Pigura Kampoeng Bola di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar,

Bersaing tapi Kompak di Pambusuang “Kampoeng Bola”

M Danial

PAMBUSUANG, salah satu desa di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sejak lama dikenal sebagai kampung santri yang melahirkan banyak ulama. Selain itu, Pambusuang dikenal sebagai kampung penggila bola yang fanatik.

Tak mengherankan, perhelatan sepak bola terakbar di dunia semarak pemasangan dengan bendera peserta Piala Dunia 2022 di depan rumah, di lorong kampung dan sudut jalan, serta berbagai tempat strategis.

Sejak awal November, desa yang berjarak sekira 50 kilometer dari ibukota kabupaten  “disulap” sebagai kawasan penggila bola. Dua pigura sederhana yang terdapat di ujung jalan sebelah utara dan selatan di depan pasar yang merupakan pusat desa Pambusuang dengan tulisan menonjol “Kampoeng Bola”.

Pembuatan pigura dilakukan  secara swadaya para penggila bola sebagai bentuk kegembiraan mereka menyambut pesta sepak bola paling bergengsi se jagad setiap empat tahun.

“Ini bentuk kegembiraan para penggemar bola menyambut Piala Dunia 2022,” jelas Moldi, awal November lalu. Pria 33 tahun itu mengatakan, sudah rutin dilakukan para penggemar bola di Pambusuang setiap perhelatan sepak bola akbar, seperti Piala Eropa atau Copa Amerika.

Antusias warga “kampung bola” Pambusuang tergambar pula pada pernak-pernik Piala Dunia 2022 di berbagai tempat. Terlihat pula dinding atau tembok rumah yang sengaja dicat identik dengan ciri khas tim unggulannya, atau lukisan figur pemain idola pemilik rumah. Menariknya, terlihat pula rumah yang terpasang lebih dari satu bendera, sebagai pertanda penghuninya punya unggulan berbeda terhadap tim Piala Dunia 2022.

“Dalam satu rumah belum tentu (penghuninya) sama unggulannya, makanya sama-sama memasang bendera tim yang diunggulkan. Tidak menjadi masalah, sudah biasa begitu, tapi mereka saling menghargai,” jelas Armaja, 62 tahun. Digambarkan, suami  menjagokan Argentina, istrinya menjagokan Brazil, anaknya mengunggulkan Prancis, maka di rumahnya terpasang tiga bendera.

Ahad 20 November siang, kawasan sekitar pasar di “kampung bola” Pambusuang dipadati ratusan sepeda motor dan sejumlah mobil yang mengawali arak-arahkan menyambut pembukaan Piala Dunia 2022 di Qatar, malam tadi. Peserta arak-arakan termasuk kaum perempuan dan anak-anak, bahkan beberapa pemotor pasangan suami-istri beserta anaknya yang membonceng di depan dan di tengah. Menyusuri jalan  Trans Sulawesi ke arah timur (Wonomulyo) lalu ke arah barat (Tinambung) kemudian berkeliling ke wilayah sekitarnya. Kapolres Polman AKBP Agoeng Budi Leksono melepas secara resmi peserta arak-arahkan tersebut.

Menurut Armaja, warga Pambusuang mulai antusias menyambut Piala Dunia sejak 1986. Para penggila bola ikhlas merogoh kocek untuk berswadaya untuk berbagai keperluan, termasuk untuk acara nonton bareng yang digelar terpusat maupun di beberapa tempat.

“Kita di sini selalu kompak, yang penting bagaimana Piala Dunia ramai biarpun melihat melalui televisi. Tapi, biarpun kita sebagai penonton punya unggulan berbeda-beda, kita tetap bersaing sehat. Saat menonton saling meledek, tapi setelah itu selesai lagi. Tidak pernah ada pertentangan karena unggulan beda soal piala dunia, begitupun kalau piala Eropa atau Copa Amerika,” tutur Armaja.

Semangat para penggila bola di “kampung bola”, merupakan contoh pembelajaran bersaing tapi persaudaraan dan kekompakan tetap terpelihara. (*)

__Terbit pada
20/11/2022
__Kategori
Opini