Kepala Puskesmas Mapilli H Saldy Kursani bersama Kepala Desa Landi Kannusuang Halifuddin. ist

“Maaf, Saya Panggil Haji”

Catatan M Danial

VAKSINASI Covid-19 terus digencarkan untuk mewujudkan kekebalan kelompok. Sering disebut herd immunity, agar penularan virus corona tidak meluas. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk meningkatkan jangkauan vaksinasi. Aneka model pendekatan diterapkan. Istilah serbuan vaksin terdengar dimana-mana, menggaung sampai ke desa-desa.

Antrean warga untuk menerima vaksin di kantor Desa Landi Kanusuang, Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, Sabtu akhir pekan lalu. Mereka terlihat antusias menunggu giliran. Saya berbaur di antara mereka. Menunggu pelayanan vaksin kedua. Sekaligus  menjadi pendengar yang baik percakapan warga setempat mengenai berbagai hal. Jadwal vaksin saya sudah lewat beberapa hari, setelah sebulan lebih vaksin pertama: Sinovac di tempat lain.

Menyimak percakapan warga mengenai vaksin, di antara mereka merasakan kelainan dan efek tertentu pascavaksin pertama. Terjadi KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Namun, tidak membuat mereka menolak untuk vaksin kedua. Buktinya, tetap datang dan rela antre untuk mendapat layanan. Ada juga yang sudah tiga kali siap divaksin, selalu tertunda karena tidak memungkinkan berdasarkan pemeriksaan awal petugas kesehatan.

Pendekatan model apa yang dilakukan kepada warga setempat, sehingga antusias untuk vaksin ? Kepala Desa Landi Kanusuang, Halifuddin mengatakan tidak punya tips khusus. Katanya, biasa-biasa saja. Pendekatan persuasif dan selalu mengajak warga berdialog. Memanfaatkan juga setiap kesempatan bertemu dengan masyarakat, mengajak memikirkan kesehatan dirinya, keluarganya, dan orang lain. Mengajak juga masyarakat memelihara kebiasaan yang diwariskan para leluhur untuk saling bantu-membantu. “Menjaga diri, keluarga dan tetangga, merupakan kebiasaan sejak nenek moyang,” katanya.

Warga yang terdaftar dalam antrean sebagai calon jamaah haji di desa tersebut, dijadikan prioritas oleh Halifuddin untuk divaksin. Pertemuan majelis taklim calon jamaah haji, dimanfaatkan untuk mengedukasi mereka. Katanya, semua yang sudah terdaftar sebagai calon haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten, sebagian besar sudah divaksin. Ia menyebut jumlahnya sekira 200-an orang, tersebar di lima kampung desa setempat.

Menurut Halifuddin, pada pertemuan majelis taklim calon haji, ia menyapa warganya dengan pak Haji, atau bu Haji. Maksudnya ? Kepada mereka, disampaikan bahwa niatnya untuk menunaikan rakun Islam kelima sudah dicatat malaikat. Pelaksanaannya tinggal menunggu waktu. “Karena itulah, saya sampaikan kepada mereka pentingnya vaksin, yang sudah ditetapkan sebagai persyaratan bagi setiap calon jamaah haji.”

“Maaf, saya panggil ki pak haji, atau bu haji, karena pada dasarnya kita tinggal tunggu waktu untuk berangkat menunaikan ibadah haji,” kata Halifuddin, menceritakan model pendekatan kepada warganya untuk vaksin. Hasilnya, mereka yang sudah terdaftar dalam antrean calon haji di desa itu, sebagian besar sudah divaksin. Yang lain, masih menunggu giliran. Pendekatan persuasif ala Kades Landi Kanusuang tersebut, patut ditularkan ke wilayah lain. Mengedepankan dialog dan cara persuasif lainnya, diyakini lebih tepat untuk menyemangati masyarakat. Ketimbang dengan cara yang terkesan mengabaikan hak-hak rakyat mendapat pelayanan. Apalagi, menghalangi hak rakyat bekerja dan berusaha untuk kehidupan sehari-hari. (*)

__Terbit pada
19/10/2021
__Kategori
Opini