Gaungkan Kebanggaan Pakai Tenunan Tradisional Sulbar

Catatan M Danial

Sulawesi Barat memiliki tiga produk tenunanĀ  tradisional yang khas. Merupakan kekayaan budaya yang berasal dari kearifan lokal. Sangat prospektif sebagai potensi pengembangan ekononi kteatif di sektor kepariwisataan. Produk tradisional dimaksud, yaitu tenunan lipaq saqbe (sarung sutra) Mandar, tenunan kain Sekomandi, Kalumpang, dan tenunan Sambu’ Mamasa.

Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar, menyatakan pentingnya kecintaan dan menjaga kelestarian tenunan khas tradisional tersebut.
Perlu terus dilakukan upaya menggairahkan semangat para penenun tradisional dan pelaku usaha melakukan inovasi dan kreatifitas dengan aneka corak yang menarik, tanpa kehilangan ciri khas sebagai tenunan tradisional Sulawesi Barat.

“Para penenun atau panetteq sarung sutra Mandar, dan kelompok penenun yang tersebar di berbagai tempat di daerah kita, perlu terus diberi semangat supaya lebih kreatif dan inovatif menekuni usahanya. Membuat dan melahirkan aneka sureq atau motif yang selalu menarik, tanpa kehilangan ciri khas lipa’ saqbe Mandar,” kata Gubernur Ali Baal Masdar, pada peluncuran sureq atau corak baru sarung sutra Mandar yang diberi nama ‘sureq Marasa’. Peluncuran dilakukan secara virtual pada acara Semesta Saqbe Mandar, Sabtu 11 September malam.

Salah satu bentuk dukungan untuk menggairahkan tenun sutra Mandar usaha ekonomi kreatif, adalah menjadikan saqbe Mandar atau produk tenun khas tradisional Sulbar lainnya, sebagai pakaian kegiatan formal pemerintahan maupun swasta. Setidaknya, para pegawai pemerintah menjadikan kain tenunan tradisional sebagai busana pada hari kerja tertentu. Cara tersebut, akan menjadikan usaha para panetteq lipa’ saqbe Mandar bisa bergairah. Dan dirasakan manfaatnya untuk menunjang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para panetteq.

Fenomena belakangan ini. Jumlah penenun lipa’ saqbe Mandar makin berkurang, dan dikuatirkan terancam punah karena makin berkurangnya minat para remaja putri belajar manetteq. Profesi tersebut dianggap zamannya sudah berlalu. Tidak menjanjikan pula dari segi ekonomi untuk perbaikan kesejahteraan karena berbagai faktor, terutama persaingan pasar. Harga jual produk juga tidak sebanding dengan proses dan biaya produksi yang dibutuhkan.

Kain tenun Sekomandi, merupakan warisan leluhur masyarakat Kalumpang, Kabupaten Mamuju yang memiliki nilai sejarah dan budaya lokal. Kain Sekomandi juga menghadapi ancaman kepunahan karena minat para perajin makin berkurang. Pasalnya, hasil yang mereka peroleh tidak sebanding untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Tenunan tradisional Sambu’ (sarung) Mamasa, berupa sarung khas warisan leluhur secara turun-temurun. Yang digunakan warga Mamasa sebagai pelengkap pakaian untuk menangkal hawa dingin pegunungan. Kain Sambu’ berukuran bervariasi, mulai ukuran selempang hingga selumut yang digunakan para orang tua maupun anak muda. (*)

__Terbit pada
12/09/2021
__Kategori
Opini