Gambar Ilustrasi (int)

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember : Korupsi karena Keserakahan

M Danial

“BUMI ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah,” (Mahatma Gandhi).

KORUPSI merupakan kejahatan luar biasa yang merugikan banyak pihak. Berdampak luas terhadap berbagai aspek, dalam jangka pendek dan jangka panjang. Tidak hanya mengakibatkan kerugian negara, tapi menyengsarakan rakyat. Banyak hak-hak rakyat tidak terpenuhi karena dinikmati segelintir orang dengan menghalalkan segala cara karena keserakahan. Yang melakukan penyalahgunaan wewenang dan menggunakan kesempatan untuk mendapat keuntungan pribadi dan kroninya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, Korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN), korupsi memiliki dampak negatif terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Korupsi sangat terkait juga dengan konflik dan ketidakstabilan yang membahayakan pembangunan sosial dan ekonomi, serta melemahkan institusi demokrasi dan supremasi hukum.

Tanggal 9 Desember adalah Hari Anti korupsi Sedunia. Berawal dari dikeluarkannya Konvensi PBB untuk menentang korupsi atau United Nation Convention Against Corruption (UNCAC) pada 31 Oktober 2003 melalui Resolusi 58/4. Berselang 40 hari kemudian, PBB menyetujui Perjanjian Anti korupsi yang ditandatangani di Merida, Meksiko pada 9 Desember 2003. Penandatanganan perjanjian tersebut, sekaligus menetapkan Hari Anti korupsi Internasional atau International Anti-Corruption Day pada tanggal 9 Desember setiap tahunnya.

Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi PBB melawan korupsi. Untuk meningkatkan kesadaran publik global akan bahaya korupsi, mengajak semua pihak untuk berperan mencegah dan mengatasi korupsi, sekaligus mengakhiri dampak buruk korupsi.

Dilansir dari berbagai sumber yang merujuk laman United Nation (UN), peringatan Hari Anti korupsi Sedunia melewati proses yang panjang. Majelis Umum PBB menyadari dampak korupsi terhadap berbagai aspek kehidupan. Sehingga dipandang perlu merumuskan instrumen hukum internasional terkait pemberantasan korupsi di tingkat global agar lebih efektif.

“Praktik korupsi sangat melukai perasaan kaum miskin. Korupsi menjadi penyebab utama rusaknya perekonomian suatu bangsa dan merupakan penghambat utama pengentasan kemiskinan dan pembangunan,” ujar Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan dalam pidatonya pada 30 Oktober 2003. Peringatan Hari Anti korupsi Sedunia pertama kali digelar pada 9 Desember 2005.

Peringatan Hari Anti korupsi Sedunia 2022 di Indonesia dilaksanakan dengan tema “Indonesia Pulih, Bersatu Melawan Korupsi”.

Dikutip dari databoks.katadata.co.id, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2004 hingga Oktober 2022 menangani 1.310 kasus tindak pidana korupsi. Selama hampir 18 tahun, jumlah kasus korupsi yang ditangani lembaga anti rasuah itu cenderung fluktuatif. Paling banyak pada 2018 yang mencapai 199 kasus, sedangkan paling sedikit pada 2014 hanya dua kasus.

Jenis perkara korupsi yang paling banyak ditangani KPK adalah penyuapan sebanyak 867 kasus. Paling banyak berikutnya pengadaan barang dan jasa sebanyak 274 kasus, lalu penyalahgunaan anggaran 57 kasus. Jenis kasus korupsi lainnya, adalah tindak pidana pencucian uang (TPPU) 49 kasus, pungutan dan pemerasan 27 kasus, dan perizinan 25 kasus, dan perintangan proses penyidikan 11 kasus.

Laporan KPK menyebutkan tindak pidana korupsi mayoritas terjadi di instansi pemerintah kabupaten/kota sebanyak 537 kasus dalam kurun waktu sejak 2004 hingga 20 Oktober 2022. Jumlah tersebut, disusul yang terjadi pada instansi kementerian/lembaga 406 kasus, dan pemerintah provinsi 160 kasus.

Berbagai lembaga yang peduli pada pemberantasan korupsi di Indonesia, mulai KPK, kejaksaan RI dan kepolisian RI hingga kini terlihat cukup keteteran untuk mengatasi praktik korupsi yang masih terjadi. Penindakan yang diberlakukan terhadap para pelaku, belum juga efektif untuk menyadarkan dan mencegah terjadinya korupsi.

Perlawanan terhadap korupsi harus terus dilakukan, yang dibarengi upaya untuk menumbuhkan kesadaran bersama bahwa korupsi tak hanya merugikan. Lebih dari itu bisa mematikan rakyat, karena hak-haknya dikangkangi para pelaku korupsi.

Bagi rakyat, korupsi menutup peluang mereka untuk menikmati kesejahteraan. Keserakahan menjadikan para pelaku korupsi lupa diri, tanpa peduli kehilangan martabat. Banyak yang berusaha tampil dengan kepala tegak, bahkan tersenyum di depan kamera.

Semoga Hari Anti korupsi Sedunia 2022 menjadi momentum untuk menguatkan dan merawat semangat melawan korupsi. (*)

__Terbit pada
09/12/2022
__Kategori
Opini