M Danial. doc

Kerjasama Ma’balu

Oleh M Danial

MA’BALU sudah umum diketahui artinya dalam bahasa Mandar: menjual. Tepat juga sebagai sebuah gagasan untuk membingkai kerjasama memajukan daerah. Mamuju, Sulawesi Barat, Balikpapan (Kalimantan Timur), danĀ  Palu (Sulawesi Tengah). Untuk menguatkan sinergitas tiga daerah yang merupakan segi tiga emas perekonomian dan perdagangan. Disingkat MABALU.

Gagasan kerjasama tiga daerah, dilontarkan Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud pada pertemuan dengan Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar, di Balikpapan. Keduanya memiliki pandangan yang sama, menggaungkan gagasan Mabalu yang diyakini akan menghasilkan dampak ekonomi signifikan tidak hanya di wilayah tiga daerah. Termasuk pula bagi daerah sekitarnya, terlebih menyambut IKN (ibu kota Negara) di Penajam Paser Utara, yang letaknya bersebelahan dengan Balikpapan.

Walikota Rahmad Mas’ud menyambut hangat kedatangan Ali Baal Masdar, untuk menguatkan silaturahmi yang telah terjalin dan ke depan. Pria berdarah Mandar itu berharap kerjasama Pemkot Balikpapan dengan Sulbar untuk bersinergi di semua bidang bisa segera terwujud. Bagaimana konsep Mabalu tidak hanya sebatas sebuah slogan, tapi terwujud menjadi kebijakan yang dilakukan bersama secara kongkrit.

Pertemuannya dengan Gubernur Ali Baal Masdar yang disertai beberapa pejabat Pemprov Sulbar, meyakinkan Walikota Rahmad Mas’ud konsep Mabalu bisa segera terwujud. Tidak hanya sebagai gagasan yang bersifat slogan. Para pejabat yang menyertai Gubernur Sulbar, tentunya sudah memiliki pemikiran yang perlu dilakukan untuk menindaklanjuti konsep Mabalu tersebut.

Kesepahaman Walikota Balikpapan dan Gubernur Sulbar tentang Mabalu, perlu segera dikongkritkan secara tertulis. Kesepahaman hanya akan sebatas wacana jika tidak disertai langkah kongkrit dan kebijakan yang mendukung pelaksanaannya. Termasuk data riel potensi daerah yang merupakan faktor sangat penting dalam tindak lanjut kerjasama Mabalu. Sulbar memiliki banyak potensi di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan dan perikanan, maupun kepariwisataan. Potensi itu tersebar di enam kabupaten.

Berbagai jenis jenis komoditi dari sektor tersebut, telah rutin disuplai para pelaku usaha untuk kebutuhan konsumen di berbagai daerah di luar Sulbar. Aktifitas para pelaku usaha yang selama ini dilakukan secara sendiri-sendiri, tentu akan lebih baik dan makin lancar dengan fasilitasi yang terkoordinasi dengan baik. Untuk itulah, diperlukan peran pemerintah berupa kebijakan untuk kenyamanan berusaha para pelaku ekonomi.

Menindaklanjuti kerjsama Mabalu tidak perlu menunggu waktu lama. Setidaknya, untuk Sulbar penadatanganan MoU (memorandum of indeks tanding) dengan daerah (kabupaten) sesuai identifikasi kebutuhan yang menjadi prioritas ke Balikpapan. Kerja sama yang kongkrit tidak hanya untuk Balikpapan yang disebut Walikota Rahmad Mas’ud selama ini memenuhi kebutuhan warganya 90 persen dari luar. Akan memberi manfaat juga bagi perekonomian Sulbar.

Sebelum pertemuan dengan Walikota Balikpapan, Gubernur Ali Baal Masdar dalam kunjungan ke Kaltim yang disertai para pejabat Pemprov Sulbar, selama dua hari akhir pekan lalu, bertemu juga dengan Wagub Kaltim Hadi Mulyadi bersama para pejabat Pemprov Kaltim. Tujuannya sama, menjajaki kerjasama untuk manfaat bagi daerah dan rakyat kedua provinsi. Sulbar sangat berkeinginan untuk berkontribusi, terlebih menyambut IKN (ibukota negara) di Banua Etam, Borneo itu.

Nah, kini kita menantikan kerjasama Mabalu dan kerjasama dengan Pemprov Kaltim segera kongkrit, tidak hanya sebatas kesepahaman. (*)

__Terbit pada
30/11/2021
__Kategori
Opini