Muhammad Shiddiq Shaleh (18 tahun), mahasiswa asal Desa Mambu, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, yang membagi waktu senggangnya dengan berjualan kopi, Rabu (07/04/2021)

Inspiratif ! Kisah Mahasiswa Penjual Kopi di Polman, Siapkan Hammock untuk Pelanggan

POLEWALI,- Kisah inspiratif datang dari seorang mahasiswa bernama Muhammad Shiddiq Shaleh, asal Desa Mambu, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar.

Sudah lebih empat bulan lamanya, anak kelima dari enam bersaudara, pasangan Shaleh Rauf dan Sukmawati ini, rela membagi waktu senggangnya, dengan berjualan kopi.

Diakui, kegiatan berjulan kopi dilakukan pemuda berusia 18 tahun ini, untuk meringankan beban keluarganya.

“ Itu awalnya kan, bolak balik kampung terus, paling pulang minta uang sama orang tua, kasian kan orang tua, terpikirlah bagaimana caranya bisa kurangi beban orang tua, begitu, “ kata Shiddiq saat dijumpai wartawan di taman sport center, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Rabu siang (07/04/2021).

Untuk melancarkan usaha yang digelutinya, Shiddiq memilih berjualan menggunakan sepeda motor, yang telah dilengkapi peralatan sederhana, agar dapat menyiapkan kopi buat pelanggan, “ Kan kalau gerobak sudah banyak, ini beda dengan yang lain, “ akunya sembari tersenyum.

Shiddiq mengaku, ide berjualan kopi berawal dari kebiasannya mengkomsumsi kopi, “ Kebetulan suka kopi, disalurkan saja, “ ujarnya.

Ia mengaku sempat merasa canggung dan malu, saat pertama kali berjualan kopi, “ Awalnya ya malu-malu, agak canggung gitu, ya sudah kenapa malu-malu, inikan positif, keluarga juga mendukung asal tidak mengganggu kuliah. Apalagi kalau ke kampus, teman-teman suka tanyakan mana kopi, akhirnya saya lanjut lagi berjualan, “ terang mahasiswa semester dua jurusan agribisnis di Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) ini.

Agar menarik perhatian, setiap berjualan, Shiddiq menyiapkan beberapa hammcock, yang dapat dimanfaatkan pelanggan untuk bersantai, sembari menikmati kopi di bawah pepohonan, “ Pertama cuman beli satu, biasa teman-teman numpang, bagus ini, terpikir bagus kalau tambah lagi, disediakan begitu, jadi daya tarik, “ terang pemuda berkumis tipis ini.

Menurut Shiddiq, aktifitas berjualan kopi tidak hanya dilakukan di taman sport center, tetapi juga pada sejumlah tempat lain termasuk di kampus, “ Biasanya kalau di kampus, sebelum kuliah jualan dulu, setelah pulang di sini, sport centrer, kalau sore biasa di pantai, “ pungkasnya.

Kendati pendapatan yang diperoleh dari hasil berjaulan kopi tidak seberapa, Shiddiq mengaku bersyukur, kerja kerasnya sedikit bisa meringankan beban keluarga. Ia berharap, konsep usaha kopi menggunakan sepeda motor ini dapat terus dikembangkan, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan setianya.

Kopi racikan Shiddiq dijual dengan harga murah, hanya 5000 rupiah untuk setiap gelasnya. Kendati murah, rasa yang ditawarkan dijamin tidak mengecewakan. (Thaya)

__Terbit pada
07/04/2021
__Kategori
Inspirasi, Sosial