SULBAR  SIAPA “LAWAN TANDINGNYA”

Legislativ Corner

Usman Suhuriah
Wakil Ketua DPRD Sulbar/Fraksi Golkar

Kickoff adalah sebuah istilah yang dipakai dalam dunia sepakbola. Istilah ini dipakai untuk menandai sebuah laga saat pertama kali wasit meniup pluit dan tendangan awal telah dilakukan.  Maka permainan sepak bola pun dimulai.

Yang namanya Kickoff, seluruh pihak yang ada dalam tim baik pemain sepak bola, pelatih, manajer secara otomatis akan bertanggungjawab pada posisinya masing-masing. Hasil dari tanggungjawab masing-masing ini akan menentukan apakah permainan akan menarik untuk ditonton, akan menunjukan penampilan terbaiknya. Dan paling ditunggu adalah apakah hasilnya akan menang, kalah, atau imbang.

Perumpaan yang dicatatkan di atas adalah sama dalam manajemen pengelola pemerintahan. Terhadap pengelola pemerintahan di provinsi Sulawesi Barat dimana seluruh pihak bertanggungjawab pada perannya masing-masing. Kondisi kedaerahan akan ditentukan oleh pihak yang memiliki tanggungjawab, kemudian akan diikuti oleh partisipasi masyarakat.

Bila menghendaki adanya kemajuan, adanya perbaikan pengelolaan atas masalah-masalah yang dihadapi, maka kerjasama nyata dari seluruh pihak akan menentukan proses penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi daerah ini.

Bahwa sejauh ini tentu saja belum sepenuhnya memperlihatkan kemajuan-kemajuan, belum memperlihatkan kerjasama tim yang kuat. Sehingga sejauh ini strategis atau sebagai solusi yang ditempuh cenderung bekerja sendiri-sendiri, cenderung tambal sulam. Sementara yang diperlukan adalah solusi menyeluruh (once for all solution).

Memperhatikan itu, maka akan terus dilihat bagaimana strategi yang akan diterapkan dalam rangka merebut keberhasilan (kemenangan) dalam laga menghadapi masalah-masalah di lapangan. Ditambah dengan target kemenangan yang ditetapkan, bagaimana agar hal-hal tersebut tidak meleset.

Yang akan diperhatikan  apakah terdapat kunci strategi sebagai cara merebut kemenangan yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan. Mengatasi rendahnya income/pendapatan daerah sehingga dari sisi pemeringkatnya yang diterima selama ini dapat bergeser dari status “bontot” diantara seluruh provinsi untuk sisi pendapatan asli daerah (PAD).  Begitu juga hal lain dengan pemeringkat pada angka kemiskinan, daya saing daerah, ketimpangan pendapatan, angka kematian ibu dan bayi, kondisi IPM yang buruk, prosentase anggaran publik yang memprihatinkan, inprastruktur belum merata, dst, yang pada esensinya merupakan masalah-masalah  yang ada dalam lapangan.

Demikian halnya dengan kenyataan-kenyataan yang sifatnya kwalitatif ketika daerah belum mendapatkan kebanggaan yang berarti (dignity) di forum antar kawasan (sesama provinsi) hanya karena belum menunjukan penampilan yang baik.  Jelas menimbulkan rasa agak malu ?

Terhadap masalah yang tampil dalam pemeringkat dan fakta yang informasinya telah diketahui masyarakatnya secara luas, ditambahkan dengan “kekalahan” bersifat psikis kolektif karena belum  sama sekali bisa merebut kebanggaan, jelas merupakan lapangan masalah dan sebagai lawan tanding di lapangan.

Sebagai lawan tanding maka memerlukan upaya untuk dapat mengatasinya, selain dapat mengurai benangkusut permasalahannya. Dari sini masyarakat menanti bagaimana strategi jitu para pemangku kepentingan baik untuk sasaran jangka pendek maupun dengan sasaran jangka panjang. Masyarakat ingin para pemangku kepentingan, para para manajer, para pemain dalam birokrasi melakukan itu dengan langkah-langkah kunci dan bila diperlukan terdapat langkah tambahan sekalipun dengan resiko.

Masyarakat beranggapan atau dengan mengasosiakannya sebagai penonton/pendukung tim oleh sebab masalah-masalah yang dihadapi adalah penghambat kemajuan. Masalah-masalah yang disebutkan akan menentukan hak-haknya di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan hak dasar lainnya tidak akan terlayani dengan baik bila masalah-masalah tersebut tidak dapat diatasi.

Menemukan siapa lawan tanding daerah ini adalah sebuah nama tentang bagaimana para manajer, para pemangku kepentingan benar-benar menempatkan masalah sebagai lawan tandingnya.  Demikian pun menghadapi lawan tandingnya dituntut untuk sanggup menguraikan kompleksitas masalahnya. Kemampuannya untuk membaca deretan permasalahan dan menemukan titik lemah atas permasalahannya sebagai pintu masuk yang dapat menentukan penyelesaian masalah secara efektif.

Illustrasi Sulbar siapa lawan tandingnya ? akan mengerahkan posisi pikiran kita bahwa ketika daerah mulai berdiri sebagai provinsi tersendiri, saat masa jabatan pelantikan kepala daerahnya dan para pejabat ditetapkan sebagai para pihak dan masyarakat berada dalam momentum itu, maka merupakan illustrasi bahwa daerah ini sudah kickoff dan pluit perjuangan sudah lama dimulai. Tinggal terus akan dilihat apakah hasilnya akan menang, imbang ataukah daerah ini akan terus-terus kalah ?

__Terbit pada
08/06/2021
__Kategori
Opini, Parlemen