Pasangan lansia Abidin dan Dalsia.

Pemulung Lansia Jelajahi Puluhan Kilometer Pakai Becak

SEPASANG suami-istri sedang bersusah-payah mendorong becak di pendakian. Becaknya penuh barang bekas. Tempat duduk penumpang dan lantainya hampir tak tersisa. Bermuatan barang dalam karung maupun yang berserakan. Tenda becaknya penuh juga tumpukan karton bekas yang diikat tali rapia.

Pasutri tersebut, Abidin dan Dalsia, mengaku beralamat Majene. Keduanya sudah lansia (lanjut usia). Abidin menyebut usianya 65 tahun. Sedangkan Dalsia sepuluh tahun lebih muda. Menjalani hidup sebagai pemulung. Setiap hari menyusuri jalan menggunakan becak tua.

Abidin menyebut becak tua itu merupakan modalnya sebagai pemulung. Yang digunakan kemana-mana mencari barang bekas. Tidak hanya dalam wilayah Kota Majene dan sekitarnya. Tapi menjelajah sampai ke Wonomulyo, Polewali Mandar sejauh hampir 40 kilometer. Biasanya ditempuh enam jam. Termasuk istirahat beberapa kali.

“Setiap hari kami mencari barang (bekas) dengan becak ini. Tidak hanya di Majene, sering juga ke Wonomulyo,” jelas Abidin. Penulis berbincang dengan keduanya saat beristirahat di pinggir jalan Trans Sulawesi di Kandemeng, Tinambung, beberapa hari lalu.

Katanya, hasil yang diperoleh sebagai pemulung tidak menentu. Apalagi pada musim hujan. Dalam seminggu biasanya paling banyak Rp300.000. Barang bekas yang dikumpul bermacam-macam. Kebanyakan kertas karton. Yang lainnya, seperti plastik, dan botol bekas. Dikumpulkan beberapa hari sampai seminggu, selanjutnya dijual kepada pengumpul.

Siang itu, Abidin dan Dalsia terlihat cukup lelah. Setelah berusah-payah mendorong becak menaklukan tanjakan di ruas jalan tersebut dari arah Majene ke Polewali. Keduanya meninggalkan rumahnya di belakang Lapas Majene sekira pukul delapan pagi. Singgah beristirahat menjelang waktu sholat Jumat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Wonomulyo, Abidin shalat Jumat di Masjid Kandemeng.

Saat berada di jalanan datar, sang istri berada di atas becak yang didayung suaminya. Dalsia mengatakan sudah terbiasa terjepit di antara tumpukan barang bekas di atas becak. Termasuk menggendong barang untuk bisa duduk di atas becak. Perempuan yang belum punya anak itu, membantu suaminya mendorong becak saat berada di pendakian. Abidin mengaku sudah terbiasa mendayung becak bermuatan berat atau mengantar penumpang jarak jauh.

Sebelum menjadi pemulung, Abidin bekerja sebagai tukang becak. Ia putar haluan karena banyak saingan. Pria yang mempunyai beberapa anak dari istrinya sebelum Dalsia, menyatakan bersyukur sudah memiliki becak sendiri sejak beberapa tahun lalu. Yang kini menjadi modalnya setiap hari menjelajah berbagai tempat mencari barang bekas.

“Dulunya saya bawa becak. Karena banyak saingan akhirnya saya seperti sekarang (menjadi pemulung),” jelasnya.

Bagi Abidin, yang penting diperoleh dari hasil sendiri dengan cara yang halal. Walau memiliki beberapa anak, malah ada yang sudah menjadi “orang”, menurut Abidin, semua anaknya sibuk dengan urusan pekerjaannya.

“Bukannya saya tidak punya anak. Ada beberapa anak dari istri sebelum yang ini (Dalsia). Malah ada yang sudah berhasil punya mobil. Mereka semua sibuk dengan pekerjaannya. Yang penting saya juga selalu bersabar dengan pekerjaan begini, biarpun hasilnya tidak seberapa,” tutur Abidin, sambil melirik Dalsia di sampingnya. “Yang penting kita tidak pergi meminta-minta,” cetuas Dalsia, menegaskan pernyataan suaminya. (M Danial)

__Terbit pada
19/06/2022
__Kategori
Sosial