A B S

Catatan M Danial

PERILAKU senang berpura-pura oleh bawahan atau anggota di organisasi pemerintahan, swasta, atau komunitas yang memiliki struktur atasan-bawahan sangat sering terjadi . Menyampaikan yang tidak sebenarnya untuk menyenangkan atasan. Dilakukan demi mempertahankan posisi, kedudukan, atau jabatan yang telah memberi kenyamanan, menjadi fenomena yang berlangsung sejak lama. Itulah ABS: asal bapak senang.

Modus ABS, dilakukan dengan memberi laporan kepada atasan, secara tertulis maupun lisan yang tidak sesuai kondisi sebenarnya. Kekurangan dan kelemahan ditutupi dengan cara atau alasan yang dibuat-buat. Modus lain, berpura-pura tunduk dan patuh di hadapan atasan. Atau berusaha mengalihkan ke topik lain untuk menghindari pertanyaan mengenai yang sebenarnya. Perilaku ABS, tidak berlebihan disebut sebagai praktik “menjilat”, akan menyebabnya kompetisi tidak sehat dalam organisasi. Yang menjadi ukuran bukan prestasi atau kinerja, melainkan kemampuan melakukan ABS.

Wartawan dan budayawan kawakan Indonesia, Mochtar Lubis, dalam buku “Manusia Indonesia” (Balai Pustaka, 1977) menggambarkan enam sifat yang merupakan ciri manusia Indonesia. Salah satunya, hipokrit atau munafik. Dikatakan, bahwa manusia Indonesia terbiasa selalu berpura-pura. Lain di muka lain di belakang. Penyebabnya, karena sejak dulu manusia Indoneia terbiasa dipaksa oleh kekuatan dari luar untuk menyembunyikan yang sebenarnya dirasakan, dipikirkan, atau dikehendaki karena takut akan ganjaran terhadap dirinya. Mochtar Lubis menyebut salah satu buktinya adalah ABS.

Laporan ABS sudah menjadi fenomena klasik. Tentu tidak semua seperti itu, tapi cenderung identik dengan karakter kebanyakan bawahan kepada atasan, atau pekerja kepada majikan. Agar hasil kerjanya dianggap baik dan diberikan jempol. Karena itulah, jika seorang pimpinan suatu lembaga atau organiasi berbicara tidak sesuai kenyataan sebenarnya, sangat mungkin karena merujuk pada laporan ABS dari bawahan atau pembantunya. Jika pernyataan pimpinan tidak sesuai fakta di mata publik dan dianggap kebohongan, penyebabnya karena kebohongan dari bawahan atau pembantunya.

Sejatinya, bawahan yang baik bukan hanya memiliki kejujuran. Tapi juga, berani dan sanggup mengatakan yang sebenarnya. Tidak menerjemahkan loyalitas dengan perilaku ABS. Sebaliknya, para atasan atau pimpinan perlu selektif menerima laporan. Tidak serta-merta meng-amin-kan setiap laporan. Sangat penting juga, mencermati dan memastikan bukan laporan ABS dari orang yang memiliki sifat seperti bunglon.

Istilah ABS untuk praktik menyenangkan atasan, dikenal sejak zaman kekuasaan Presiden pertama RI, Soekarno. Dikutip dari wikipedia.org., awalnya abs dari nama sebuah grup musik yang terdiri dari sejumlah anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi) untuk menghibur Presiden Soekarno dan mengiringi saat sang Presiden menari lenso atau chacha. Soekarno sendiri, tidak mengetahui bahwa nama grup musik ABS adalah singkatan yang tujuannya untuk menyanjung dan menyenang-nyenangkan sang Presiden.

“Bung Karno, jatuh antara lain karena sanjungan orang-orsng di sekitarnya yang membuat laporan ABS,” kata Probosutedjo, dalam “Kesaksian Sejarah H Probosutedjo: Runtuhnya Pemerintahan Bung Karno-Pak Harto, B.J. Habibie-Gusdur” (2001).

Istilah ABS populer juga pada zaman Orde Baru. Sebagai sindiran atau ungkapan sarkasme untuk laporan para bawahan kepada atasan. laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, ditulis dan direkayasa untuk membuat atasan tersenyum. (*)

__Terbit pada
27/05/2021
__Kategori
Opini, Sosial