Salah satu warga yang nyaris terjatuh, ketika melintasi jembatan rusak di dusun Rantelelamun, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa.

Cerita Warga, 2 Gadis Jatuh Saat Lintasi Jembatan Rusak di Mamasa

MAMASA,- Rusaknya jembatan gantung di Dusun Rantelalamun, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, nyaris melumpuhkan aktifitas sedikitnya 150 warga di daerah ini.

Betapa tidak, jembatan gantung sepanjang 45 meter dengan lebar 1,5 meter ini, merupakan akses jalan utama warga Dusun Rantelalamun untuk menyebrangi sungai.

Akibatnya, sejak jembatan rusak akibat terjangan banjir pada akhir bulan November tahun 2020 kemarin, hampir semua warga di daerah ini harus bertaruh nyawa untuk sebrangi sungai, tidak terkecuali anak-anak usia sekolah.

Berdasarkan pantauan wartawan, warga yang ingin beraktifitas ke luar kampung, khususnya anak-anak yang ingin ke sekolah, terpaksa memanfaatkan sisa kawat jembatan gantung sebagai pijakan kaki untuk menyebrangi sungai.

Mereka harus bertaruh nyawa, menapakkan kaki pada kawat besi yang membentang hubungkan kedua sisi sungai.

Berulang kali terlihat, ada warga nyaris terjatuh, lantaran kelelahan dan kehilangan keseimbangan saat menapaki kawat jembatan, yang bergoyang apalagi saat ditiup angin.

Diketahui, sudah dua warga yang pernah terjatuh ke dalam sungai, saat mencoba melintas jembatan. Beruntung keduanya selamat, kendati sempat terbawa arus, “ Pernah ada anak-anak jatuh di sini, gadis-gadis, sudah dua orang, pakai cadar satu, ada juga kemanakan satu, “ ungkap salah salah satu warga Nurhikmah kepada wartawan, usai sebrangi jembatan, Kamis (24/06/2021).

Kendati takut saat melintasi jembatan gantung ini, Nurhikma mengaku tidak dapat berbuat apa-apa lantaran ketiadaan akses jalan lain, “ Takutlah, tapi bagaimana, karena itu sudah…tidak ada jalan lain, tinggal nyebrang,” ujarnya.

Menurut Nurhikma, saat kondisi air sungai sedang surut, ia memilih menyebrangi sungai dengan cara masuk ke dalam air. Jika air sungai meluap, ia enggan masuk ke dalam air tanpa bantuan orang lain, “ Biasa turun ke sungai, tapi nanti ada teman baru bisa. Tapi nanti ada teman baru aku bisa, takut kalau sendiri,” tutur wanita berusa 40 tahun ini.

Kepala Desa Pamoseng M Sabir mengungkapkan kesulitan yang dialami warganya, sejak jembatan rusak, “ Setelah rusaknya jembatan itu, ya masyarakat itu seperti semula di bawah tahun 2013, melewati sungai, “  kata Sabir terpisah.

Ia menjelaskan, jembatan gantung yang rusak parah dibangun pada tahun 2013, sumber dana dari PNPM Mandiri. Bencana banjir membuat jembatan rusak parah, “ Jembatan itu dibangun sejak tahun 2013, sumber dana dari PNPM Mandiri. Pada November tahun 2020 terjadi bencana alam banjir, mengakibatkan lantai daripada jembatan itu hanyut terbawa banjir, “ beber Sabir terpisah.

Walau telah menganggarkan biaya perbaikan jembatan, bersumber dari dana desa, Sabri sangat berharap mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten, agar perbaikan jembatan bisa maksimal, “ Tahun 2021 ini kita anggarkan perbaikan lantai yang rusak, sehingga jembatan bisa normal seperti semula. Kalau misalnya ada bantuan dari kabupaten kami sangat bersyukur selaku pemerintah di tingkat desa, karena tentu anggaran kabupaten lebih besar dari anggaran desa,” tandasnya.

Namun demikian, diakui Sabir, kerusakan jembatan gantung di desanya sebelumnya tidak dilaporkan kepada pemerintah Kabupaten. Ia merasa telah melakukan upaya untuk memperbaiki jembatan tersebut, “ Memang belum pernah dilaporkan, apalagi jembatan ini tanggung jawab pemerintah desa, “ pungkasnya.

Kabar keberadaan jembatan ini diketahui setelah videonya viral di media sosial beberapa waktu lalu. Video tersebut sejumlah pelajar bertaruh nyawa menyebrangi sungai dengan bergelantungan di tali jembatan gantung yang rusak parah. (Thaya)

 

__Terbit pada
24/06/2021
__Kategori
Pendidikan