
SULBAR, “AKMAL MALIK EFFECT”
Oleh : Usman Suhuriah
Wakil Ketua DPRD Sulbar-Fraksi Golkar
Sejak 12 Mei 2022, atau kurang lebih lima bulan lalu, DR. Drs Akmal Malik,.M.Si, berada di Sulbar untuk melaksanakan tugas selaku Pj. Gubernur. Bila dicatat berarti sudah sekitar 150 hari kerja dihitung dari sekarang.
Sudah 150 hari kerja bukan itu yang hendak disorot. Tetapi mengenai “Akmal Malik effect”. Kalau disederhanakan ; pak Akmal Malik selaku penjabat gubernur, efek (effect) apa yang telah ditimbulkan. Efeknya itu dapat didiskusikan ?
Menurut KBBI, efek (effectus ; latin) adalah berarti berkaitan dengan perubahan, hasil atau konsekwensi langsung yang disebabkan oleh suatu tindakan. Bermakna sebagai penyebab, akibat atau kausalitas.
Akmal Malik dan keberadaannya di Sulbar, tentu telah melakukan sesuatu untuk daerah ini. Melahirkan gagasan. Gagasan itu didorongnya sebagai agenda. Selanjutnya memotivasi bawahannya agar bekerja cepat-cepat demi mencapai hasil yang diharapkan.
Hari-hari pertama sebagai Pj. Gubernur, darinya tercetus ide membenahi data di daerah ini. Idenya terletak pada pentingnya akurasi data. Data adalah informasi utama dalam menyusun perencanaan, dan untuk mengeksekusi suatu rencana.
Bila tindakan didasarkan pada informasi (data) tidak akurat, tidak presisi, besar kemungkinan pilihan eksekusinya meleset. Sebaliknya bila sebuah perencanaan diputuskan dengan basis data yang akurat, maka pilihan keputusan eksekusinya berpeluang memberi hasil lebih tepat. Perhatian inilah yang didorong, hingga akhirnya menjadikannya permasalahan data sebagai agenda yang sangat penting.
Serius dengan gagasan ini, pekan lalu (15/10/2022) telah dilakukan serah terima data presisi, lewat program pendataan desa presisi (DDP). Klaim program ini telah diaktualisasikan di 45 lokus desa/kelurahan di Sulbar. Program ini dilaksanakan pemprov Sulbar kerjasama IPB University. Program pendataan desa presisi ini mencatat sebagai best practice dengan lokus paling besar. Lahir sebagai karya data presisi desa satu-satunya di Indonesia.
Akan halnya untuk program mendukung ibu kota negara (IKN). Ini dipertegas dengan beberapa upaya. Didahului dengan kampanye lewat festival sandeq mendukung IKN. Kampanye menggunakan perahu sandeq, tentu saja merupakan sasaran antara untuk merangsang para pihak terhadap perlunya perhatian akan budaya bahari masa lalu. Namun sebetulnya sasaran lainnya adalah untuk menciptakan image oleh bagaimana daerah ini memiliki proyeksi untuk memanfaatkan peluang besar setelah lahir kebijakan berpindahnya IKN ke Kalimantan timur.
Tentulah kesiapan ini menuntut tindakan lebih lanjut dari gagasan Pj. Gubernur, setelah secara nyata menggaungkan Sulbar mendukung IKN. Seperti bagaimana menetapkan lahan untuk program food estate yang cukup sebagai kawasan pangan pendukung IKN. Memperbaiki pelabuhan laut, menata sektor pertambangan, terutama batu galian yang melimpah di daerah ini.
Selain yang disebutkan, tentu banyak lagi yang telah digagas oleh Pj. Gubernur, seperti menggenjot peran BUMD (perseroda) agar tidak sekedar ada, tetapi bagaimana memberikan nilai tambah kepada daerah. Kebijakan dengan pola pinjam pakai untuk aset daerah merupakan upaya yang baik, untuk melihat kegunaan aset yang cenderung tidak termanfaatkan. Seperti membangun rest area pada aset di pelabuhan Palipi, pemanfaatan gedung pemerintah daerah. Itu dituju agar memiliki nilai ekonomi dan dapat menambah pendapatan asli daerah.
Tercatat selama keberadaan Pj. gubernur di Sulbar juga turut diwarnai aksi-aksi protes warga. Tindakan protes tentu bukan hal yang salah, karena terdapat hak untuk menjalankan protes kepada apa saja yang berkaitan dengan kebijakan dan keputusan yang diambil oleh pemerintah. Protes ini muncul tentu juga bagian dari Akmal Malik efek, atau setidaknya dapat disebut sebagai efek samping ?
Tindakan protes sebagai hal yang dijamin UU, berikut tuntutan untuk mengelolanya, adalah membutuhkan langkah penting untuk meningkatkan kualitas komunikasi para pihak. Efek samping yang muncul dari setiap kebijakan dan pengambilan keputusan, biasanya efektif diselesaikan melalui perluasan dialog, sebagai bagian dari tanggungjawab paska mengambil kebijakan dan keputusan.
Alhasil, Sulbar dan “Akmal Malik effect” adalah illustrasi atas kehadiran pemimpin meski baru kurung waktu yang singkat. Efek yang dilahirkan tentu memerlukan obyektifitas penerimaan, bahwasanya ada gagasan yang lahir dari pucuk pemerintahan. Hadir dan menyata seketika. Wallahu a’lam ! (*)







