Persoalan Sampah di Polman, Senator Ajbar Ultimatum Pemkab segera Selesaikan

WONOMULYO,- Sudah lebih sepekan, persoalan sampah menjadi masalah baru yang dirasakan semua warga di Kabupaten Polewali Mandar. Betapa tidak, penumpukan sampah terjadi di mana-mana, hingga menimbulkan masalah sosial.

Seperti yang terlihat di Jalan Padi Unggul, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo. Tumpukan sampah yang menggunung dan menutup badan jalan pada sejumlah titik, tidak hanya menimbulkan bau busuk tetapi juga menyebabkan kemacetan arus lalu lintas.

Untuk mengurangi tumpukan sampah yang meresahkan ini, puluhan warga turun tangan mengumpulkan sampah, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik yang disiapkan secara swadaya.

Menanggapi masalah ini, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Barat Ajbar Abdul Kadir, menyampaikan ultimatum kepada Pemkab Polman, agar segera mengambil langkah dan serius menangani masalah ini, “ Ini ultimatum buat pemerintah daerah, kapan lebih dari empat hari, saya tidak mau bilang jangan sampai kantor-kantor kita jadi tempat pembuangan sampah rakyat, “ kata Ajbar kepada wartawan, saat membersihkan tumpukan sampah di Jalan Padi Unggul, Sabtu sore (05/06/2021).

Bersama sejumlah warga, Ajbar mengaku tengah berusaha menangani persoalan sampah ini. Salah satunya dengan memindahkan sampah, ke lahan kosong milik warga. Diakui, pemanfaatan lahan kosong milik warga sebagai tempat penampungan , bersifat sementara selama empat hari, “ Karena ini betul-betul sementara, itu kawasan pemukiman, bukan untuk jangka panjang, hanya empat hari, kalau, lebih baunya akan lebih menyengat dari apa yang kita rasakan saat ini, “ ungkapnya.

Selain itu, Ajbar juga berharap, agar warga menyiapkan kantong plastik, sebagai tempat penampungan sementara. Warga diminta tidak membuang sampah sembarangan, “ Saya berharap, karena tidak adanya TPA sekarang ini, minimal warga menyiapkan bingkisan (kantong plastic) seperti ini, sampah jangan dibuang kemana-mana, biar petugas yang ambil, Padi unggul ini bukan tempat pembuangan sampah,” tandas mantan anggota DPRD Sulawesi Barat ini.

Sementara itu, Camat Wonomulyo Asrul Ambas mengungkapkan, jika masalah TPA (Tempat pembuangan akhir) tidak segera tangani, ia khawatir dalam waktu dekat Kecamatan Wonomulyo akan dipenuhi tumpukan sampah, “ Iya, bahkan dalam waktu dekat, ratusan ton sampah bisa menumpuk di sini jika tidak segera tertangani, “ ungkapnya.

Menurut Asrul, pada waktu normal, ada sebanyak 15 ton sampah rumah tangga yang dikumpulkan petugas, untuk dibawa ke TPA, “ Rata-rata kita membuang lima container perhari, satu container itu tiga ton lebih, jadi kurang lebih 15 ton perhari, jadi kalau tertunda membuang kesana selama 4 hari, sama dengan menumpuk sampah di sini sampai 60 ton, dan jika kita tertunda satu minggu, maka akan menggunung sudah ratusan ton sampah yang ada di Wonomulyo,” bebernya.

Diakui, pemerintah Kecamatan Wonomulyo menghadapi sejumlah kendala, dalam menangani sampah di daerah ini. Keterbatasan anggaran salah satunya, “ Kalau sarana dan prasaran cukup, tinggal anggaran yang perlu ditambah dan juga tenaga. Tenaga sampah, tenaga pengangkut dan tenaga penjemput di lorong-lorong itu yang perlu ditambah, “ terang Asrul.

Namun demikian, Asrul memastikan, dalam waktu dekat masalah sampah di daerah ini dapat tertangani, “ Saya yakin, Insya Allah sudah dibuka, karena saya kira pemerintah dalam hal ini bapak Bupati akan segera mengambil keputusan, “ pungkasnya.

Berdasarkan pantauan wartawan, tumpukan sampah di Jalan Padi Unggul yang telah dimasukkan dalam kantong plastik, dipindahkan sementara pada salah satu lahan kosong di sekitar pemukiman warga.

Proses pemindahan sempat mengundang reaksi keras dari warga sekitar. Mereka menolak, kawasan sekitar tempat tinggalnya dijadikan tempat pembuangan sampah. Untuk mencegah timbulnya bau busuk, tumpukan sampah yang telah dipindahkan, ditutup menggunakan terpal berukuran raksasa.

Polemik tentang sampah di Kabupaten Polewali Mandar mulai terjadi, ketika akses jalan menuju Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) sampah di Desa Paku, Kecamatan Binuang, diblokade warga setempat, sebagai bentuk penolakan daerah mereka menjadi tempat pembuangan sampah.

Warga mendesak pemerintah menutup TPA tersebut, lantaran keberadaannya dianggap merugikan warga setempat karena telah mencemari lingkungan. (Thaya)

 

__Terbit pada
05/06/2021
__Kategori
Sosial