Ali Baal Masdar. ist

Komentar ABM Soal Deadlock Musorprov KONI Sulbar

Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Sulawesi Barat, berakhir dead lock Senin 28/2 malam lalu. Menyusul kondisi tersebut, Tim Penjaringan dan Penyaringan calon Ketua KONI Sulbar periode 2021-2025 dari KONI Pusat, kembali ke Jakarta.

Merespon dinamika Musorprov tersebut,  Ali Baal Masdar yang sebelumnya ditetapkan sebagai calon tunggal Ketua KONI Sulbar periode 2021-2025 dengan bijak menyatakan menyerahkan ke KONI Pusat.

Melalui rilis ke media, Kamis 1/7, pria yang juga Gubernur Sulbar itu berpandangan bahwa pendapat yang berkembang terkait Musorprov, merupakan hal yang wajar di era demokrasi seperti sekarang. Pro-kontra mengenai pencalonannya sebagai Ketua KONI, dilihatnya srbagai bentuk perhatian dan rasa sayang terhadap dirinya. Namun, ia berharap kita selalu sadar sebagai masyarakat yang berbudaya dan menghargai kesantunan. Karena itulah, saya berpikir masalah mosorprov lebih baik diserahkan ke KONI Pusat untuk memberi solusi terbaik, demi pembinaan olahraga di Sulbar terutama menghadapi PON XX di Papua yang sudah di depan mata.

Ia menyampaikan beberapa hal terkait kesiapannya menjadi Ketua KONI Sulbar periode 2021-2025. Pertama, mendaftar sebagai calon untuk menahkodai KONI periode 2021-2025 sama sekali tidak didasari keinginan menguasai organisasi tersebut. “Saya sangat sadar, bahwa menahkodai organisasi seperti KONI bukan hal yang ringan. Apalagi dengan kondisi olahraga di Sulbar yang minim prestasi. Dilanda keterpurukan.”

Kedua, ia berpandangan bahwa KONI sebagai organisasi yang diamanahkan UU untuk pembinaan keolahragaan, yang bertujuan mempersatukan. Sebab dengan olahraga, kita kembali ke fitrah. Dalam berolahraga, kita semua sama. Terlepas dari status, jabatan, atau kedudukan. Olahraga tidak hanya mengandalkan kemampuan. Karena dalam pertandingan, faktor yang menentukan adalah nasib atau keberuntungan. Sebab tidak ada yg bisa memastikan hasil akhir dalam pertandingan. Itulah menariknya olahraga.

Menurutnya, setiap olahragawan atau atlet memiliki target untuk menang dalam setiap pertandingan. Atlet yang baik, akan selalu berpikir meraih kemenangan secara fair dan kalah secara terpuji. Menjunjung tinggi sportifitas. Olahragawan disebut pahlawan, karena berhasil mengharumkan nama kelompok atau kontingennya. “Itulah yang saya maksudkan olahraga bersifat mempersatukan,” ujarnya.

Dikemukakan, bahwa juara dalam olahraga bukan ditemukan. Tidak muncul secara tiba-tiba. Untuk meraih prestasi, harus direncanakan, diciptakan, disiapkan sejak dini. Dimulai dari perencanaan yang baik, matang. Program pembinaan yang terarah, berkesinambungan. Dukungan sarana dan prasarana yang menunjang, pembinaan atlit potensial, pelatih yang handal, kompetisi yang teratur, dana yang mendukung. Kalau semua tertangani dengan baik, akan membuahkan prestasi dan para juara. Untuk itulah, olahraga harus dikelola secara terorganisasir.

Pengelolaan organisasi olahraga, oleh komite olahraga maupun cabang olah raga di setiap tingkatan, sasaran utamanya untuk meningkatkan prestasi, menjaring bibit atlet potensial pada berbagai cabang olahraga, mendorong peran serta masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi. Selain itu, olahraga merupakan perekat persatuan dan kesatuan.

Pria yang kerap disapa ABM itu merespon positif dorongan untuk mempin KONI Sulbar, didasari niat untuk mengabdi, dan memiliki pengalaman sebagai ketua Koni Polewali Mandar (semasa sebagai Bupati). ABM juga merupakan salah satu inisiator Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Sulbar I, tahun 2007. Ia berpengalaman juga sebagai atlet dan menjadi peraih medali emas Porda Sulsel, beberapa tahun silam.

“Berdasarkan pemikiran tersebut,  saya merespon baik teman-teman yang mendorong menjadi calon Ketua KONI Sulbar periode 2021-2025,” jelasnya.

ABM sudah merumuskan visi “Terwujudnya KONI Sulawesi Barat sebagai organisasi yang solid untuk meningkatkan prestasi olahraga di Sulawesi Barat”.

Misi, 1. Meningkatkan kualitas tatakelola organisasi KONI Sulawesi Barat. 2. Melakukan penyediaan sarana olahraga yang representatif. 3. Menetapkan standar prestasi olahraga di Sulawesi Barat. 4. Menguatkan koordinasi peran dan tanggung jawab KONI Provinsi dan Kabupaten. 5. Membangun kolaborasi untuk pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga di Sulawesi Barat.

Program kerja yang sudah dirancang terdiri jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka Pendek, adalah konsolidasi organisasi KONI Sulbar periode 2021-2025.

Pemantapan persiapan menuju PON XX di Papua dengan harapan pulang membawa medali. Program Jangka Menengah, tersedianya sekretariat KONI Sulbar yang permanen dan representatif, Identifikasi skala prioritas pembinaan cabang olahraga yang pospektif,

Terlaksananya pembinaan atlet secara terukur setiap cabang olahraga. Selain itu, pelibatan semua stakeholder olahraga dalam perencanaan yang transparan dan akuntabel, dan terwujudnya kolaborasi stakeholder untuk pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga di Sulawesi Barat.

Program jangka panjang yang sudah dirancang, adalah terwujudnya sumberdaya pendanaan organisasi untuk pembinaan dan peningkatan prestasi, memberikan insentif kepada atlet berprestasi yang berbasis pendidikan dan profesi, dan terwujudnya prestasi yang mengharumkan Sulawesi Barat pada PON XXI tahun 2024 di Aceh. (*)

__Terbit pada
03/07/2021
__Kategori
Pemerintahan, Sosial