditetapkan sebagai Hari AIDS se Dunia.

Seruan peringatan hari AIDS adalah pengingat tentang keprihatinan. Sebagai momen untuk mengedukasi masyarakat mengenai HIV/AIDS. Untuk mendorong inisiatif menumbuhkan kesadaran global bekerjasama mencegah penularan HIV/AIDS.

Tanggal 1 Desember bukan untuk dimaknai sebagai perayaan, seperti hari-hari penting lainnya. Melainkan hari peringatan bagi masyarakat pentingnya mencegah virus HIV. Diperlukan peran semua pihak untuk memberi dukungan mencegah penularan dan penyelamatan karena HIV/AIDS. Mereka yang terindikasi ODHA bukanlah untuk dijauhi. Atau diperlakukan diskriminasi dan memberi stigma negatif terhadap mereka.

Jadikan 1 Desember sebagai hari kepedulian tentang AIDS. Bukan an dimaknai sebagai hari perayaan dengan acara seremonial dan formalitas belaka. Melainkan momentum untuk mengingatkan pentingnya peran semua pihak melakukan pencegahan HIV/AIDS. Untuk meyakinkan juga, bahwa HIV/AIDS bukanlah akhir dari kehidupan ODHA. (*) #tulisan dirangkum dari berbagai sumber.

No comments

Tinggalkan Balasan