Sejumlah pelajar asal Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, terpaksa bergantung di tali jembatan rusak untuk sebrangi sungai, demi sekolah.

Mengerikan Aksi Pelajar di Mamasa, Bergantung di Tali Jembatan demi Sekolah

MAMASA,- Puluhan anak usia sekolah di Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, harus bertaruh nyawa agar bisa ke sekolah

Mereka terpaksa bergantung dan meniti tali kawat jembatan, untuk sebrangi sungai berarus deras.

Berdasarkan pantauan wartawan, aksi berbahaya ini terpaksa dilukukan, lantaran jembatan gantung sepanjang 45 meter dengan lebar 1,5 meter dalam kondisi rusak parah, sehingga tidak bisa dilewati seperti sedia kala.

Hampir semua lantai jembatan yang terbuat dari kayu sudah hilang. Sementara beberapa kawat bajanya, juga mulai terlepas.

Saat menggantung, anak-anak usia sekolah ini harus extra berhati-hati. Apalagi saat mereka menapakkan kaki di atas kawat, kondisi jembatan selalu bergoyang, hingga membuat keseimbangan terganggu.

Salah satu anak Mutmainnah, mengaku setiap hari melewati jembatan berbahaya ini. Dia mengaku tidak takut karena sudah terbiasa, “ Tidak takut, karena sudah biasa, sudang sering lewat sini, tiap hari, setiap hari mau ke sekolah, ke mambi lewat jembatan ini, “ kata Mutmainnah kepada wartawan sambil tersenyum, Rabu kemarin (23/06).

Kendati berbahaya, diakui Mutmainnah kedua orang tuanya tidak pernah melarang untuk melewati jembatan rusak parah itu. Dia mengaku lebih memilih meniti dan bergantung di jembatan, daripada harus menerobos arus sungai, yang dianggap lebih berbahaya, “ Mama tidak melarang, mereka hanya mengingatkan untuk berhati-hati. Bagus lewat sini, karena tidak basah, kalau lewati sungai kita basah, bahaya juga terseret arus deras, “ ujar gadis cilik yang baru duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar ini.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa Pamoseang Ridwan mengatakan, kerusakan pada jembatan yang menjadi akses penghubung utama menuju Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, telah terjadi sejak akhir tahun 2020 lalu. Jembatan rusak usai diterjang banjir, “ Kerusakan ini tahun 2020 bulan sebelas akibat terdampak banjir, “ ungkapnya.

Menurut dia, pemerintah desa setempat telah mengusulkan anggaran untuk perbaikan jembatan. Namun terkendala pencarian dana yang belum terealisasi, “ Pemerintah desa sudah berusaha semaksimal mungkin. Sudah masuk dalam musrembang desa dan dianggarkan pada tahun ini. Namun karena belum ada pencairan, akhirnya belum terealisasi (perbaikan), “ bebernya.

Ia berharap, pemerintah membantu percepatan pencarian dana desa Pamoseang. Agar anggaran yang diharapkan dimanfaatkan untuk perbaikan jembatan, segera cair, “ Harapan kami, semoga cepat teralisasi, biar tidak seberang sungai lagi, gantung-gantungan sana-sini, apalagi akses satu-satunya dan berbahaya, “ pungkas Ridwan.

Diketahui, Dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, dihuni sedikitnya 150 warga, sebagian diantaranya adalah anak usia sekolah dasar. Desa ini berjarak sekira 10 kilometer dari pusat kota kecamatan Mambi, yang ditempuh dengan waktu kurang dari satu jam, melewati akses jalan yang cukup buruk. (Thaya)

__Terbit pada
24/06/2021
__Kategori
Pendidikan