Wakil Ketua DPRD Sulbar, Abd Halim. (ist)

Abd Halim Merespon Kegelisahan Sejarah Hari Jadi Wonomulyo

WONOMULYO,- Kedatangan pertama kolonisasi dari Pulau Jawa pada 1937 di wilayah yang pada masa itu dikenal dengan Distrik Mapilli, dipahami oleh banyak orang sebagai awal terbentuknya Wonomulyo. Tapi, belum pernah ada penetapan secara resmi tentang Hari Jadi Wonomulyo. Hal itu memunculkan kegelisahan sejarah sejumlah pihak, sehingga perlu dilakukan penggalian informasi untuk menjadi alas pikir menetapkan secara resmi Hari Jadi Wonomulyo.

Kegelisahan tersebut direspon Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat Abd Halim dengan mensuppor pertemuan berbagai stakehokders terkait untuk membicarakan Hari Jadi Wonomulyo. Pertemuan dikemas dalam bentuk Fokus Grup Discussion (FGD) tentang “Eksistensi Diaspora Kolonisasi Mapilli”, berlangsung 5-6 Desember di Pendopo Wonomulyo, yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat.

Abd Halim mengatakan, Wonomulyo dikenal sebagai pusat perdagangan dan perekonomian Polman. Karena itulah, ia merespon positif pemikiran para tokoh pemuda dan masyarakat untuk membicarakan penetapan Hari Jadi Wonomulyo.

“FGD ini sangat penting sebagai respon terhadap perkembangan dan kemajuan Wonomulyo hari ini, untuk membincang sejarah kedatangan kolonisasi Mapilli yang memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan  pesat Wonomulyo,” tutur Halim, pada pembukaan FGD, Senin 5 Desember.

Karena itulah, ia berharap Bupati dan Pemkab Polman  terus mensuppor Wonomulyo, karena menurutnya kini ada kemunduran.

“Kami menilai sekarang Wonomulyo ada kemunduran di Polman,” imbuh  legislator PDI Perjuangan itu, tanpa merinci kemunduran yang ia maksud.

la berharap sejarah WonomuIyo terus digali, apalagi masih ada beberapa saksi hidup yang bisa dijadikan sumber informasi. Setelah ada rumusan FGD akan dilakukan seminar penetapan Hari Jadi Wonomulyo. (emd)

__Terbit pada
07/12/2022
__Kategori
Parlemen