
Tolak Pembangunan Proyek Jaringan Air Bersih di Polman, Ratusan Petani Geruduk Kantor Bupati
POLEWALI,- Kantor Bupati Polewali Mandar digeruduk ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Petani Polman, Senin siang.
Sambil membentangkan spanduk dan membakar ban bekas, dalam orasinya, massa aksi mendesak Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar, membatalkan proyek pembangunan Intake dan Jaringan Pipa Transmisi Air Baku Batu Piak, yang berada di desa Kunyi, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar.
Massa aksi menilai, pelaksanaan proyek dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu, merugikan para petani di daerah ini. Karena mengancam lahan pertanian khususnya areal persawahan warga, yang dianggap akan kesulitan mendapatkan air, apalagi saat kemarau melanda.
Koordinator aksi Herman Kadir, mengaku menyayangkan keputusan Bupati Polewali Mandar, untuk melanjutkan pembangunan proyek. Apalagi sebelumnya, warga bersama unsur pemerintah dan DPRD Polewali Mandar telah bersepakat menolak pelaksanaan proyek senilai 11 Miliar tersebut.
“ Kami kembali menindaklanjuti statemen bupati (Andi Ibrahim Masdar) yang membiarkan kembali proyek itu dilanjutkan. Itu yang kami tidak inginkan, karena kesepakatan pertama, pada saat tanggal 21 april di gedung DPRD bersama masyarakat dihadiri para birokrat seperti kepala dinas Pekerjaan Umum dan Pertanian serta PDAM, disepakati bahwa proyek ini akan dihentikan, dengan analisa dan pertimbangan masyarakat, sehingga mereka sepakat untuk menghentikan ini proyek, “ kata Herman saat dikonfirmasi wartawan di halaman kantor Bupati Polewali Mandar, Jalan Manunggal, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, Senin siang (24/05/2021).
Menurut Herman, kesepakatan penolakan proyek pembangunan Intake dan Jaringan Pipa Transmisi Air Baku itu, dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani sejumlah pihak, “ Dibuatkan berita acara penolakan, karena itu permintaan Balai, buatkan saya berita acara penolakan, sebagai dasar untuk menghentikan secara total proyek, “ ungkapnya.
Namun demikian, Herman mengaku heran lantaran hanya berselang beberapa hari setelah kesepakatan dibuat, bupati Polewali Mandar tiba-tiba mengeluarkan statement untuk melanjutkan proyek, tanpa berkoordinasi dengan warga dan pihak DPRD Polewali Mandar yang telah bersepakat menolak, “ Tau-taunya beberapa hari kemudian, muncul statemen Bupati tanpa konfirmasi kepada kami sebagai masyarakat penolak dan terkhusus anggota dewan yang bertanda tangan di surat itu, “ tandasnya.
Diketahui, keputusan bupati melanjutkan proyek tersebut, terjadi setelah melakukan pertemuan dengan perwakilan Balai Wilayah Sungai Kaluku-Karama, Wilayah Sungai Palu-Lariang, Provinsi Sulawesi Barat, “ Dia langsung memutuskan bersama balai dan birokrat lainnya, bahwa proyek itu harus dilanjutkan kembali dengan berbagai pertimbangan, salah satunya akan dibuatkan dua pintu, satu pintu untuk mengaliri persawahan, pintu lainnya untuk PDAM, “ beber Herman.
Kendati bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar menjamin ketersediaan air untuk lahan pertanian walau proyek tetap dilanjutkan, Herman menilai hal tersebut tidak akan berlangsung lama, apalagi jika bupati Andi Ibrahim Masdar tidak lagi menjabat, “ Kalau bupati mengatakan akan jadi jaminan, tapi apakah bisa menjamin seterusnya, paling 2 sampai 3 tahun ketika menjadi bupati, ketika bupati sudah selesai, siapa yang menjamin, “ pungkasnya.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Polewali Mandar, Sukirman Saleh yang menemui massa aksi mengungkapkan, keputusan Bupati Polewali Mandar melanjutkan proyek tersebut, setelah melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat, dengan berbagai ketentuan. Salah satunya menyiapkan pintu air dengan sistem buka tutup, “ Beberapa hari yang lalu terkait masalah ini, bapak Bupati sudah bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat yang berkepentingan dalam hal ini. Jadi terkait pembangunan itu, Bapak Bupati dan kita sudah bersepakat semua, bahwa pembangunan dilanjutkan dengan ketentuan, pertama pasang dua pintu buka tutup, “ terang Sukirman, disambut teriakan penolakan dari massa aksi.
Massa aksi mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. (Thaya)







