Kopi…..

Oleh M Danial

HAMPIR pasti semua orang mengetahui. Dan megenal kopi. Jenis minuman yang memiliki citarasa tersendiri. Beraroma khas. Yang rasanya pahit. Tapi menggugah selera. Yang digandrungi  banyak orang. Yang bijinya hitam. Namun dirindukan. Bagi penggemarnya. Kopi bukan sekedar minuman. Yang tidak boleh dilewatkan. Sehari tanpa kopi. Akan terasa ada yang kurang.

Kopi adalah minuman yang lezat. Menjadi favorit dalam pergaulan sehari-hari. Di ruang-ruang keluarga. Tersedia di warkop-warkop dan kedai-kedai. Di cafe atau restoran ternama. Yang diolah secara tradisional. Atau racikan teknologi modern. Menjadi suguhan di berbagai acara. Formal atau nonformal. Dalam pergaulan di berbagai tingkatan. Sampai level internasional. Kopi siap saji. Dalam berbagai wadah dan aneka kemasan. Dengan mudah diperoleh. Di warung atau kios pinggir jalan.

Dikutip dari beberapa literatur tentang kopi. Tanaman tropis itu pertama dikenal di nusantara. Pada masa penjajahan Belanda. Pada 1696. Kopi jenis Arabika. Dibawa dari Yaman melalui Malabar, India. Oleh seorang Gubernur Belanda. Ditanam di Batavia. Berkembang pesat. Diekspor ke Eropa. Melalui perusahaan dagang VOC (Verening Oogst Indies Company). Pada 1711. Budidaya kopi dikembangkan di wilayah lain di Pulau Jawa. Disebar juga ke wilayah Sumatera. Ke Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara. Hingga Papua. Dikenal beberapa jenis kopi khas nusantara. Yang sangat terkenal kopi Luwak. Kemudian kopi Prenger di Jawa Barat. Kopi Gayo di Aceh. Kopi Toraja di Sulawesi Selatan. Kopi Kintamani di Bali. Dan jenis kopi khas lokal lainnya.

Di Polewali Mandar. Sejak beberapa hari terakhir. Kopi menjadi perbincangan. Di medsos dan berbagai tempat. Berawal dari soal bayi 14 bulan. Anak pasangan keluarga miskin. Sejak usia enam bulan. Hanya diberi kopi. Sebagai pengganti susu. Beritanya viral. Medsos menjadi ruang polemik. Bukan soal kopi pengganti susu. Karena ibunya tidak memiliki ASI. Bukan soal efek kopi terhadap kesehatan bayi dan anak-anak. Atau pentingnya asupan gizi yang baik dan berkualitas. Untuk pertumbuhan dan kepentingan terbaik anak. Perbincangan bergeser ke persoalan kemiskinan. Bahwa orang tua “bayi peminum kopi” itu. Bukan keluarga miskin.

Dikutip dari situs https://doktersehat.com. Kopi adalah inuman yang mengandung kafein. Yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Apalagi bayi dan anak-anak. Yang idealnya setiap hari. Tidur dengan waktu yang cukup. Kandungan kafein dalam kopi. Yang dikonsumsi seorang anak. Walau dengan dosis kecil. Cepat atau lambat. Kandungan kafein dalam kopi. Akan memengaruhi peningkatan tekanan darah dan denyut jantung pada anak. Sehingga menyebabkan sulit tidur.

Selain itu. Berpotensi menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Mengalami gangguan pencernaan. Dan resiko kekurangan gizi. Anak kecanduan kopi. Akan gampang mengalami dehidrasi.  Pertumbuhannya akan terhambat. Efek lain kandungan kafein. Adalah peningkatan resiko obesitas. Mengalami gigi berlubang (karies). Lebih jauh dari itu. Memicu penyakit jantung. Dan gangguan saraf pada anak.

Orang tua “bayi peminum kopi” itu. Sehari-hari bekerja sebagai buruh pengolah kepala. Penghasilannya tidak lebih Rp20.000 sehari.  Tapi pemerintah setempat. Menyebut menyebut bukan orang miskin. “Dia tidak miskin,” kata Sulaeman Mekka, Camat Matakali. Pada laman facebooknya. Dia beralasan. Ayah bayi itu memiliki sawah 30 are. Warisan dari neneknya. Yang memiliki beberapa anak dan cucu lainnya. Bantahan menggebu-gebu disampaikan. Melalui medsos dan kepada para pewarta.

Yang perlu menjadi perhatian. Bukanlah soal miskin atau tidak miskin. Melainkan soal kopi dan bayi. Soal kinerja petugas di tingkat bawah. Bagaimana tugas dan fungsi penyuluhan. Pembinaan dan pendampingan. Kepada masyarakat dan ibu menyusui. Mengenai pentingnya asupan gizi yang berkualitas. Untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak. Belakangan menyeruak tudingan berita hoax. Dan anggapan pengalihan isu. Entah berhembus darimana. Dan ditujukan kepada siapa. Saya gagal paham. Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.