Safriadi bersama murid kelas jauh SDN 044 Riso, Kecamatan Tapango, Kabuapten Polewali Mandar. (ist)

Ketika Guru Sukarela di Tapango “Hibahkan” Haknya kepada Pemerintah

M Danial

MERINTIS pembukaan sekolah, terlebih di dusun terpencil bukan pekerjaan mudah. Tidak banyak orang yang mampu melakukan. Tidak hanya butuh modal semangat. Lebih dari itu, diperlukan dedikasi dan militansi, serta kesanggupan menghadapi tantangan.

Salah satu dari sedikit orang yang telah membuktikan kemampuannya adalah Safriadi, warga Desa Riso, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Berawal dari keprihatinannya terhadap anak-anak warga Tondopata, salah satu dusun di Desa Riso, pada 2008 lalu. Jaraknya sekira empat kilometer dari pusat desa, tapi letaknya di tengah hutan. Kala itu, untuk mengakses Tondopata butuh perjuangan yang tidak ringan. Jalur transportasi yang ada hanya sebatas perintisan. Berupa jalan tanah yang terjal, berlubang dan berlumpur di musim hujan, bahkan harus melintasi sungai.

Bagi Safriadi, kondisi itu merupakan tantangan yang menjadi penyemangat dalam ikhtiarnya untuk pendidikan anak-anak Tondopata. Alumni Strata Satu Matematika itu mengawali langkahnya dengan mendata anak usia sekolah di dusun terpencil tersebut. Jumlahnya 40 orang. Data itu didiskusikan dengan pemerintah desa dan kepala SDN 044 Riso. Tujuannya menawarkan solusi untuk pendidikan anak-anak Tondopata, membuka kelas jauh di dusun tersebut.

Awalnya, ada yang meragukan ikhtiar Safriadi bisa terwujud. Terutama soal tenaga guru yang siap ke Tontopata dan pembiayaannya. Safriadi memaklumi pertanyaan tersebut. Namun, ia berhasil meyakinkan untuk mewujudkan. Yang penting, direstui membuka kelas jauh. Mengingat keberlanjutan pendidikan murid kelas jauh ke jenjang selanjutnya. Keyakinan Safriadi untuk mewujudkan niatnya, disambut baik juga warga Tondopata.

“Awal-awal memulai untuk membuka kelas jauh, ada yang merespon meragukan.  Mungkin karena saya hanya warga biasa. tidak ada latar belakang guru. Ada juga pertanyaan soal pembiayaannya. Tapi, alhamdulillah akhirnya bisa jalan. Warga di sana (Tondopata) menyambut baik juga, siap memberi dukungan semampunya,” ungkap Safriadi, mengisahkan perjalanannya merintis kelas jauh di Tondopata.

Kelas jauh SDN 044 Tondopata dirintis Safriadi bersama salah satu pemuda setempat bernama Arifuddin. Keduanya juga bersukarela menjadi tenaga pengajar, lantaran belum ada guru yang siap menjadi pengajar di kelas jauh SDN 044 Tondopata.

Kelas dan lapangan yang dibangun menggunakan dana dari platform kitabisa.com, yang akhirnya dihibahkan Safriadi kepada pemerintah Kabupaten Polewali Mandar.

Proses belajar murid kelas jauh ini, awalnya dilaksanakan di sanggar tani. Kemudian pindah ke kolong rumah warga setelah dua tahun berjalan. Ruang kelas dipisah menggunakan pembatas sekedarnya.

Seiring perjalanan waktu, Safriadi berhasil menggalang partisipasi masyarakat mendirikan bangunan darurat. Kayu bahan bangunan dan atapnya, dikumpul masyarakat secara bertahap.

“Saya sangat bersyukur karena masyarakat di sana sangat bersemangat adanya kelas jauh. Tahun ke empat sudah ada tempat tersendiri yang memungkinkan anak-anak bisa lebih tenang belajar. Bangunan nonpermanen, bentuknya bangunan darurat. Tapi kebersamaan masyarakat berswadaya sangat patut diapresiasi,” ungkap Safriadi, membanggakan orang tua muridnya.

Dijelaskan, bahwa bahan bangunan berupa kayu dikumpul sedikit-demi sedikit. Secara bertahap diolah menjadi tiang maupun dinding. “Pengadaan atap seng dikumpul sedikit-demi sedikit juga,” ujarnya.

Tahun 2019, setelah sebelas tahun perjalanan kelas jauh SDN 044 Riso di Tondopata. Safriadi tetap bersemangat mengajar. Bahkan Safriadi sempat menjadi guru tunggal kelas I sampai kelas IV, setelah Arifuddin memutuskan berhenti untuk mengajar pada tahun 2011. Menurut Supriadi, proses belajar murid yang naik kelas V dan duduk di kelas VI tetap dilangsungkan di sekolah induk.

Semangat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya makin menggembirakan. Apalagi, setelah melihat belasan anak tamat dan lanjut ke tingkat SMP. Safriadi menyatakan salah seorang muridnya yang tamat tahun 2014 di SD induk, sekarang menjadi anggota TNI.

Safriadi mengaku menyadari kemampuannya sebagai guru yang selama ini hanya berbekal buku panduan mengajar. Otodidak. Tapi, murid kelas jauh yang naik kelas V bisa langsung beradaptasi dengan teman kelasnya di SD induk yang merupakan lingkungan baru bagi mereka.

Beberapa tahun mengabdi sebagai guru kelas jauh, Safriadi menyandang status tenaga sukarela dengan “gaji” Rp300.000 perbulan dari sekolah induk, SDN 044 Riso. Tahun 2013 “gaji”-nya menjadi Rp350.000. Bertambah Rp50.000 perbulan. Kenaikan  menjadi Rp750.000 diterima mulai 2019. Ayah dua anak itu mengaku sudah dua kali ikut ujian PNS. Tapi belum beruntung untuk merubah status sebagai tenaga sukarela.

Kendati berstatus guru sukarela, tidak menyurutkan semangat Safriadi untuk mengembangkan kelas jauh rintisannya. Upayanya terus dilakukan melalui berbagai cara. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Penggemar sepakbola itu mendapat perhatian dari pengelola platform penggalangan dana Kitabisa.com.

Hasil penggalangan dana kitabisa.com pada tahun 2019, dimanfaatkan Safriadi membeli tanah seluas 50 are di Tondopata senilai Rp 110 juta, kemudian membangun gedung permanen berukuran 7×9 meter, senilai Rp 93,5 juta.

“Pihak Kitabisa.com terpanggil membantu, menghimpun donasi selama tujuh bulan sebanyak Rp203 Juta. Semua diberikan untuk dimanfaatkan mengenbangkan kelas jauh yang kita bina selama ini. Donasi itu saya manfaatkan membeli tanah berupa kebun 50 are dan membangun gedung permanen,” jelas Safriadi, mengenai bantuan Kitabisa.com.

Menariknya, tanah dan gedung permanen yang diperoleh karena kerja keras dan kepercayaan Kitabisa.com kepada Safriadi, telah diserahkan sebagai hibah kepada Pemkab Polman. Menurut Safriadi, penyerahan hibah melalui kepala SDN 044 Riso. Bukan oleh Safriadi yang telah mengupayakan bantuan dari pengelola platform Kitabisa.com, dengan alasan yang menyerahkan hibah kepada pemerintah harus yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil).

“Saya heran juga, katanya yang bisa menyerahkan hibah ke pemerintah harus PNS. Padahal, yang aset itu dibeli dari kerja-kerja saya sebagai pribadi untuk kepentingan kelas jauh. Karena katanya harus PNS yang bisa menyerahkan hibah kepada pemerintah, ya saya mengikuti kalau aturannya seperti itu, demi kepentingan anak-anak di Tondopata,” ungkap Safriadi, di kantor desa Riso, beberapa hari lalu. Kepala Desa Riso, H Onang pun mengaku heran penyerahan hibah harus yang berstatus PNS. (*)

__Terbit pada
30/06/2022