Malang, Nenek Buta dan Gangguan Jiwa di Bumimulyo Hidup Serumah Dalam Belitan Kemiskinan

Malang, Nenek Buta dan Gangguan Jiwa di Bumimulyo Hidup Serumah Dalam Belitan Kemiskinan

WONOMULYO ,- Derita hidup ini, dijalani Saripa (72 tahun) dan Kani (70 tahun), warga Desa Bumimulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.

Sudah belasan tahun, keduanya harus bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan. Selain akibat belitan kemiskinan, kesehatan fisik dan mental keduanya juga sudah mulai terganggu akibat usia.

Sejak sepuluh tahun terakhir, kedua mata Saripa sulit melihat akibat katarak, kendati sudah pernah dilakukan operasi, namun kondisinya tidak jauh berubah, “ Masih sulit melihat nak, apalagi kedua mata saya selalu terasa sangat gatal “ ungkap Saripa dalam bahasa Mandar.

Selian itu, indra pendengaran Saripa juga sudah tidak sepeka dulu lagi, sehingga siapapun yang hendak berkomunikasi dengannya, harus disertai suara yang sedikit besar.

Kondisi tidak jauh berbeda juga dialami Kani, yang sulit diajak untuk berkomunikasi, karena diduga menderita gangguan jiwa.

“ Sudah empat tahun terakhir kondisinya seperti itu, mungkin stress, soalnya kalau malam suka berbicara sendiri “ kata salah seorang tetangga, Darwis, yang mendampingi wartawan berkunjung ke rumah kedua nenek malang ini, Senin (08/04/19).

Tidak jarang, Kani diketahui kerap mengamuk tanpa sebab yang pasti, membuat warga di sekitarnya menjadi ketakutan, “ Kadang tiba-tiba mengamuk tanpa tau penyebabnya, itu sebabnya tidak banyak orang yang mau mendekat karena takut “ sambung Darwis.

Beruntung, saat wartawan berkunjung, Kani yang saat sedang memasak ikan dalam kondisi sehat, namun lebih banyak diam ketika diberi pertanyaan.

Kendati sejak kecil sudah hidup bersama, Saripa dan Kani bukanlah saudara. Mereka tumbuh bersama dalam asuhan orang tua Saripa. Keduanya juga diketahui tidak memiliki sanak saudara dan tidak pernah menikah.

Semasa muda, Saripa dan Kani dikenal sebagai dua sosok wanita yang pekerja keras. Hampir semua pekerjaan dilakukan, baik pekerjaan yang biasanya hanya dilakukan oleh kaum lelaki, “ Keduanya pekerja keras, waktu muda mereka bahu membahu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak hanya bekerja sebagai buruh tani, pekerjaan kaum lelaki seperti mencari nener di laut juga pernah keduanya lakukan “ ungkap Darwis.

Namun seiring berjalannya waktu, Saripa maupun Kani, tidak mampu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Keduanya kini hanya dapat berdiam diri di rumah kayu lapuk yang nyaris ambruk dan yang sudah puluhan tahun menjadi tempat keduanya untuk bernaung dari terik dan hujan, sembari menunggu belas kasih warga yang prihatin dengan kondisinya.

Warga berharap, pemerintah memberi sedikit perhatian, untuk meringankan derita hidup yang dijalani kedua nenek malang ini. (Thaya)

__Terbit pada
08/04/2019
__Kategori
Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *