Warga bahu membahu membersihkan material lumpur yang terbawa banjir, di Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis malam (26/08/2021).

20 Rumah Warga Pasiang-Matakali Terdampak Banjir , 10 Kepala Keluarga Mengungsi  

MATAKALI,- Sedikitnya dua puluh rumah warga di Kabupaten Polewali Mandar, terdampak banjir setinggi satu meter yang membawa material kayu dan lumpur.

Peristiwa yang sempat memicu kepanikan warga ini terjadi di Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kamis malam.

Menurut warga, banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang melanda daerah ini sejak sore hari. Saat banjir terjadi, warga mengaku sempat mendengar suara gemuruh.

“ Pas setengah enam sudah hujan. Hujan deras juga di hulu. Setelah magrib air sudah naik, disertai lumpur. Sempat ada suara gemuruh, “ kata salah satu warga yang rumahnya terdampak banjir, H Baharuddin kepada wartawan, Kamis (26/08/2021).

Kendati hanya beberapa jam saja, diakui Baharuddin, banjir kali ini adalah yang paling parah dibanding sebelumnya.

“ Banjir terjadi mulai jam enam sore. Kira-kira tiga jam saja sudah surut. Tetapi ini yang paling parah, barusan air masuk di sini, “ ungkap Baharuddin sembari menyingkirkan material lumpur setebal tiga puluh sentimeter yang memenuhi ruangan rumahnya.

Kepala Desa Pasiang Sitti Nurjannah mengaku, sedikitnya ada dua dusun di wilayahnya yang terdampak paling parah akibat peristiwa banjir ini.

“ Kalau yang terdampak kurang lebih 20 kepala keluarga, dua dusun, dusun tajangan dan dusun tabone, “ ujar Nurjannah saat memantau kondisi rumah warganya.

Kendati tidak menimbulkan jatuhnya korban jiwa, Nurjannah menyebut, ada sedikitnya sepuluh kepala keluarga di desanya yang terpaksa mengungsi karena rumahnya terdampak banjir.

“ Kurang lebih 10 kepala keluarga yang mengungsi, “ tandas Nurjannah singkat.

Menurut Nurjannah, banjir tidak hanya dipicu tingginya curah hujan, tetapi juga akibat penyumbatan pintu bendungan, hingga sungai yang menyempit.

“ Akibat tadi pengaruh lama hujan deras, terus bendungan tersumbat, banyak kayu yang hanyut, perlu normalisasi sungai, karena sungai juga sudah menyempit, “ bebernya berharap perhatian pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Berdasarkan pantauan wartawan, puluhan warga setempat bahu membahu menyingkirkan material kayu dan sampah yang menyumbang pintu bendungan dan aliran sungai, agar air mengalir dengan lancar.

Sementara warga yang rumahnya terdampak banjir disertai endapan lumpur, harus bekerja keras menyingkirkan material lumpur dengan alat seadanya.

Sejauh ini pemerintah desa masih melakukan pendataan, untuk mengetahui total kerugian yang dialami warga akibat peristiwa ini. (Thaya)

__Terbit pada
26/08/2021
__Kategori
Peristiwa