Maramang dan ananya Busman, warga Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar.

Kisah Maramang di Tinambung, Lansia 72 Tahun Seorang Diri Rawat Anak Berkebutuhan Khusus

TINAMBUNG,- Seorang wanita tua di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, harus menjalani hidup dengan kondisi memprihatinkan akibat belitan kemiskinan. Ironis, dengan usia yang tidak lagi muda, dia harus terus berjuang mencari nafkah demi menyambung hidup, sembari merawat seorang anaknya yang berkebutuhan khusus.

Kisah memilukan ini dijalani Maramang (72 tahun), warga Desa Karama, Kecamatan Tinambung. Wanita lanjut usia (lansia) ini tinggal bersama sang anak semata wayang bernama Busman (40 tahun).

Walau memiliki anak yang sudah berusia dewasa, tidak lantas membuat beban hidup Maramang sedikit berkurang. Sebaliknya, ia harus meluangkan waktu dan memberikan perhatian lebih, untuk mengurus Busman yang keterbatasan mental sejak dilahirkan.

“Semuanya masih harus diurusi, mulai dari mandi, makan bahkan untuk buang kotoran,”kata Maramang kepada wartawan, Minggu (5/6/2022).

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Maramang bekerja sebagai pemintal tali tambang, dengan upah 400 ribu rupiah sebulan. Pekerjaan ini dilakoni Maramang dari pagi hingga sore hari.  Agar tidak merasa cemas, sang anak Busman selalu dibawa serta ke tempatnya bekerja.

“Tidak pernah saya tinggal di rumah, pasti ikut ke sini, soalnya saya khawatir kalau biarkan dia sendiri di rumah,”ungkapnya lirih.

Jarak rumah Maramang ke tempatnya bekerja sekira 500 meter. Walau usianya tidak lagi muda, perjalanan ke tempat bekerja dilakukan Maramang dengan berjalan kaki, melewati jalan menanjak di tengah pemukiman.

Agar tidak menguras waktu dan tenaga, Maramang memilih bertahan di tempatnya bekerja ketika jam istirahat tiba. Perbekalan berupa nasi putih dengan lauk seadanya, sudah disiapkan sejak berangkat dari rumah, untuk dinikmati bersama Busman, sang anak tercinta.

Menurut Maramang, sudah dua bulan terakhir ia sulit bekerja. Salah satu kakinya sakit, usai terjatuh dan sempat membuatnya terguling di tempat bekerja.

“Sudah dua bulan ini nak saya sulit bekerja. Begitumi nak, kaki ku sakit, karena sempat jatuh dan terguling di tempat kerja,”tuturnya sembari meneteskan air mata.

Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Maramang mengaku hanya mengandalkan belas kasih warga, termasuk bantuan sosial dari pemerintah.

“Alhamdulillah karena ada ini voucher dari pemerintah, tiap bulan dapat beras, biasa juga ada warga yang kasih bantuan,”ujarnya.

Sehari-hari Maramang dan Busman tinggal di rumah panggung semi permanen, berukuran 5×7 meter. Rumah tersebut tampak sudah mulai lapuk, meski pernah mendapat bantuan bedah rumah dari pemerintah.

Salah satu sisi dapur berdinding bambu, sementara sebagian atap rumah sudah terlepas.  Tidak jarang Maramang dan Busman harus melewati malam dengan kondisi kedinginan, apalagi saat angin kencang bertiup disertai hujan deras.

“Mau bagaimana lagi. Ini rumah juga sudah pernah kena beda rumah. Mungkin bedah rumah yang pertama,”imbuh Maramang pasrah.

Di rumah ini, nyaris tidak terlihat satupun barang berharga. Hanya ada perlengkapan dapur dan beberapa liter beras. Sebuah kasur using, menjadi tempat ternyaman bagi Maramang untuk merebahkan diri bersama Busman sang penyemangat hidupnya.

Kendati harus menjalani hidup dengan kondisi memprihatinkan, Maramang mengaku tidak pernah berkecil hati apalagi mengeluh. Dalam setiap sujudnya, ia selalu memanjatkan doa kepada Tuhan agar memberi kesehatan dan kekuatan. Ia juga berharap Busman bisa normal seperti warga lainnya, sehingga kelak dapat hidup mandiri. (Thaya)

__Terbit pada
06/06/2022
__Kategori
Sosial