M Danial. (doc)

Haji Meong….!!!

Oleh M Danial

SETIAP menjelang hari raya Idul Adha. Yang bersamaan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci. Identik dengan pertambahan jumlah umat Islam. Telah menunaikan rukun Islam kelima. Yang identik dengan gelar haji bagi umat Islam Indonesia.

Sudah dua tahun pandemi covid-19. Melanda hampir seluruh belahan dunia. Sudah dua tahun pula musim haji berlalu. Sudah dua tahun tidak ada pertambahan jumlah umat Islam Indonesia yang menyandang gelar haji. Sebagai penanda telah menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Kembali ke Tanah Air menyandang gelar haji. Gelar yang menjadi kebanggaan tersendiri. Karena secara lahiriah telah melaksanakan semua rukun Islam.

Menunaikan ibadah haji di Tanah Suci adalah kerinduan setiap umat Islam. Lalu kembali dengan selamat ke Tanah Air. Selain membawa aneka macam ole-ole Tanah Suci. Sejatinya juga disertai perubahan sifat, karakter, dan perilaku menjadi lebih baik. Menjauhi perbuatan dosa. Merugikan orang lain. Mengambil yang bukan haknya karena keserakahan. Sayangnya, gelar haji bagi sebagian orang tidak lebih dari sekedar formalitas. Yang seharusnya disadari sebagai beban moral. Selalu menjaga makna gelar haji dengan perilaku terukur dan bermanfaat. Agar tidak menodai predikat sebagai haji.

Saya tetiba teringat cerita dongeng. Kucing Naik Haji. Alkisah, seekor kucing yang baru pulang haji. Mengikrarkan dirinya sudah bertobat. Tidak akan mengganggu sesama hewan. Ia berjanji juga tidak lagi akan memburu tikus, mangsa utamanya. Semua lega, menyambut gembira ikrar haji kucing. Satu-persatu tikus pun mulai memberanikan diri. Percaya diri bergaul dengan kawanan kucing.

Sempat terjadi diskusi seru sesama tikus. Soal janji yang diikrarkan haji kucing akan merubah kebiasaan lamanya. Sebagian percaya, sebagian meragukan. Malah mencibir. Usulan votingpun muncul. “Supaya jelas siapa yang percaya, dan siapa dan yang tidak mau dikibuli,” muncul saran penengah. “Ada benarnya juga, supaya jangan ada saling menyesali di antara kita, karena ada yang terpikat gelar haji disandang si kucing,” kata pendukung voting. Yang percaya, berusaha meyakinkan bahwa predikat haji adalah beban moral. Harus ditunjukan dengan perubahan perilaku menjadi lebih baik. Ia mencontohkan bangsa manusia. “Bangsa manusia, kan seperti itu. Setelah bergelar haji, sifat dan perilakunya selalu terjaga. Karena menyadari bergelar haji bukan main-main.”

Seiring waktu, kebiasaan lamanya kambuh. Sifat dan tabiat kucing kembali seperti sebelumnya. Syahwat menerkam tikus kembali menjadi-jadi. Bahkan makin ganas. Mungkin gegara salah paham. Merasa sebagian dosanya sudah terhapus setelah berhaji. Bisa bikin dosa baru lagi. Begitulah, kucing sebelum dan setelah bergelar haji, tetap saja mengeong. Ya, itulah haji meong. Hehehe.

Selamat merayakan Idul Adha 10 Zulihijjah 1442 H. (*)

__Terbit pada
19/07/2021
__Kategori
Opini