Respon Pelajar Bertaruh Nyawa di Mamasa, Dikbud Sulbar Kirim Guru Keliling

MAMASA,- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Gufran Darma Dirawan, merespon berita kondisi anak-anak di Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, yang harus bertaruh nyawa untuk ke sekolah dengan bergelantungan di tali jembatan rusak di atas sungai.

Selain menyatakan sedih dan prihatin, ia mengaku akan memberi perhatian, untuk memudahkan anak-anak itu agar tetap bisa belajar, “ Kami akan segera memberi perhatian untuk memudahkan anak-anak itu agar bisa tetap belajar, tanpa harus bergelantungan di tali jembatan, “ kata Gufran kepada wartawan, Jumat (25/06/2021).

Gufran menyebut, upaya yang segera dilakukan adalah mengontak jajaran pendidikan di Kecamatan Mambi, untuk membantu mencari solusi agar anak-anak tetap bisa memeroleh akses pembelajaran. Beberapa guru di Mambi diketahui bersedia mendatangi siswa di Dusun Pamoseang untuk memberi pembelajaran, ” Saya sudah berkomunikasi ke sana, beberapa guru bersedia ke Dusun Pamoseang untuk memberi pembelajaran, sehingga anak-anak tidak lagi harus bertaruh bertaruh nyawa untuk mengakses pembelajaran,” jelas mantan wakil Rektor UNM (Universitas Negeri Makassar) itu.

Menurut Gufran, cara itu dilakukan sebagai wujud komitmen untuk kepentingan pendidikan, sambil menunggu perbaikan jembatan. Ia menyebut, guru yang akan mendatangi Dusun Rantelelamun, akan menempuh jalan memutar menggunakan sepeda motor, dengan jarak cukup jauh melewati wilayah lain, ” Kami sudah pikirkan biaya operasional untuk teman-teman guru yang akan ke Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang sebagai guru keliling. Yang penting, anak-anak tidak lagi harus bertaruh nyawa untuk mengakses pembelajaran,” pungkasnya.

Gufran telah menyampaikan juga upaya sementara yang dilakukan, kepada pihak Kemendikbud-Ristek, menyusul berita viral tentang anak-anak di Pamoseang. Yang dilakukan, khusus terkait dengan akses pembelajaran. Sesuai bidang tugasnya. Mengenai jembatan, merupakan kewenangan pemerintah daerah dan Dinas PUPR.

Sebelumnya diberitakan, puluhan anak usia sekolah asal Dusun Rantelelamun, harus bertaruh nyawa untuk ke sekolah. Mereka menyebrangi sungai, dengan cara bergelantung pada tali jembatan gantung yang sudah rusak parah.

Jembatan gantung yang menjadi akses utama dari dan menuju kampung halaman mereka, rusak parah diterjang banjir pada akhir bulan November tahun 2020 kemarin, membuat hampir semua lantai jembatan terlepas dan hilang.

Diketahui, jarak dari Dusun Rantelelamun menuju pusat Desa Pamoseang yang merupakan tempat sarana pendidikan SD Pamoseang, sekira 1,5 kilometer.

Gufran telah menyampaikan juga upaya sementara yang dilakukan, kepada pihak Kemendikbud-Ristek, menyusul berita viral tentang anak-anak di Pamoseang. Yang dilakukan, khusus terkait dengan akses pembelajaran. Sesuai bidang tugasnya. Mengenai jembatan, merupakan kewenangan pemerintah daerah dan Dinas PUPR. (Thaya)

 

 

 

 

__Terbit pada
25/06/2021
__Kategori
Pendidikan, Sosial