
Berawal dari Hobi, Pemuda di Mamasa Sukses Budidaya Anggrek Omset Jutaan
MAMASA,- Pemuda bernama Anto (28 tahun) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, berupaya menjaga kelestarian tanaman anggrek di hutan dengan melakukan proses budidaya. Kegiatan yang awalnya ditekuni sebagai hobi karena mengagumi keindahan tanaman berbunga cantik ini, kini menjadi ladang usaha yang mendatangkan jutaan rupiah perbulan.
“Awalnya saya jalan-jalan ke hutan diajak sama teman sambil cari anggrek, setelah saya lihat bunga anggrek disitu saya tertarik, karena bunganya benar-benar bagus dan istimewa, itu yang membuat saya tertarik untuk merawat anggrek,”kata Anto saat dijumpai wartawan, Jumat (14/10/2022).
Budidaya tanaman anggrek digeluti Anto sejak tahun 2018 lalu. Proses budidaya dilakukan dalam green house memanfaatkan sepetak lahan kosong dekat rumahnya di Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa.
Untuk mengembangkan proses budidaya anggrek yang ditekuninya, anak kedua dari empat bersaudara pasangan Satti (50 tahun) dan Marten (51 tahun) sempat nekat meminjam uang di Bank.
“Awalnya green house saya bangun menggunakan bambu, ukurannya 6×4 meter saja, setelah itu saya nekat pinjam modal di bank sebanyak sepuluh juta rupiah, untuk membangun green house yang lebih baik dengan ukuran 7×5 meter,”ungkapnya.
Green House tempat Anto membudidayakan tanaman anggrek.
Menurut Anto, kegiatan budidaya yang ditekuni telah membawa perubahan besar baginya. Apalagi, dirinya sempat dikenal sebagai sosok pemuda yang suka keluyuran dan kerap terlibat masalah sosial, lantaran tidak memiliki pekerjaan jelas.
“Dulu saya tidak punya pekerjaan tetap, pikiran masih mau bebas, tidak berfikir masa depan, kerjanya keluyuran, Alhamdulillah sekarang saya bisa berubah 99 persen, bisa lebih fokus dan sudah punya kegiatan tetap yang positif, saya merasa punya masa depan dari hasil menggeluti anggrek,”tutur pria yang hanya menamatkan pendidikan di bangku SMP ini.
Anto menyebut, dari hasil budidaya anggrek yang telah ditekuninya mampu menghasilkan jutaan rupiah perbulan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemasarannya dilakukan secara offline hingga online yang menjangkau sejumlah daerah besar di Indonesia.
“Kalau omset tidak menentu juga, rata-rata dua juta sampai tiga juta perbulan,”bebernya.
“Pemasarannya biasa offline, biasa online, kalau online itu biasa ke jawa dan bali,”sambung Anto bangga.
Salah satu jenis anggrek yang dibudidayakan Anto.
Diakui Anto, dalam green house miliknya saat ini, terdapat sedikitnya 50 jenis anggrek endemic khas Mamasa. Dirinya menyebut, memilih melakukan proses budidaya ketimbang terus mencari dan mengambil tanaman anggrek langsung di hutan, demi menjaga kelestarian anggrek di alam.
“Kalau kita ambil di hutan terus, anggrek bisa terancam habis, jadi kita harus terus berupaya melakukan budidaya, agar kelestarian anggrek di alam dapat terjaga,”pungkasnya. (Thaya)

